“Chemistry Cinta di Wakatobi”



Posted on 14 July 2012  | 
© WWF-Canon/Jikkie JONKMANEnlarge

Sebuah Novel Berlatar Kehidupan Suku Bajo


“Wa Dambe mengajarkan bagaimana orang bajo membaca rasi bintang dan menjadikan rasi bintang itu sebagai kompas ketika orang bajo berada di tengah laut. Termasuk bagaimana orang bajo memahami cuaca, angin dan arus laut yang selalu menjadi bagian dari kehidupan kaum gypsi laut”~ Bagas
 

Kehidupan masyarakat Bajo menjadi latar novel “Chemistry Cinta di Wakatobi” karangan Dedi Oedji yang diluncurkan Sabtu (14/7) lalu. Ini adalah novel pertama penulis yang bekerja sebagai staff WWF-Indonesia dan pernah bertugas selama dua tahun di kawasan Taman Nasional Wakatobi.


“Wakatobi adalah sepotong nirwana yang tidak hanya menyimpan keindahan surga bawah laut tapi dimensi humanisnya yang unik juga menarik disajikan sebagai cerita untuk menyelami Wakatobi secara utuh,” jelas Dedi mengenai alasan menjadikan Wakatobi sebagai latar novel pertamanya.


Cerita berpusat pada tokoh bernama Bagas dan seorang wanita suku Bajo bernama Wa Dambe. Walaupun percintaan menjadi tema utama novel ini, isu konservasi dan kearifan lokal suku Bajo menjadi
benang merah cerita. Kedekatan hubungan masyarakat Bajo dengan laut misalnya tergambar dalam perkataan kepala desa Bajo Sampela pada Bagas,“Dulu nenek moyang kami adalah gipsi laut yang hidup berpindah-pindah dengan perahu sope-sope. Mereka lahir, besar dan tinggal di perahu sope-sope itu. Jaman boleh berubah, tapi laut dan bajo memang tidak bisa dipisahkan karena nasib hidup kami sangat tergantung dengan laut”.


“Kalau di luar negeri ada suku Eskimo yang hidup di suhu dingin ekstrim, ada suku pengembara Tuareg di gurun, Indonesia punya etnik Bajo yang menggantungkan hidupnya pada laut. Salut untuk Dedi Oedji yang berhasil merangkum Indahnya Wakatobi lewat hubungan Bagas dan Wa Dambe” kata Nazir Foead, Direktur Konservasi WWF-Indonesia. Dalam acara bedah buku yang diadakan di Gramedia Central Park sabtu lalu, Nazir juga menyampaikan dukungan WWF-Indonesia bagi karya staff-nya.


Menurut Nugie, Supporter Kehormatan WWF-Indonesia, novel bisa menjadi alternatif penyampaian pesan konservasi, “Sudah tidak jaman lagi menggugah kesadaran konservasi alam lewat cara-cara konvensional saja. Novel ini adalah salah satu cara melihat dari dekat kekayaan alam Indonesia yang harus kita jaga”. Aktor Arthur Brotolaras yang juga hadir di acara tersebut menyatakan ketertarikannya mengenal Wakatobi setelah membaca novel ini. “Ceritanya membuat penasaran, ingin melihat langsung keindahan Wakatobi. Secara pribadi, saya merasa memiliki keterikatan emosi dengan karakter Bagas dan tertarik memerankannya kalau novel ini diangkat menjadi film”.


Dalam acara bedah buku, narasumber Helena Rea dari Institut Studi Arus Informasi (ISAI) menyampaikan beberapa masukan bagi Dedi. “Menurut saya deskripsi tokoh-tokoh masih bisa diperkuat. Diluar itu, penulis justru punya kemampuan menggambarkan secara detail keindahan Wakatobi. Kekuatan lainnya menurut saya penulis cukup baik mengelola emosi dalam alur cerita sehingga mampu mempertahankan saya membacanya hingga selesai”.


Buku Chemistry Cinta di Wakatobi bisa didapatkan di jaringan Toko Buku Gramedia. Sebagian royalty dari penjualan buku ini akan disumbangkan untuk komunitas Bajo dan kegiatan konservasi di Wakatobi.


Untuk informasi lebih lanjut:
Desmarita Murni
Head of Campaign, Communication and Outreach,
WWF-Indonesia
+62811793458 dmurni@wwf.or.id


Catatan untuk Editor:
Tentang WWF-Indonesia
WWF-Indonesia merupakan bagian independen dari jaringan WWF dan afiliasinya, organisasi pelestarian global yang bekerja di 100 negara di dunia. Visi WWF-Indonesia adalah pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia untuk kesejahteraan generasi sekarang dan di masa mendatang. Sedangkan misi WWF-Indonesia mencakup: promosi etika pelestarian yang kuat, kesadaran serta aksi di kalangan masyarakat Indonesia; fasilitasi upaya multi pihak untuk melindungi keanekaragaman hayati dan proses ekologis dalam skala ekoregional; melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakan hukum yang mendukung upaya pelestarian; dan promosi pelestarian bagi kesejahteraan masyarakat, melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.


Upaya kami di TN Wakatobi

Sejak akhir tahun 2002, WWF sudah berkolaborasi dalam suatu bentuk kemitraan dengan The Nature Conservancy (TNC) untuk membantu pengelola TN Wakatobi untuk memperbaiki rencana pengelolaannya, zonasi dan penerapan pengelolaan kawasan.

Diharapkan, kerjasama ini akan membantu taman nasional Wakatobi menerapkan strategi pengelolaan terbaik berbasis informasi lengkap dan realita sosial ekonomi lokal. Kerjasama ini akan mencakup pembangunan struktur pengelolaan kolaboratif, rancangan keuangan jangka pendek dan jangka panjang, mata pencaharian alternatif, modul pengelolaan seperti penjangkauan dan kepedulian, pengamatan, penelitian dan pembuatan zonasi.
(www.wwf.or.id)
© WWF-Canon/Jikkie JONKMAN Enlarge