Kawasan konservasi Kei Kecil: masa depan baru penyu belimbing



Posted on 06 July 2012  | 
© WWF-Canon / Jürgen FreundEnlarge

Oleh Masayu Yulien Vinanda


Jakarta (06/07)-Sebagai kelompok kepulauan yang terletak di timur Laut Banda, Kei Kecil berperan penting dalam menyokong keberlanjutan ekosistem dunia. Pernyataan ini tidak berlebihan mengingat perairan tersebut merupakan salah satu habitat pakan populasi Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) di Pasifik. Hasil penelitian migrasi penyu belimbing yang bertelur di Pantai Utara Papua Barat (Abun) menunjukkan bahwa sebagian satwa langka itu juga bermigrasi ke perairan Kei Kecil untuk mengejar mangsanya (ubur-ubur raksasa).


Namun ketika bermigrasi ke Kei Kecil untuk mencari makan, Penyu Belimbing tidak begitu saja bebas dari ancaman. Praktik pembukaan hutan di sekitar kawasan pantai peneluran serta tangkapan sampingan oleh aktivitas perikanan yang sering kali lokasi tangkapnya timpang tindih dengan habitat pakannya adalah sejumlah faktor yang mengancam kepunahan reptil terbesar itu. Beberapa dekade yang lalu perburuan daging penyu untuk upacara adat juga turut menambah deret panjang ancaman terhadap Penyu Belimbing. Namun kini, praktik tersebut sudah jauh lebih berkurang.


Menurut Marine Spesies Specialist WWF-Indonesia Creusa Hitipeuw, sejak 2005 WWF bekerja sama dengan LSM lokal yakni Yayasan SIRaN menggiatkan upaya penyadartahuan masyarakat tentang status populasi penyu belimbing di Pasifik yang terancam punah. Tidak hanya itu, program WWF-Yayasan SIRAN tersebut juga berupaya membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian penyu belimbing bagi keberlangsungan tradisi budaya masyarakat Adat NuFit di Kei Kecil.


“Untuk menekan angka perburuan, WWF mendorong pemanfaatan non-ekstraktif seperti ekowisata dalam konteks pengelolaan kawasan konservasi laut termasuk pengaturan di tingkat adat untuk mengatur pola pemanfaatannya bagi kepentingan adat. Namun yang tak kalah penting adalah upaya mendorong perikanan yang berkelanjutan dan pengelolaan habitat peneluran masih tetap dilakukan,” imbuh Creusa.


Perjalanan panjang WWF dalam menjaga kelestarian penyu belimbing berbuah manis. Kamis, 6 Juli 2012, Kei Kecil ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan (MPA/Marine Protected Area). Komitmen tersebut direalisasikan melalui pembacaan Deklarasi Bersama pencadangan Kei Kecil yang oleh Bupati Maluku Tenggara Anderias Rentanubun dan dilanjutkan oleh penandatanganan plakat deklarasi oleh Bupati dan 3 orang pemimpin Ratschap (raja lokal). Momen penting itu juga disaksikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Sharif C. Sutardjo, Deputy Administrator of USAID Donald Steinberg, dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Amb. Scot Marciel.


Penetapan kawasan tersebut merupakan bagian dari program MPAG (Marine Protected Areas Governance) , program bantuan USAID yang bertujuan untuk mendukung komitmen Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan MPA seluas 20 juta hektar pada tahun 2020, serta mengelolanya secara efektif dan berkelanjutan. Program kegiatan MPAG diimplementasikan melalui konsorsium LSM yakni Conservation International (CI), Coral Triangle center (CTC), The Nature Conservancy (TNC), Wildlife Conservation Society (WCS), dan WWF Indonesia.


Dukungan teknis MPAG tidak hanya difokuskan pada penyusunan Rencana Pengelolaan dan Zonasi, tetapi juga penguatan kapasitas lokal dalam mengelola kawasan konservasi. Raja-raja lokal juga dilibatkan secara intensif guna memastikan pengelolaan kawasan konservasi Kei Kecil bermanfaat bagi masyarakat lokal.


“Penetapan Kei Kecil sebagai MPA baru merupakan dukungan yang sangat berharga bagi program pemerintah Maluku Tenggara untuk mencadangkan kawasan perairan Kei Kecil Bagian Barat dan laut sekitarnya seluas 150.000 ha. Ke depannya saya berharap komitmen bersama ini mampu menjamin kelestarian penyu belimbing sekaligus mensejahterakan masyarakat melalui pengembangan mata pencaharian alternatif,” pungkas Bupati Maluku Tenggara Anderias Rentanubun.

© WWF-Canon / Jürgen Freund Enlarge