Lokakarya penentuan draft zonasi Taman Nasional Lorentz



Posted on 03 March 2010  | 
© WWF-Indonesia/Lie Tangkepayung Enlarge
Embargo: 03 Maret 2010

Jayapura, 03 Maret 2010 – Sejak ditunjuk sebagai Taman Nasional oleh Menteri Kehutanan melalui surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 154/Kpts-II/1997 dan dinominasikan sebagai Situs Warisan Dunia WHC/74/409.1/NI/CS, Taman Nasional Lorentz telah dikenal sebagai kawasan perlindungan keanekaragaman hayati. Namun hingga saat ini taman nasional ini belum memiliki sebuah rancana pengelolaan dan termasuk di dalamnya pembagian zona taman nasional. Setelah reformasi dan desentralisasi dimana kewenangan pemerintah pusat banyak diberikan ke daerah, maka “ancaman” terhadap kawasan Lorentz semakin meningkat.

Meningkatnya tekanan adan ancaman terhadap kawasan Taman Nasional Lorentz disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya tumpang tindih dalam tata ruang, kegiatan pertambangan, konflik kepentingan dalam pengelolaan kawasan, dan sebagainya. Salah satu yang penting dan mendesak adalah “Pemekaran kabupaten di sekitar dan di dalam kawasan”. Saat ini telah ada 9 kabupaten yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Lorentz bahkan kabupaten Nduga, wilayahnya 80% berada di dalam kawasan.

Kepala Balai Taman Nasional Lorentz, Ir. Yunus Rumbarar dalam laporannya sebagai ketua panitia penyelenggara memaparkan tujuan utama dari lokakarya penentuan zonasi ini yaitu untuk menentukan draft zonasi di dalam Taman Nasional Lorentz dan untuk mendapatkan kesepakatan bersama para stakeholder untuk penyusunan rencana pengelolaan Taman Nasional Lorentz kedepan. Lebih lanjut disampaikan terimakasih kepada para undangan dan harapannya bagi proses lokakarya pada hari ini dan besok agar tercapainya tujuan lokakarya ini.

Kepala Sub Direktorat Informasi Konservasi Alam Ir. Agus Harianta, M.Sc mengatakan bahwa terdapat 27 juta Taman Nasional di seluruh Indonesia. Pembangunan dan pengelolaan taman nasional tidak terpisahkan dari pembangunan daerah disekitarnya sehingga taman nasional haruslah dikelola berdasarkan landasan yang kokoh, diantaranya adalah melalui penentuan zona-zona. Harapan kami agar hasil lokakarya ini dapat ditindaklanjuti hingga ditingkat pusat sehingga dapat ditindaklanjuti ditingkat pusat.

Asisten I Bidang Pemerintahan atas nama Gubernur Provinsi Papua Drs. Elieser Renmaur dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan lokakarya menyampaikan bahwa pembangunan di Papua haruslah berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan yang berkesinambungan dan ramah lingkungan karena kita tidak mau bencana alam yang terjadi di tempat lain seperti bencana banjir di Jakarta juga terjadi di Papua. Lebih lanjut atas nama pemerintah provinsi Papua menyampaikan terimakasih kepada panitia penyelenggara dan seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan ini termasuk para perwakilan dari kesepuluh kabupaten yang hadir dalam kegiatan ini.

Dalam dokumen Rencana Strategis Lorentz 2007 – 2012, yang dibuat oleh UNESCO dan Dirjen PHKA (April, 2006 : 11 dan 50), salah satu tujuan Utama Proyek Lorentz adalah mempersiapkan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Lorentz (RPTNL), termasuk didalamnya penentuan zonasi, antara lain : zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan intensif (seperti zona rekreasi, dll), dan zona pemanfaatan lain (zona pemanfaatan tradisional, dll).

Berdasarkan rencana strategis itu, maka WWF Indonesia Region Sahul Papua – Site Lorentz bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Lorentz dan Tim Kolaborasi TN Lorentz melakukan Workshop Penentuan Draft Zonasi Lorentz, dengan mengundang Kepala-Kepala BAPPEDA dari 10 kabupaten di sekitar taman Nasional Lorentz dan narasumber yang paham mengenai kondisi kawasan terutama sosial ekonomi masyarakat dan keanekaragaman hayati di Lorentz.

Peserta workshop ini berjumlah 62 orang berasal dari Dirjen PHKA, Balai TN Lorentz, 10 BAPPEDA kabupaten, 10 Kepala Dinas Kehutanan & Perkebuanan di sekitar Lorentz, Dinas Kehutanan & Konservasi Papua, PSDALH, Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih dan Universitas Negeri Papua NIPA Manokwari, Pengembangan masyarakat PT Freeport dan Tim Kolaborasi Lorentz.

Dokumen zonasi yang dihasilkan dari workshop ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi unit Pelaksana Teknis, Balai Taman Nasional Lorentz untuk menyusun dokumen Rencana Pengelolaan Taman Nasional Lorentz (RPTN Lorentz) berdasarkan Rencana Strategis yang dibuat UNESCO dan Dirjen PHKA pada Tahun 2006.

##selesai##

Catatan untuk editor:

  1. Tentang WWF-Indonesia
    WWF, sebuah organisasi konservasi, dengan misi menghentikan perusakan lingkungan alami di planet bumi dan untuk membangun masa depan dimana manusia hidup secara harmonis dengan alamnya, melalui perlindungan keanekaragaman hayati, memastikan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari, dan mempromosikan pengurangan polusi dan penggunaan sumber daya secara berlebihan. WWF bekerja di lebih dari 90 negara dan didukung oleh hampir 5 juta pendukung di dunia. WWF mulai bekerja di Indonesia tahun 1962. Untuk informasi lebih jauh tentang WWF, kunjungi www.wwf.or.id atau www.panda.org

Informasi lebih lanjut:

  • Benja V. Mambai, WWF-Indonesia Region Sahul Director.
    Tlpn : +62 967 593840 Fax: +62 967 593815 email : bmambai@wwf.or.id
  • Ir. Yunus Rumbarar, Kepala Balai Taman Nasional Lorentz.
    Tlpn : +62 969 34098 Fax : +62 969 34098 Email : tn.lorentz@gmail.com
  • Karel Wamafma, Act. Manager Lorentz WWF-Indonesia Region Sahul.
    Handphone : +62 81248784516 Email : kwamafma@wwf.or.id
© WWF-Indonesia/Lie Tangkepayung Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus