Membangun Ekonomi Hijau di Kalimantan Barat dan Wilayah Perbatasan Heart of Borneo



Posted on 04 December 2012  | 
© WWF-Indonesia/Markus LasahEnlarge

PONTIANAK (4/12) Dalam rangka ulang tahun perak Yayasan Dian Tama (25 tahun) dan ulang tahun emas WWF-Indonesia (50 tahun), kedua LSM ini dengan didukung oleh The Samdhana Institute bekerjasama menggelar lokakarya bertema green economy selama tiga hari, 4-6 Desember 2012, di Pontianak dengan mengusung topik “Membangun Ekonomi Hijau: Sebuah Pembelajaran Bersama dalam Mendorong Usaha Masyarakat yang Berkelanjutan dan Berbasis Pemanfaatan Aset Alam yang Lestari di Kalimantan Barat dan Wilayah Perbatasan Heart of Borneo”.

Pulau Kalimantan memiliki modal sosial dan modal Sumber Daya Alam (SDA) yang sangat tinggi, dan secara historis dan efektif saling terkait untuk menciptakan kondisi pengelolaan SDA secara berkelanjutan di wilayah tersebut. Namun seperti dialami wilayah dan pulau lain di Indonesia, kebutuhan pembangunan ekonomi semakin meningkat tajam, sedangkan perubahan iklim, krisis ekonomi, konversi lahan dan tata kelola SDA yang tidak berkelanjutan menimbulkan korban/kehilangan pada ketahanan aset alam dari Pulau Kalimantan, termasuk wilayah Heart of Borneo (HoB) di dalamnya, serta mata pencaharian masyarakat adat dan masyarakat lokal.

Pada pelaksanaan ‘Lokakarya Ekonomi Hijau dan Partipasi Masyarakat Sipil’ kerjasama JARI Borneo Barat dan WWF-Indonesia di Pontianak pada November 2010, beberapa isu yang didiskusikan menegaskan kembali pentingnya prinsip dasar dan strategi yang perlu diadopsi dalam pengembangan ekonomi hijau di Kalimantan Barat khususnya dan Kalimantan pada umumnya, termasuk mengeksplorasi pengembangan produk berbasis keanekaragaman hayati, isu tenurial, penguatan akses masyarakat, tata kelola aset alam, replikasi keberhasilan pengembangan kewirausahaan di tingkat masyarakat kepada komunitas lain, integrasi program restorasi ke dalam revitalisasi dan pengayaan tembawang, dan beberapa isu strategis lainnya.  

Lokakarya kali ini diharapkan dapat menjadi ajang saling tukar pengalaman dan informasi antara pemerintah, swasta, LSM, dan masyarakat serta dapat merumuskan beberapa rekomendasi dan tindak lanjut yang lebih konkret dalam mempromosikan gagasan ekonomi hijau dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di Kalimantan, termasuk di wilayah Heart of Borneo.

“Harapannya juga lokakarya ini dapat mempromosikan beberapa teknologi tepat guna seperti teknologi arang untuk berbagai dimensi kehidupan,” ungkap Herculana Ersinta, Direktur Eksekutif YDT.

Secara lebih khusus, mengingat pada tanggal 12 Desember 2012 yang akan datang Pos Lintas Batas (PLB) Badau-Lubok Antu akan dibuka secara resmi oleh pemerintah Indonesia dan Malaysia, diharapkan pula rumusan yang pernah dihasilkan pada saat Lokakarya Green Economy yang pertama di Pontianak, Kalimantan Barat  pada November 2010, dan berbagai pengalaman oleh masyarakat di bidang pertanian, usaha kerajinan, hasil hutan bukan kayu, ekowisata, dan lainnya perlu dianalisis lagi dalam konteks perbatasan Malaysia-Indonesia dan potensi membangun usaha ekonomi hijau di lapangan lebih sesuai dan merata. Perbatasan dan keterlibatan masyarakat dari kedua  negara dalam Inisiatif HoB bisa menjadi garis dinamika dan interaksi yang positif untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan menjaga aset alam Pulau Borneo, khususnya sebagai menara air bagi pulau ini.

“Upaya membangun ekonomi hijau di Kalimantan Barat berhadapan dengan banyak tantangan, seperti kesulitan akses dan medan fisik di wilayah perbatasan, peranan desa tokoh masyarakat adat, dan kaum perempuan sebagai salah satu aktor kunci perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dilandasi keterikatan secara ekonomi-sosial-budaya dengan negara tetangga,” lanjut Herculana Ersinta.

Disampaikan oleh M. Hermayani Putera, Manajer Program Kalimantan Barat, WWF Indonesia bahwa upaya membangun Ekonomi Hijau dan pembangunan berkelanjutan yang mampu memenuhui berbagai tuntutan kesejahteraan dan perlindungan daya dukung jasa lingkungan, harus didukung segenap elemen strategis seperti pemerintah, pelaku bisnis dan masyarakat sipil. “Karena itu, upaya ini juga tidak lepas dari keterlibatan penuh masyarakat kedua negara dan proses yang menyajikan informasi yang tepat dan lengkap, menguatkan kesadaran dan pemahaman, serta menjamin keterbukaan dan perencanaan bersama,” jelasnya.

Lokakarnya menghadirkan berbagai pihak mulai dari petani, pengrajin, tokoh masyarakat dan tokoh adat, akademisi, pemerintah, LSM lokal dan nasional, pengusaha dan perwakilan mahasiswa, serta perbankan. Hari pertama akan menyajikan topik seputar ekonomi hijau, gerakan masyarakat sipil, dan peningkatan kerjasama masyarakat di wilayah perbatasan. Sedangkan hari kedua akan memfokuskan pada peran perempuan dalam pengelolaan SDA dan pembangunan ekonomi lokal. Dan topik di hari ketiga membahas tentang arang untuk kehidupan (pengelolaan berbasis teknologi arang).

Dalam upaya membangun kapasitas kelompok masyarakat dan penyampaian informasi kepada publik yang lebih luas, kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Orchardz Ayani, Jl. Perdana No. 8 Pontianak ini akan dirangkaikan dengan display beberapa hasil produk masyarakat (kerajinan tangan, makanan, produk organik, paket ekowisata, energi terbarukan mikro hidro, dll), pameran foto dan publikasi yang terkait dengan isu ekonomi hijau, dan lain-lain.

 

Untuk informasi lebih lanjut, kontak narasumber:

Herculana Ersinta
Direktur Eksekutif Yayasan Dian Tama
Jl. AR. Saleh Gg. Cakra No. 12
Pontianak 78124
Tel.: (0561) 735268
Fax: (0561) 583998
HP: 08152231480
Email: ernipandan@yahoo.com

 

M. Hermayani Putera
Manajer Program Kalimantan Barat
WWF-Indonesia
Jl. Dr. Rubini No. 9-A Pontianak 78121
Tel./Fax: (0561) 734049
HP: 0811578287
Email: hputera@wwf.or.id

© WWF-Indonesia/Markus Lasah Enlarge