WWF bangun radio komunitas di Gunung Mas, Kalteng



Posted on 26 February 2012  | 

Oleh Masayu Yulien Vinanda


Palangkaraya (27/02)-Sulitnya akses di sejumlah desa di kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah menyebabkan informasi menjadi barang mahal bagi masyarakat di desa tersebut. Sebagai upaya menjembatani kesenjangan informasi itu, WWF-Indonesia Program Muller-Schwaner membangun radio komunitas “Sandukui FM” di desa Tumbang Napoi, Kecamatan Miri Manasa, kabupaten Gunung Mas. Media populer komunitas itu mulai mengudara pada awal Januari 2012 dengan frekuensi 102 FM.


Nama “Sandukui” sendiri diambil dari nama sebuah bukit di pegunungan Muller. Dengan pemancar berkekuatan 100 watt, radio komunitas tersebut diharapkan mampu menjangkau tiga desa di kabupaten Gunung Mas yakni Rangan Hiran, Mesukih, dan Harowu. Namun kondisi geografis di tiga desa itu yang letaknya berjauhan dan berbukit-bukit menjadi kendala utama dalam memperkuat jangkauan siar. Desa Harowu yang terletak paling ujung hingga kini belum mampu menikmati sajian program Sandukui FM.


“Rencana ke depan, kami akan memperkuat pemancar hingga 300 watt. Harapannya, desa Harowu dapat pula mendapat akses informasi yang cukup memadai, seperti dua desa lainnya Rangan Hiran dan Mesukih. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan informasi, tetapi Sandukui FM juga diharapkan dapat menjadi media efektif untuk edukasi lingkungan,” jelas Koordinator Komunikasi WWF Kalimantan Tengah Nina Nuraisyiah.


Masyarakat desa Tumbang Apoi menyambut antusias kehadiran radio komunitas “Sandukui FM.” Kelompok pemudi desa tersebut bersemangat mengikuti pelatihan radio broadcast dari WWF-Indonesia dan mitra Jaringan Komunikasi Kalimantan Tengah, mulai dari teknik siaran hingga bagaimana memproduksi program atau materi siar.


“Masyarakat sangat mendukung. Penyiar-penyiarnya pun sangat antusias untuk siaran. Mereka memiliki inisiatif tinggi untuk belajar teknik siaran dan menyusun program. Mereka berdiksusi menentukan program-progam apa saja yang mereka inginkan dan sekiranya dibutuhkan oleh masyarakat desa. Untuk penyiar kami tidak menemui kendala sama sekali. Mungkin hanya sedikit tata bahasa saja yang kurang pas karena logat daerah yang masih kental,” jelas Pembina Penyiaran Radio Sundukui FM, Erwan Asbun.


Saat ini, radio crew yang sudah terbentuk masih mengembangkan program dan materi siar didampingi staf komunikasi WWF Kalimantan Tengah. Setiap harinya, Sandukui FM mengudara sejak pukul 6 hingga 9 pagi, dan pukul 5 sore hingga 9 malam. Durasi siar diatur sedemikian rupa mengingat sumber listrik yang digunakan sepenuhnya mengandalkan tenaga surya. Jadi ketika matahari sedang bersinar terik, saat itulah daya listrik dikumpulkan untuk bisa bersiaran pada sore hingga malam harinya. Jika cadangan listrik masih memadai, Sandukui FM dapat melanjutkan siaran keesokan harinya.


Radio Sandukui FM bukanlah radio pertama yang diinisiasi oleh WWF Kalimantan Tengah. Lebih dari setahun yang lalu, WWF telah membangun dua radio komunitas lainnya yakni “Mendawai FM” di Kabupaten Katingan dan “Sebangau Kuala FM” di TN. Sebangau.


“Selain mendorong masyarakat lokal untuk memproduksi program radio mereka masing-masing, tim komunikasi WWF Kalteng juga mengembangkan beragam program radio baik itu PSA, sandiwara radio, dan lainnya sebagai media penyampai pesan lingkungan. Materi siar tersebut nantinya akan disiarkan di tiga radio komunitas yang ada di Kalimantan Tengah. Harapannya, dengan semakin diterimanya keberadaan radio komunitas, upaya penyadartahuan lingkungan pun dapat lebih efektif,” pungkas Nina.

© WWF-Indonesia/Saipul Siagian Enlarge
© WWF-Indonesia/Saipul Siagian Enlarge
© WWF-Indonesia/Masayu Y.Vinanda Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus