Langkah penting menuju pengelolaan TN Lorentz yang berkelanjutan



Posted on 28 November 2010  | 
Oleh: Lie Tangkepayung

Jayapura, 25 November 2010 – Penyusunan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Lorentz dilakukan secara bertahap dan komprehensif diawali dengan serangkaian kajian lapangan dan pertemuan-pertemuan awal dalam rangka konsultasi publik tentang penyusunan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Lorentz (RPTN Lorentz). Zonasi kawasan sebagai salah satu syarat dalam pengelolaan taman nasional juga disusun berdasarkan masukan dari pemetaan partisipatif bersama masyarakat dan analisis terhadap kondisi biofisik dan sosial budaya kawasan. Berdasarkan zonasi tersebut selanjutnya disusunlah draft dokumen RPTN Lorentz melalui analisis proyeksi-proyeksi berdasarkan kondisi spesifik ekologi dan sosial budaya masyarakat yang berada di dalam dan di luar kawasan.

Melalui rangkaian proses tersebut diharapkan dapat dihasilkan dokumen RPTN Lorentz yang bersifat akomodatif dan terintegrasi dengan rencana pembangunan wilayah, sehingga pengelolaan kawasan Taman Nasional Lorentz yang berkelanjutan sesuai dengan fungsi penetapannya dapat berjalan optimal.

Selanjutnya untuk mensosialisasikan draft RPTN Lorentz kepada ke-10 pemerintah kabupaten dalam kawasan dan stakeholder terkait lainnya, diadakan Lokakarya Rencana Pengelolaan Taman Nasional Lorentz Tahun 2010-2029, selama tiga hari dari tanggal 23 hingga 25 November 2010 di Jayapura. Lokakarya ini juga bertujuan untuk mensinkronisasikan perencanaan pembangunan dalam kawasan Taman Nasional Lorentz antara para pihak yang berkepentingan dengan pengelola kawasan (Balai Taman Nasional Lorentz), serta tersusunnya Rencana Strategis Taman Nasional Lorentz untuk 5 tahun kedepan.

 

Lokakarya ini dihadiri oleh 50 orang peserta mewakili pemerintah kabupaten di dalam wilayah Taman Nasional Lorentz, perwakilan lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta dan perwakilan masyarakat adat serta pihak berkepentingan lainnya.

© John RATCLIFFE / WWF-Canon Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus