Pengelolaan Kolaboratif Sunda Banda



Posted on 19 July 2012  | 
Dalam garis merah, kawasan Bentang Laut Sunda Banda
© WWF-IndonesiaEnlarge
Oleh: Aulia Rahman
 
Berbagai pemangku kepentingan yang ada di area pusat Segitiga Terumbu Karang – STK (Coral Triangle), bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, sepakat dalam pengelolaan wilayah tersebut secara kolaboratif. Dalam gelaran lokakarya selama dua hari yang berlangsung selama dua hari di Hotel Aerowisata Sanur Beach, seluruh peserta bersinergi dalam pengelolaan sumber daya laut yang meliputi luas hampir 157 juta ha. Setidaknya, pemahaman pentingnya kawasan Sunda Banda oleh para pemangku kepentingan dapat berkontribusi langsung pada penguatan sektor ekonomi serta ketahanan pangan yang sedang berada dalam ancaman penangkapan ikan berlebihan, polusi, serta pembangunan yang kurang memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan, seperti aktivitas tambang.
 
Sunda Banda adalah istilah yang merujuk pada kawasan geologis, sekaligus geografis, sebuah bentang yang meliputi laut dan beberapa kepulauan dari Bali hingga wilayah Nusa Tenggara sampai ke Maluku Tenggara, serta Kupang lalu ke utara meliputi sisi selatan Pulau Sulawesi. Para ahli meyakini bahwa kawasan Bentang Laut Sunda Banda (BLSB) memiliki tingkat keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi serta memiliki peluang konservasi sekaligus kerentanan yang tinggi pula. Sehingga melalui penilaian peringkat yang menilai pentingnya sebuah lokasi, kawasan ini menduduki peringkat 2 dan peringkat 3 setelah Bentang Kepala Burung Papua (Papua Barat dan sebagian Papua). Kawasan BLSB memiliki prioritas konservasi tinggi karena kawasan ini menjadi habitat bagi 76 % spesies karang yang sudah diketahui, lebih dari 3.000 spesies ikan, dan beberapa spesies terancam punah sepertt penyu, Cetacea (kelompok paus/lumba-lumba), hiu, serta jenis ikan lain yang memiliki nilai eknomi tinggi misalnya ikan napoleon (humphead wrasse).
 
Acara lokakarya dibuka oleh Kepala Sub Direktorat Laut Teritorial dan Kepulauan, Direktorat Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Hary Christijanto, yang mengungkapkan nada yang sama seperti yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hari pertama pembukaan Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB Rio+20 di Brasil, bahwa masa depan perekonomian dunia adalah ekonomi hijau. Ekonomi hijau sendiri diejawantahkan sebagai "ekonomi biru" oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo, bagi sektor kelautan di forum yang sama. Kawasan BLSB merupakan kawasan penting yang diharapkan dapat menunjang target 20 juta Ha kawasan konservasi laut pada tahun 2020 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
 
Hari ke-2 dari pelaksanaan lokakarya pengelolaan kawasan BLSB dilaksanakan dengan memantau dan memetakan aktivitas-aktivitas dari setiap pemangku kepentingan yang hadir sehingga rencana pengelolaan kawasan tersebut kedepannya dapat berlangsung efektif dan efisien dengan tidak mengulang kegiatan yang pernah atau sedang berlangsung. Sementara itu celah dan kekurangan dari beberapa pengelolaan sebelumnya dapat segera ditutup.
 
Lokakarya yang dibangun oleh WWF-Indonesia berlangsung dari tanggal 26-27 Juni 2012 di Sanur, Bali, yang dihadiri oleh sekitar 60-an perwakilan Departemen Kelautan dan Perikanan masing-masing propinsi/kabupaten, LSM-LSM di tingkat lokal, akademisi dan perwakilan universitas, pemerhati lingkungan laut, serta elemen-elemen terkait lainnya. 
 
Kontak: Wawan Ridwan, Direktur Program Kelautan WWF-Indonesia, wridwan@wwf.or.id
 
Dalam garis merah, kawasan Bentang Laut Sunda Banda
© WWF-Indonesia Enlarge
epala Sub Direktorat Laut Teritorial dan Kepulauan, Direktorat Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Hary Christijanto (sebelah kiri), dalam sesi pembukaan workshop Bentang Laut Sunda Banda
© WWF-Indonesia / Aulia RAHMAN Enlarge
Para peserta lokakarya Bentang Laut Sunda Banda mengikuti sesi dalam kelompok-kelompok kecil untuk memetakan celah dan kemajuan yang sudah dicapai selama ini.
© WWF-Indonesia / Aulia RAHMAN Enlarge