Mencari Solusi Di Tengah Kebakaran Hutan Di Indonesia



Posted on 19 October 2012  | 
Oleh: Ary Pamungkas

Sebagai salah satu negara dengan luasan hutan yang cukup besar, Indonesia memiliki peran penting sebagai paru-paru dunia. Terlebih Indonesia memiliki 10% hutan tropis dunia ang masih tersisa. Selain itu, hutan Indonesia tercatat menjadi rumah bagi 12% dari jumlah total spesies mamalia, 16% spesies reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung, dan 25% spesies ikan di dunia. Sebagian di antaranya endemik, atau hanya dapat ditemui di daerah tersebut.
 
Namun, belakangan ini hutan Indonesia menghadapi permasalahan yang pelik. Selain deforestasi/pembalakan hutan secara besar-besaran, kebakaran hutan yang terjadi hampir setiap tahun juga menjadi persoalan tersendiri yang cukup sulit diatasi. 
 
Saat ini kebakaran hutan telah pula menjadi sorotan internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi. Kejadian itu dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan karena dampaknya secara langsung pada ekosistem, kontribusi emisi karbon, serta bagi keanekaragaman hayati.
 
Di akhir tahun 1997 dan awal tahun 1998, serta tahun 2006, dunia dapat menyaksikan betapa menyedihkan dan mengerikannya insiden ketika api membinasakan berjuta-juta hektar hutan tropis di Indonesia. Peristiwa dahsyat tersebut meninggalkan lintasan panjang di Pulau Sumatera dan Kalimantan, berbentuk selimut asap tebal yang secara serius membahayakan kesehatan manusia. Kebakaran ini juga membahayakan keamanan perjalanan udara serta menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar di seluruh kawasan. Demikian pula dengan banyaknya keluhan dari negara-negara tetangga.
 
Menurut Forest Fire Coordinator, Forest-Freshwater-and Terrestrial Species Program, WWF-Indonesia, Dedi Hariri, penyebab utama kebakaran hutan dan lahan tak lain datang dari faktor manusia melalui beberapa berbagai aktivitasnya, antara lain adalah pembukaan dan konversi lahan untuk perladangan dan perkebunan. "Biasanya kegiatan tersebut (pembukaan dan konversi lahan) dilakukan oleh masyarakat dan perusahaan dengan cara dibakar. Bahkan saat ini praktik pembakaran lahan banyak dilakukan secara tak terkendali, hingga kebakaran lahan terjadi secara masif,” jelas Dedi.
 
“Selain akibat kegiatan manusia, kondisi musim dan cuaca merupakan penyebab secara tidak langsung, atau semata faktor pendukung. Iklim dan cuaca hanya mengkondisikan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, sementara datangnya musim kering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membuka dan membakar lahan,” tambah Dedi.
 
Dedi mengutarakan, kebakaran hutan menimbulkan sejumlah efek negatif, baik secara ekologis, ekonomis, dan politis. “Bagi masyarakat umum, efek yang paling terasa dan dominan adalah gangguan asap, karena berdampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari,” ujarnya.
 
“Untuk saat ini kebakaran hutan masih terjadi. Berdasarkan data hotspot (titik panas) dari NOAA-18 sampai dengan akhir September 2012, sebaran hotspot masih terlihat di beberapa provinsi, yakni Kalimantan Barat (6.280 titik), Sumatera Selatan (5.714), Riau (4.600), Kalimantan Tengah (3.205), dan Jambi (2.311),” imbuh Dedi.
 
Dedi menuturkan lebih lanjut mengenai perlunya penanganan yang serius dalam permasalahan kebakaran hutan saat ini. Pada dasarnya semua pihak harus bertanggung jawab. “Pemerintah maupun masyarakat harus lebih mengutamakan aspek pencegahan, karena akan lebih efektif untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan.”
 
Dalam perjalanan panjang WWF Indonesia dalam menjaga kelestarian hutan di Indonesia, WWF Indonesia juga turut dalam mengupayakan solusi dari permasalahan kebakaran hutan di Indonesia ini. Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan fisik di lapangan untuk mengurangi kebakaran telah banyak dilakukan, di antaranya monitoring hotspot dan memetakan distribusi hotspot menurut penggunaan lahan, memetakan konsesi perusahaan yang terindikasi terdapat hotspot di areanya, dan penyelenggaraan judicial workshop untuk penegakan hukum kasus kebakaran hutan dan lahan.
 
“Saat ini WWF juga tengah mengadakan sejumlah kegiatan untuk mengantisipasi kebakaran hutan, yakni memfasilitasi masyarakat dalam peningkatan kapasitas pengendalian kebakaran hutan dan lahan, sosialisasi zero burning, serta peningkatan kesadaran bahaya kebakaran. Tak hanya itu, WWF Indonesia juga sedang mensosialisasikan dan mempromosikan zero burning dan sistem manajemen kebakaran kepada sektor swasta, memfasilitasi antar instansi pemerintah di daerah untuk mensinergikan upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan, serta mendorong pemerintah daerah untuk menerbitkan perda yang mengatur pengendalian kebakaran hutan dan lahan,” ungkap Dedi.


 
Tentang WWF Indonesia 
WWF adalah organisasi konservasi global yang mandiri dan didirikan pada tahun 1961 di Swiss, dengan hampir 5 juta suporter dan memiliki jaringan di lebih dari 100 negara. Di Indonesia, WWF hadir sejak tahun 1962 untuk program badak bercula satu di Ujung Kulon, menjadi yayasan pada tahun 1998, dan bergiat di lebih dari 25 wilayah kerja di 17 propinsi. Misi WWF-Indonesia adalah menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak ekologis aktivitas manusia melalui: Mempromosikan etika konservasi yang kuat, kesadartahuan dan upaya-upaya konservasi di kalangan masyarakat Indonesia; Memfasilitasi upaya multi-pihak untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan proses-proses ekologis pada skala ekoregion; Melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakan hukum yang mendukung konservasi, dan; Menggalakkan konservasi untuk kesejahteraan manusia, melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Untuk informasi selengkapnya, klik www.wwf.or.id atau www.panda.org
sisa  kebakaran hutan pada  tahun 1996 hingga saat ini masih belum dilakukan rebaoisasi kembali.
sisa kebakaran hutan pada tahun 1996 hingga saat ini masih belum dilakukan rebaoisasi kembali.
© Saliah Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus