Restorasi koridor : selamatkan orangutan tingkatkan ekonomi



Posted on 09 July 2012  | 
panen perdana kacang tanah
© wwf indonesia/agus Enlarge
Oleh : Hendri Ziasmono

WWF bersama 42 Kepala keluarga dari tiga dusun yakni Sungai Sedik, Tekalong, dan Sepan memulai kegiatan restorasi di kawasan Bukit Lanjak, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kegiatan penghijauan tersebut dilakukan sebagai upaya memulihkan ekosistem Bukit Lanjak yang kini kondisinya kian mengkhawatirkan. Ironisnya, kawasan ini sejatinya memiliki nilai khusus sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat dan orangutan(Pongo pygmaeus pygmaeus).  Ya, di kawasan yang menghubungkan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) inilah, spesies kharismatik Kalimantan itu biasa menjelajah.

Restorasi koridor orangutan TNBK-TNDS diwujudkan melalui penanaman kembali pakan orangutan seperti durian, dabai, dan ucung serta pohon-pohon seperti ulin dan gaharu yang makin langka. Aksi penanaman pohon tersebut dilakukan dengan menerapkan metode agroforestry (wanatani) berbasis karet serta pengayaan jenis pohon.

Menanam bersama masyarakat merupakan perwujudan nyata dari konsep pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Inisiatif dan kearifan yang telah berkembang sebagai bagian dari budaya lokal dilibatkan penuh dalam upaya pengelolaan hutan dan sumber daya yang ada di dalamnya. Namun menerapkan konsep tersebut bukanlah perjalanan yang mulus tanpa hambatan.

“Muka tebal dan mental baja.” Itulah semboyan yang terpatri di tim WWF-Indonesia saat memulai proses bersama itu. Kecurigaan akan pengambil-alihan lahan oleh WWF bahkan penolakan sering kali terjadi. Kondisi sosial masyarakat saat itu juga penuh tantangan. Kesenjangan pembangunan antara kedua batas negara menyebabkan banyak warga terutama para pemuda usia produktif lebih memilih untuk bekerja diluar negeri  dan meninggalkan daerah asalnya. Masyarakat yang tersisa pun hanya orangtua,anak-anak, dan warga pendatang. Keadaan ini menyebabkan ketidakmampuan masyarakat yang ada untuk mengusahakan lahan. Akibatnya, banyak lahan terlantar. Kondisi ini diperparah lagi dengan adanya hasutan dari luar dan dalam masyarakat untuk bekerja di kebun sawit. Melaui pendekatan yang intensif ke masyarakat dan merasakan secara langsung "hidup" di tengah-tengah mereka, maka perlahan kesadaran masyarakat lokal untuk lebih menghargai lahan sendiri mulai terbangun.

Berangkat dari kondisi tersebut, maka dimulailah kegiatan restorasi melalui perencanaan bersama masyarakat pada tahun 2010. Materi perencanaan ini dimulai dengan merumuskan tujuan program, mengidentifikasi potensi, dan membangun mimpi sebagai strategi melalui potensi sumberdaya lokal dan pengetahuan. Karena itu jenis jenis pohon yang ditanam merupakan pohon endemik dan telah dikenal oleh masyarakat, sumber benih serta bibit berasal dari kawasan sekitarnya. Selanjutnya, kegiatan lapangan dimulai dari pembangunan pusat pembibitan sebagai sarana produksi bibit dan media belajar,  pengukuran lahan, penanaman, perawatan tanaman, serta monitoring perkembangan tanaman.

Dalam proses implementasi kegiatan, WWF mendorong pengembangan kapasitas masyarakat melalui sekolah lapang sebagai pola pembelajaran yang mengedepankan prinsip terbuka, setara, dan sharing knowledge untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Inisiatif masyarakat untuk menanam terlihat dari komitmen dalam pengelolaan wilayah hutan mereka. Menanam bagi masyarakat memiliki arti khusus untuk mempertahankan kawasan hutan terutama yang bernilai tinggi dan merupakan daerah tangkapan air, serta melestarikan nilai-nilai budaya di-12 lokasi tembawang dalam area restorasi dengan tanaman Multi Guna(MPTS) yang statusnya dilindungi oleh aturan adat. Hingga tahun 2012 ini, masyarakat telah menanam 82.062 batang pada lahan seluas 300,985 ha di bukit Lanjak.

Disamping aspek teknis budidaya, aspek penguatan kelembagaan masyarakat merupakan upaya penting memastikan keberlanjutan program restorasi. Keterlibatan lembaga adat dan pemerintah desa serta kegiatan pengorganisasian merupakan faktor kunci keberlanjutan program tersebut. WWF Indonesia memfasilitasi pendampingan kelembagaan sipil melalui kegiatan diskusi, pelatihan keorganisasian, dan peningkatan akses kerjasama masyarakat dengan pihak luar terutama Pemda Kapuas Hulu. 

Sebagai pengembangan bisnis alternatif dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat melalui skema restorasi hutan lindung Bukit Lanjak, WWF juga mengembangkan usaha bisnis sayur-sayuran oleh kelompok perempuan untuk pembudidayaan kacang tanah dan bawang kucai. Pemilihan kacang tanah dan bawang kucai didasari pada pengalaman masa lalu masyarakat terhadap dua komoditi tersebut. Selain itu, permintaaan dan harga kacang tanah dan bawang kucai yang relatif tinggi di sekitar Danau Sentarum juga menjadi salah satu pertimbangan. 

Kompensasi ekonomi langsung yang diterima oleh masyarakat berasal dari bisnis pembibitan restorasi yang diserap, selanjutnya dikelola oleh kelompok sebagai modal untuk pengembangan bisnis yang potensial dan produktif dengan semangat kegotongroyongan. Restorasi berbasis masyarakat ini diharapkan dapat meyakinkan para pihak bahwa menanam hari ini adalah komitmen untuk membuat bumi semakin hijau dan kehidupan yang lebih baik.
panen perdana kacang tanah
© wwf indonesia/agus Enlarge
Peta areal penanaman restorasi bukit Lanjak
© wwf indonesia/anton Enlarge
Kebun entres karet unggul
© wwf Indonesia/buncau Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus