Empat Dekade Konservasi Penyu di Indonesia: Beberapa Studi Kasus Menunjukkan 50% Populasi Penyu Terselamatkan



Posted on 21 October 2012  | 

Rilis Media: Untuk disiarkan segera 21 Oktober 2012
  

 

Empat Dekade Konservasi Penyu di Indonesia: Beberapa Studi Kasus Menunjukkan 50% Populasi Penyu Terselamatkan


Lombok, NTB (21/10) – “Konservasi adalah tindakan budaya, karena itu harus bisa diterima bila setiap lokasi melakukan upaya konservasi secara berbeda-beda. Namun bila didiskusikan, bisa mengerucut dan mencapai kesepakatan,” ujar Dr. Ida Bagus Windia Adnyana, Pimpinan Program Studi Penyu di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, dalam arahannya kepada peserta Mini Simposium Menakar Keberhasilan Program Konservasi Penyu Laut di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia (KKJI KKP) bekerjasama dengan WWF-Indonesia di Lombok, Nusa Tenggara Barat (21/10/2012).


Toni Ruchimat, Direktur KKJI, dalam sambutannya mengatakan bahwa simposium ini sangat dibutuhkan karena Indonesia perlu menghimpun data konservasi penyu yang saat ini terserak di setiap lokasi-lokasi konservasi. “Simposium ini mengumpulkan praktisi dari seluruh penjuru Indonesia, dan akan menghasilkan data populasi penyu nasional. Saya sangat menghargai seluruh peserta simposium, dan setelah simposium ini akan dibentuk jejaring konservasi penyu Indonesia,” ujar Toni.

Mini simposium ini dihadiri oleh praktisi konservasi penyu dari Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Maluku Tenggara, Papua Barat. Sembilan belas pembicara menyampaikan data, pengalaman dan hasil pembelajaran dari aktivitas konservasi penyu di lokasi masing-masing.


“Data kuantitatif populasi penyu saat ini belum bisa dihasilkan, karena informasi mengenai seluruh habitat peneluran penyu belum dimiliki oleh Indonesia,” lanjut Windia. Dalam simposium ini terkumpul data dari 10 situs peneluran terbesar di Indonesia, juga diketahui bahwa di seluruh lokasi tersebut 100% telur bisa diamankan dari pencurian, juga ancaman dari predator dan alam bisa diminimalisir.


Windia mengatakan, “Data yang terkumpul disini, bila ingin dikuantifikasi, bisa dikatakan 50% dari total tukik yang menetas bisa di selamatkan. Ini merupakan keberhasilan upaya konservasi di Indonesia yang sudah dilakukan hampir selama 4 dekade ini. Kita harus optimis, karena kerja selama ini tidak sia-sia.”


“Ancaman terhadap penyu masih seperti dulu, perdagangan daging dan telur masih ada, ditambah dengan munculnya permintaan plastron utk pasar internasional,” demikian disampaikan Wawan Ridwan, Direktur Progam Kelautan dan Perikanan WWF-Indonesia pada kesempatan menutup acara simposium. Ancaman dari predator masih ada, juga konflik kepemilikan lahan dan dari perubahan iklim, misalnya banyaknya telur yang tidak menetas karena infertilitas dan abrasi.


Dengan beragamnya ancaman ini, kegiatan konservasi tidak cukup dilakukan seadanya, diperlukan adaptasi strategi. Ancaman dari luar kawasan, seperti perdagangan plastron internasional, tidak bisa ditangani hanya kegiatan penegakan hukum setempat, tetapi harus lewat berbagai inisiatif regional/internasional.


Ada pula ancaman dari praktek perikanan yang sering menyebabkan tangkapan sampingan. Dalam upaya mitigasi tangkapan sampingan ini tampak jelas keberhasilan upaya konservasi penyu, karena jumlah tangkapan sampingan penyu yang bisa dilepaskan dalam keadaan hidup mencapai 98% pada perikanan tuna longline yang menggunakan pancing lingkar.


Di banyak tempat, khususnya di kawasan Sunda Kecil (Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan NTB) mulai mengembangkan inisiatif pariwisata berbasis penyu. Ada peluang konservasi disana, tapi diperlukan suatu kebijakan, petunjuk teknis dan pelaksanaan yang relevan dengan kebutuhan biologi penyu laut agar pelaksanaan wisata berbasis penyu dapat memberi lebih banyak manfaat ketimbang kerugian.


Dalam kesempatan ini berhasil di inisiasi terbentuknya Jejaring Kelompok Praktisi Konservasi Penyu di Wilayah Jawa Timur dan Sunda Kecil bagian barat. Jejaring ini dikoordinir oleh Ikram M. Sangaji, Kepala Badan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) KKP Denpasar.

***


Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

  • Ida Bagus Windia Adnyana, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana; 08123828010, adnyanawindia@gmail.com
  • Creusa Hitipeuw, Marine Species Specialist WWF-Indonesia; 08124856441, chitipeuw@wwf.or.id
  • Dewi Satriani, Marine Communications Manager WWF-Indonesia; 0811910970, dsatriani@wwf.or.id

 

Catatan untuk Redaksi:
Penyaji dalam mini simposium ini berasal dari:

    • Abun – Kab. Tambraw, Papua Barat
    • Pulau Piai – Kab. Raja Ampat, Papua Barat
    • Kepulauan Derawan – Kab. Berau, Kalimantan Timur
    • Kawasan Konservasi Perairan Daerah Teluk Tamiang – Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan
    • Paloh – Kab. Sambas, Kalimantan Barat
    • Pangumbahan – Kab. Sukabumi, Jawa Barat
    • Taman Nasional Meru Betiri, Sukamade – Kab. Banyuwangi, Jawa Timur
    • Kepulauan Anambas – Kab. Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau
    • Pulau Karabak Ketek – Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat
    • Pulau Banyak – Kab. Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam
    • Yayasan Penyu Banyuwangi – Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur
    • Perancak – Kab. Jembrana, Bali
    • Kedonganan – Kab. Badung, Bali
    • Serangan – Kotamadya Denpasar, Bali
    • Kei Kecil – Kab. Maluku Tenggara, Maluku
    • Taman Nasional Alas Purwo – Kab. Banyuwangi, Jawa Timur
    • Program Mitigasi Tangkapan Sampingan WWF-Indonesia
Salah satu potensi wisata bawah laut Kabupaten Berau
© WWF-Indonesia / Cipto A GUNAWAN Enlarge
Tukik (Anak Penyu) yang baru menetas di lokasi penetasan
© WWF-Indonesia/Aulia RAHMAN Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus