Rusli Siregar: Dedikasi Tanpa Batas untuk Habitat Harimau Sumatera



Posted on 31 July 2012  | 
Rusli Siregar
Rusli Siregar
© WWF-IndonesiaEnlarge

Rusli Siregar (54) adalah Kepala Resor Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Dia mulai bekerja pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau sejak tahun 1984 sebagai staf honorer. Kemudian dia diangkat menjadi Polisi Hutan di BKSDA sejak tahun 1990 setelah menyelesaikan kursus polisi kehutanan di Sekolah Polisi Negara Sampali Medan tahun 1990.

Berpatroli di Suaka Margasatwa Rimbang Baling adalah salah satu aktifitas rutinnya. Dengan menggunakan sepeda motor, ia dan dua orang rekannya harus memonitor kawasan konservasi yang luasnya mencapai 136.000 ha. “Kami memiliki kendala dalam memonitor kawasan karena kami hanya punya satu sepeda motor untuk operasi rutin kami,” kata Rusli. “Ini merupakan kendala tapi bagaimanapun kami harus memberikan yang terbaik untuk dapat membantu melindungi hutan”, tambah Rusli.

Rimbang Baling adalah salah satu habitat penting harimau Sumatera. Dengan topografi perbukitan, kawasan tersebut memiliki panorama yang indah. Sungai Subayang mengalir di dalam suaka margasatwa tersebut dengan airnya yang jernih dan tepi sungai yang berpasir putih. Di beberapa tempat, batu-batu besar bertumpuk di tengah-tengah sungai membuat pemandangan semakin menawan dan menantang. Sungai ini juga berfungsi sebagai satu-satunya media transportasi bagi masyarakat lokal yang tinggal di sepanjang sungai tersebut menuju akses jalan.

 

Terancam Perambahan
Perambahan mengancam kawasan ini untuk diubah menjadi perkebunan diantaranya perkebunan sawit. Rusli Siregar pernah mendapatkan pengalaman buruk pada tahun 1998 yang waktu itu ia dan seorang rekannya tengah melakukan patroli di kawasasan tersebut, empat orang perambah menolak Rusli dan rekannya yang memperingati mereka untuk menghentikan kegiatan mereka di dalam kawasan konservasi tersebut. Perambah ini kemudian melaporkan kejadian ini kepada bos mereka dan Rusli kemudian dipanggil untuk menghadap kepala desa pada malam harinya untuk menemui bos para perambah tersebut. Pertengkaran terjadi antara Rusli dan bos tersebut dan secara tiba-tiba bos tersebut menghantam Rusli.  Rusli berusaha untuk membela diri. Melihat kejadian ini, orang lain yang ada di sekitar  lokasi menghentikan perkelahian tersebut.

Rusli melaporkan kejadian ini kepada atasannya. Polisi kemudian diturunkan ke daerah tersebut untuk memproses kejadian itu dan akhirnya perambahan di kawasan tersebut berhenti.

“Ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan, saya sangat khawatir pada saat itu saya tidak selamat dari perkelahian itu karena saya hanya sendiri pada saat itu, “ jelas Rusli. Namun insiden itu tidak menyurutkan semangat Rusli untuk melakukan patroli dalam upaya melindungi kawasan tersebut.

 

Aktivitas Patroli
Rusli juga merupakan salah satu anggota Tim Perlindungan harimau, suatu unit patroli yang memonitor ancaman terhadap harimau Sumatera yang merupakan kerjasama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau dan WWF-Indonesia. Sebagai kepala Resor, Rusli juga bertugas sebagai kepala unit tim perlindungan harimau yang bertugas di suaka Margasatwa Rimbang Baling. Sejak dibentuknya tim ini pada tahun 2005, tim bertugas melakukan patroli di dan sekitar kawasan untuk meminimalkan ancaman terhadap harimau sumatera. Salah satu tugas tim adalah menyita jerat-jerat satwa liar yang ditemui di dalam hutan. Selain itu, tim juga memberikan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan suaka margasatwa tersebut sebagai habitat harimau untuk mengurangi konflik manusia-harimau, serta memperingatkan para perambah bahwa perambahan adalah kegiatan illegal.

“ Saya sangat senang melihat Suaka Margasatwa Rimbang Baling pada awal masa tugas saya, daerah itu masih hutan lebat tapi sekarang saya sangat sedih karena perambahan telah menghilangkan sebagian hutan yang kaya dengan keanekaragaman hayati itu,” ungkap Rusli.

Rusli mengaku dalam melaksanakan tugasnya, beberapa kali dia bertemu dengan satwa liar seperti rusa dan harimau dan beberapa kali melihat jejak atau cakaran harimau. Dia sangat senang dapat melihat satwa-satwa liar itu masih ada di kawasan tersebut namun ia sangat sedih karena beberapa kali menemukan jerat satwa liar termasuk jerat harimau. “Saya langsung bersihkan jerat-jerat tersebut, kata Rusli.

 

Rusli dan Harapannya
Sejak bertugas tahun 1989  hingga kini Rusli dan keluarganya telah menempati pos resor suaka margasatwa Rimbang Baling. Pos tersebut berfungsi ganda baginya yakni sebagai kantor dan sekaligus rumah. Meskipun tiggal di daerah yang jauh dari kehidupan kota tidak menyurutkan semangatnya, ia tidak pernah berpikir untuk pindah dari pos resor yang telah memberinya banyak kenangan.

Istri Rusli adalah seorang guru Sekolah Dasar. Mereka dikarunia tiga orang anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Anak pertama mereka telah berhasil menyelesaikan kuliahnya. Rusli begitu bangga dan mensyukuri dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi.

Rusli menaruh harapan pada anak-anaknya untuk mendapat kehidupan yang labih baik di masa depannya seperti harapannya suatu saat nanti Suaka Margasatwa Rimbang Baling dapat terbebas dari aktifitas perambahan dan perburuan satwa. Ia mengimpikan kawasan tersebut dapat benar-benar terjaga utuh oleh karena itu ia berharap semua pihak harus berpartisipasi menjaga kawasan yang memiliki keindahan dan kekayaaan alam tak terkira tersebut.

Rusli Siregar
Rusli Siregar
© WWF-Indonesia Enlarge