Delegasi WWF adakan kunjungan kehormatan kepada Presiden SBY



Posted on 13 September 2012  | 
© WWF-Indonesia Enlarge

Jakarta --Delegasi WWF yang dipimpin oleh Executive Board WWF Indonesia Kemal Stamboel, didampingi oleh Direktur Jendral WWF International Jim Leape hari ini (13/9) mengadakan kunjungan kehormatan kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, Jakarta. Kunjungan tersebut juga dihadiri oleh para CEO WWF dari beberapa negara yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Fillipina, India, Pakistan, Mexico dan Russia, dan Direktur WWF Asia Pacific.


Dalam pertemuan tersebut SBY didampingi oleh Menteri Luar Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Sekretaris Negara, dan Ketua UKP4.


Selain dimaksudkan sebagai kunjungan kehormatan dalam rangka perayaan 50 tahun misi WWF di Indonesia, pertemuan tersebut juga dilakukan dalam rangka memberi masukan guna memperkuat peranan Presiden SBY dalam memimpin pertemuan High Level Panel of Eminent Person for Post 2015 Development Agenda yang diadakan oleh PBB September ini di New York.


Sekjen PBB Ban Ki-Moon telah menunjuk SBY untuk menjadi co-chair High Level Panel of Eminent Person for Post 2015 Development Agenda, yaitu sebuah pertemuan tingkat tinggi guna menindaklanjuti dan memberi masukan terhadap agenda pembangunan global pasca 2015, yang merupakan target Millenium Development Goal.


Dari seluruh dunia hanya ada tiga pimpinan negara yang menjadi co-chair dalam pertemuan PBB tersebut, yaitu Perdana Menteri Inggris David Cameron, Presiden Liberia Johnson-Sirleaf, dan Presiden SBY.


"WWF menyadari peran Indonesia sebagai negara kunci dalam mendorong agenda pembangunan berkelanjutan pasca Rio+20. Dengan semakin meningkatnya peran Indonesia dalam forum internasional, jaringan WWF Network di seluruh dunia siap membantu menjalankan peran tersebut, termasuk mendukung inisiatif konservasi lintas negara seperti Heart of Borneo dan the Coral Triangle yang dicanangkan oleh SBY," Kata Direktur Jendral WWF International Jim Leape hari ini.


"Kedua inisiatif tersebut menterjemahkan konsep Ekonomi Hijau (dan ekonomi biru) bagi kesejahteraan masyarakat dan kesetaraan sosial, sekaligus pada saat yang sama memperkuat ketahanan pangan di kawasan tersebut," tambah Leape. Dalam pertemuan tersebut Jim Leape menekankan bahwa pengembangan kebun kelapa sawit harus dapat diarahkan di lahan-lahan terlantar, dan meminta agar Pemerintah dapat memfasilitasi proses sehingga lahan telantar yang ' bersih' konflik sosial dan siap pakai dapat tersedia.


"WWF akan terus mendukung upaya pemerintah Indonesia mengimplementasikan konsep ekonomi hijau atau ekonomi biru, sehingga upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seimbang dengan prinsip keberlanjutan dan kesetaraan," kata Dr. Efransjah CEO WWF Indonesia. Menurutnya, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal), yang nantinya akan dirumuskan dibawah koordinasi SBY, diharapkan dapat mengintegrasikan tiga dimensi pembangunan yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan, selain juga bisa diaplikasikan secara universal, relevan, inclusive, dan pengembangannya sejalan dengan agenda Milenium Development Goals (MDGs).


Sebagai organisasi konservasi, WWF bertujuan untuk memastikan keberlanjutan dan kesetaraan dalam pengelolaan kekayaan sumber daya alam di planet Bumi. Dalam kunjungan selama sekitar 45 menit itu, CEO WWF Indonesia juga menjelaskan peranan Staff WWF yang bekerja di kawasan-kawasan konservasi penting di seluruh Indonesia, baik di wilayah darat maupun laut, dalam upaya pelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan di tanah air. “ Presiden mengucapkan selamat atas 50 tahun misi WWF di Indonesia dan menyampaikan pesan agar terus bersemangat melanjutkan perjuangan konservasi, “ jelas Efransjah.


Peranan dari negara-negara yang ekonominya yang terus meningkat (emerging economies) dari Selatan - atau yang biasanya disebut sebagai BRIIC+ (Brazil, Russia, India, Indonesia dan South Africa - adalah topik yang banyak disoroti oleh WWF, bukan hanya karena potensinya yang signifikan bagi kesejahteraan dan kesetaraan, tetapi juga karena resikonya bagi kehancuran sumber daya alam. Sejalan dengan upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka pengaruh modal alam dan biokapasitas (atau kemampuan planet bumi untuk pulih kembali secara alami) juga menjadi semakin penting.


Terkait dengan peranan negara-negara selatan, pada tangal 13-14 September 2012, bersamaan dengan perayaan 50 tahun WWF di Indonesia, diadakan diskusi South to South dimana para CEO WWF dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Filiphina, India, Pakistan, Asia Pacific, Mexico dan Russia berkumpul membahas kerjasama negara-negara di selatan dalam percaturan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan global.


-------selesai----------

© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus