Langkah penting menuju perkebunan kelapa sawit berkelanjutan di Kalimantan Timur



Posted on 28 June 2012  | 

Samarinda, Kalimantan Timur – Sekitar 40 orang penyuluh perkebunan dan petani kelapa sawit dari 10 Kabupaten di Kalimantan Timur berkumpul untuk mengikuti pelatihan tentang Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT-High Conservation Value Area) di kawasan Jantung Borneo (Heart of Borneo/HoB).7 kabupaten diantaranya terletak di wilayah HoB yakni Nunukan, Malinau, Kutai Barat, Bulungan, Berau, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur). Sementara 3 kabupaten lainnya adalah Paser, Panajam Paser Utara, dan Tana Tidung). Pelatihan diselenggarakan di Samarinda pada 26-28 Juni 2012 dan merupakan kerjasama antara Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, Pokja HoB Kalimantan Timur, dan WWF-Indonesia.


Selama tiga hari, para peserta mendapatkan materi tentang kawasan bernilai konservasi tinggi, mitigasi konflik manusia dengan satwa liar, serta praktik lapangan. KBKT sendiri sudah ditetapkan sebagai salah satu instrumen yang wajib dilakukan dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 19 Tahun 2011 tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. KBKT tidak hanya diterapkanuntuk perusahaan, tetapi juga direncanakan untuk dilakukan oleh perkebunan skala kecil yang dikelola petani kelapa sawit. Selain itu, dalam forum multi pihak untuk mendorong pertumbuhan dan penggunaan minyak sawit yang lestari atau RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), KBKT juga merupakan salah satu instrumen yang dilakukan dalam pengelolaan kebun kelapa sawit.


Pada hari terakhir pelatihan, peserta melakukan praktik identifikasi kawasan bernilai konservasi tinggi (HCV) di Hutan Pendidikan Universitas Mulawarman (Unmul, Samarinda). Disana peserta penyuluh dan petani sawit masuk kedalam hutan dan mengidentifikasi tumbuhan, satwa dan tanda-tanda keberadaan satwa yang ada yang ada di dalam hutan sebagai indikasi dari HCV, termasuk keberadaan sungai sebagai sumber air.


Peraturan Menteri tentang perkebunan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia merupakan upaya pemerintah untuk mendorong implementasi kaidah-kaidah sawit berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek ekologi, jasa lingkungan, dan sosial budaya. Pembukaan kebun sawit di Kalimantan Timur masih banyak yang belum menerapkan kaidah tersebut. Akibatnya, dampak lingkungan dan sosial budaya pun tak mampu dihindari. Kelestarian hutan dan spesies-spesies yang hidup di dalamnya terancam. Belum lagi konflik sosial budaya yang muncul mengingat tersebarnya masyarakat adat yang memiliki kawasan adat berupa hutan.


Ir. Yus Alwi Rahman, M.Si dari Dinas Perkebunan mengatakan,“Diharapkan pelatihan ini dapat membantu meningkatkan kapasitas penyuluh perkebunan yang akan mendampingi petani kelapa sawit menerapkan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Hal ini akan secara langsung menunjang pelaksanaan Kaltim Green dan mendukung Heart of Borneo di Kalimantan Timur."


Terkait dengan penerapan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan, Wiwin Effendy Koordinator WWF Kalimantan Timur menambahkan,“Melalui pelatihan ini, diharapkan para penyuluh perkebunan dapat menjadi fasilitator di masing-masing Kabupaten dalam mendampingi para petani kelapa sawit menerapkan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Tidak hanya itu, mereka nantinya juga mendapat pengetahuan tentang penanganan konflik satwa liar, sehingga satwa tidak lagi dianggap sebagai hama tetapi bagian dari perkebunan yang harus dikelola.”

© WWF-International/James Morgan Enlarge
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus