Profil: Rudi Zapariza



Posted on 19 September 2012  | 

Oleh Noverica Widjojo

Propinsi Kalimantan Barat menempati tempat yang istimewa di hati Rudi Zapariza. Pria yang merupakan Project Leader WWF-Indonesia untuk wilayah tugas Kabupaten Sintang dan Melawi sejak tahun 2010 ini, sudah 10 tahun menggeluti konservasi di propinsi tersebut.

Sebagai mantan aktivis Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pada tahun 2002, Rudi bergabung dengan WWF-Indonesia. Pekerjaan utamanya saat itu adalah membantu masyarakat kawasan penyangga Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) melalui konservasi yang bermanfaat bagi masyarakat. “Saat itu, saya bekerja sebagai Buffer Zone Development Coordinator, ditempatkan di Kabupaten Kapuas Hulu, yang merupakan kabupaten paling ujung di Kalimantan Barat”, katanya.

Pada tahun 2005, Rudi menjadi Forest Coordinator WWF-Indonesia di Kapuas Hulu. Saat itu, Kapuas Hulu dicetuskan sebagai kabupaten konservasi yang merupakan embrio awal penyelamatan hutan Jantung Borneo (Heart of Borneo/HoB). Ia berusaha memberikan masukan penting perumusan dan pelaksaan kebijakan pemerintah setempat. Selain itu, ia juga berusaha menyakinkan masyarakat untuk menghentikan kegiatan pembalakan liar dan beralih ke pengembangan agroforestry karet dan tanaman hutan. “Lambut laun, upaya ini membuahkan hasil. Saat ini sekitar 300 hektar lahan sudah ditanami karet dan tanaman hutan”, kata Rudi.

Misi mulianya tidak selalu berjalan lancar. Rudi sering mendapatkan hambatan seperti adanya tentangan program konservasi dari sejumlah oknum. Beberapa ancaman kekerasan maupun tekanan-tekanan tidak langsung juga pernah dialaminya. Tetapi hal itu tidak membuatnya patah arang.

Pria kelahiran 24 Agustus 1972 ini mengatakan bahwa dia sangat senang mempelejari nilai-nilai kearifan lokal masyarakat, yang menurutnya sangat berpengaruh penting terhadap implementasi konservasi dan pembangunan berkelanjutan di lapangan. “Memahami karakter dan tipologi masyarakat juga menjadi nilai penting bagi saya untuk terus memberikan kontribusi di dunia konservasi,” kata Rudi.

Setelah bekerja di TNBK dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), pria kelahiran Bengkulu ini kini bekerja di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR). Menurut Rudi, rencana pengembangan manajemen jangka panjang dan menengah TNBBBR merupakan langkah awal penting di Kalimantan Barat. “Langkah awal ini dapat memberikan masukan penyusunan tata ruang di kedua kabupaten ini, yang kemudian disusul dengan penguatan masyarkat setempat dan tata kehutanan yang baik, sehingga penguatan implementasi HoB dapat tercapai”, terangnya.

“Dalam satu setengah tahun WWF-Indonesia bekerja di Sintang-Melawi, masih banyak proses implementasi yang harus didukung. Meskipun begitu, secara umum WWF di kedua kabupaten tersebut sudah disambut baik oleh pemerintah dan masyarakat setempat”, lanjut Rudi.
 

“Konservasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.” ~ Rudi Zapariza

© WWF-Indonesia/Rudi Zapariza Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus