Dua ekor gajah jantan mati di kawasan perambahan di Tesso Nilo



Posted on 29 March 2010  |   |  en  |  id
Oleh: Syamsidar

Riau (29/03)-Dua ekor bangkai gajah ditemukan di Taman Nasional Tesso Nilo pada Minggu, 28 Maret 2010. Laporan ditemukannya satu ekor gajah jantan mati pertama kali diterima dari masyarakat oleh Tim Flying Squad dan Balai TNTN pada Sabtu sore. Tim kemudian menyusuri lokasi kejadian dan pada malam harinya menemukan seekor bangkai gajah jantan. Ketika dilakukan penyusuran di tempat kejadian perkara, satu ekor bangkai gajah jantan lain ditemukan di sekitar lokasi kejadian. Gading sebelah kiri bangkai gajah pertama sudah tidak ada lagi karena dipotong, sementara gading pada bangkai gajah kedua masih utuh.

Tim yang terdiri dari Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam Riau, Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Kepolisian Sektor Ukui segera melakukan penyelidikan di lokasi kejadian.. Melihat dari kondisinya, dua bangkai gajah tersebut diperkirakan telah mati dalam waktu seminggu. Untuk proses penyelidikan lebih lanjut, tiga batang gading yang ditemukan di lokasi diamankan oleh petugas kepolisian. Sementara itu, beberapa sampel organ diambil untuk keperluan penyelidikan di laboratorium.

Dua ekor gajah jantan yang diperkirakan berumur 6 atau 7 tahun ini ditemukan mati di salah satu lokasi perambahan di dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo sebelah Tenggara. Di sekitar lokasi kejadian ditanami pohon sawit. Dari hasil olah TKP diduga kematian gajah tersebut karena konflik dengan perambah yang ada di Taman Nasional Tesso Nilo tersebut. Masyarakat beranggapan gajah adalah hama dan seringnya mereka melakukan penanganan dengan cara mereka sendiri yang akhirnya berakibat mencelakai gajah. Di beberapa kejadian masyarakat melakukan pengamanan kebun sawitnya terhadap gangguan hama dengan memberikan racun di sekitar kebun mereka. Pihak berwenang tengah mengembangkan penyelidikan terhadap kasus ini termasuk mencari penyebab kematian dua ekor gajah ini.

 

Penegakan hukum terhadap kematian gajah sebagai satwa dilindungi baik karena konflik atau pun perburuan harus diintensifkan untuk menumbuhkan efek jera kepada pelaku atau yang lainnya. Dari catatan WWF, dalam 5 tahun terakhir baru terjadi satu kali proses penegakan hukum terhadap kematian gajah tepatnya pada tahun 2005. Satu orang pemburu gading gajah yang tertangkap tangan di Mahato, Kabupaten Rokan Hulu dihukum dengan vonis 12,5 tahun penjara. Sementara itu dari 2005 hingga kini, sebanyak 52 ekor Gajah Sumatera di Riau telah mati baik karena konflik atau perburuan.

Perlindungan habitat gajah yang tersisa di Riau harus segera diupayakan. Sembilan kantong gajah yang tersisa di Riau kini mengalami permasalahan yang sama yaitu degradasi dan fragmentasi. Habitat yang dulunya luas dan memiliki ketersambungan antara blok hutan yang satu dengan yang lain kini semakin menyempit karena alih fungsi lahan untuk perkebunan dan pemukiman. Dari sembilan kantong yang tersisa tersebut blok hutan Tesso Nilo merupakan salah satu habitat yang layak dipertahankan untuk jangka panjang.

Di blok hutan Tesso Nilo yang terdiri dari Taman Nasional Tesso Nilo dan daerah sekitarnya terdapat dua kantong habitat gajah yang saat ini menampung sekitar 200 ekor gajah Sumatera. Kawasan ini direncanakan menjadi contoh Pusat Konservasi Gajah seiring dengan adanya Peraturan Menteri Kehutanan No P.54/Menhut-II/2006 jo No P.73/ Menhut II/ 2006 tentang Ditetapkannya Provinsi Riau sebagai Pusat Konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Untuk mewujudkan cita-cita ini tentu pengamanan Tesso Nilo dari perambahan harus menjadi prioritas sehingga diharapkan konflik manusia-gajah di daerah tersebut dapat minimal.

Taman Nasional Tesso Nilo dengan luas 83.000 ha kini tengah mengalami ancaman degradasi karena perambahan. Seluas 28.600 ha lahan di kawasan hutan tersebut telah dirambah dan dialihfungsikan menjadi kebun kelapa sawit atau pemukiman. Komitmen dan kerjasama dari pemangku kepentingan untuk menangani perambahan di kawasan ini sangat diperlukan.

Bangkai gajah yang ditemukan mati di TNTN
© WWF-Indonesia/Syamsuardi Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus