Mendambakan listrik - Apakah sudah terwujud?



Posted on 05 July 2012  | 
© WWF-IndonesiaEnlarge

Sekitar tahun lalu yang lalu, perwakilan masyarakat dari Harowu, sebuah desa kecil di kawasan Heart of Borneo (HoB), menandatangani sebuah kesepakatan pelepasan lahan seluas kurang lebih 3000 hektar (dinamakan Bukit/Puruk Batu Karung) untuk mendukung sebuah sistem mikro Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bagi desa mereka.

Akses dan lampu merupakan ‘barang mewah’ bagi para penduduk desa tersebut. Dibutuhkan waktu sekitar 4 hingga 6 jam dari Palangka Raya (ibukota Propinsi Kalimantan Tengah) untuk tiba di lokasi, dengan melalui jalan berbukit, sungai dan kemudian lebih banyak berjalan kaki, melintasi jalan setapak. Bagi para penduduk, pada saat matahari terbenam tidak ada listrik kecuali jika generator listrik dinyalakan.

Pada saat WWF menyelenggarakan sebuah sesi perencanaan partisipatif warga di Harowu dan ide mengenai sistem PLTA dicetuskan, masyarakat sendiri tidak hanya menyetujuinya – mereka sudah siap menginventasikan lahan dan uang dari kantong mereka sendiri untuk mendanai proyek tersebut.

Kepala Kecamatan Gunung Mas, yang mengelola area termasuk Desa Harowu, juga sudah siap mendukung idea tersebut. “Jika proyek ini membutuhkan dukungan legal dari pemerintah, kami siap untuk mengeluarkan peraturan mengenai kawasan hutan di bagian hulu untuk diprioritaskan bagi konstruksi PLTA,” kata beliau.

Pembangunan sistem mikro PLTA di Harowu akan menyokong sekitar 300 penduduknya untuk mendapatkan energi secukupnya, termasuk para industri kecil rumah tangga, serta membantu melindungi lebih dari 4000 hektar hutan alam yang berperan sebagai daerah resapan air untuk kawasan hilir.

Pada pertengahan Februari 2012, WWF mengungkapkan bahwa konstruksi tidak dapat dibangun karena tidak tersedianya dana yang cukup. WWF-Finlandia, yang mendukung sebuah program yang berlokasi dekat kawasan Muller Schwaner, berkomitmen untuk mengalokasikan dana ekstra dan membantu mengamankan dana dari donor berpotensi lainnya termasuk Nokia dan Kedutaan Besar Finlandia di Indonesia. Sampsa Kianmaa, Koordinator Program untuk WWF-Finlandia, mengatakan “Kami beresiko kehilangan dukungan dari mitra-mitra lokal, terutama di lima perdesaan yang telah menunggu untuk merasakan keuntungan dari pembangkit tenaga listrik, jika kami tidak mendapatkan dana pengganti untuk proyek.”

Kalimantan adalah salah wilayah di Indonesia yang tergolong kurang dalam penyaluran energi berpotensi besar untuk tenaga air, terutama area-area yang terletak di bagian hulu sungai di kawasan HoB. Sistem mikro PLTA adalah sumber daya alam yang dapat diandalkan, berkelanjutan, bersih dan sumber energi dapat diperbaharui.

Dengan listrik yang dihasilkan oleh sistem mikro PLTA, masyarakat setempat tidak hanya dapat merasakan keuntungan secara langsung seperti lampu, hiburan dan informasi, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menambah pemasukan mereka. Berlawanan dengan hal ini, keberlanjutan listrik sangat bergantung pada konsistensi penyaluran air dari daerah hulu. Oleh karena itu, hutan-hutan di bagian hulu sangat penting untuk dikelola dan dilindungi secara benar – berperan sebagai sebuah insentif penting untuk perlindungan alam oleh masyarakat setempat. Dengan listrik dari sistem mikro PLTA, masyarakat tidak perlu lagi membeli bensin untuk memperoleh listrik dari generator diesel portabel. Proyek ini juga memiliki keuntungan-keuntungan bagi perlindungan alam ketika masyarakat dapat menghindari emisi karbon yang dihasilkan dari penggunaan minyak dan deforestrasi.


Related links:

Radio berbasis masyarakat
http://www.wwf.or.id/?24360/WWF-bangun-radio-komunitas-di-Gunung-Mas-Kalteng

Menyediakan daya listrik bersih melalui mikro hidro
http://www.wwf.or.id/berita_fakta/berita_fakta/?24140/Providing-clean-power-through-micro-hydro

Konservasi Kawasan Muller Schwanner
http://heartofborneo.or.id/en/article/detail/14/muller-schwanner-conservation

Pemerintah mendukung proyek micro hydro
http://heartofborneo.or.id/en/news/detail/25/the-government-of-gunung-mas-district-supports-the-development-of

© WWF-Indonesia Enlarge
© WWF-Indonesia Enlarge