Tantangan "Blue Economy" untuk Indonesia



Posted on 10 December 2012  |   |  en  |  id
 Konsep pembangunan Blue Economy (Ekonomi Biru) pertama kali disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya di acara Leaders Valuing Nature dalam rangkaian pertemuan Rio+20 di Brazil, Juni 2012 lalu. Ekonomi Biru menjadi haluan baru untuk pembangunan di Indonesia yang mengutamakan pemanfaatan sumber daya alam bagi pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kesehatan lingkungan.

Merespons seruan itu, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Coral Triangle Global Initiative (CTGI) dan WWF-Indonesia menyelenggarakan seminar Blue Economy pada Selasa, 4 Desember 2012 di Hotel Golden Flower, Bandung. Seminar bertujuan untuk memperkenalkan konsep Ekonomi Biru kepada sektor swasta di Indonesia, sekaligus peluncuran pertemuan ketiga “Forum Bisnis Regional” (3rd Coral Regional Business Forum/3rd CT RBF) yang akan diselenggarakan pada 25-27 Maret 2013 di Denpasar, Bali (www.ctirbf2013.com). Forum ini melibatkan enam negara di wilayah segi tiga terumbu karang dunia (Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Timor Leste, Solomon). Seminar setengah hari ini dihadiri oleh beberapa perwakilan industri, pemerintah, akademisi, dan sejumlah mahasiswa. 

Hadir sejumlah pembicara dalam seminar, antara lain Prof. Dietrich Bengen dari Institut Pertanian Bogor (IPB), yang memberi pengantar tentang Ekonomi Biru, serta Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K), yang diwakili oleh Agus Dermawan, Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil. Beliau mengetengahkan materi tentang peluang penerapan Ekonomi Biru pada sektor kelautan dan perikanan. 

“Pemerintah sangat mendukung industri untuk menerapkan Ekonomi Biru. Kami di bagian pesisir dan pulau-pulau kecil bahkan sudah membuat pilot project Blue Economy melalui program Minapolitan. Kami sudah menjalankannya di beberapa wilayah,” kata Agus. 

Daniel Rembeth, penasihat senior dari kelompok media Berita Satu menjadi pemandu dalam seminar pada sesi pertama. “Saya senang sekali diundang menjadi chair di seminar ini. Menurut saya, penting bagi swasta untuk lebih tahu tentang Ekonomi Biru karena mereka bisa membuat usaha baru saat berpikir cara memanfaatkan alam secara lebih kreatif,” ujar Daniel. 

Tantangan konsep pembangunan Ekonomi Biru sesungguhnya bertumpu pada dunia usaha dan sektor industri di tengah sumber daya alam yang kian terbatas. Kamar Dagang dan Industri RI (KADIN), diwakili oleh Rosdinal Salim, memaparkan materi tentang sejumlah peluang berikut tantangan yang perlu dijawab secara bersama-sama oleh berbagai pihak, terutama regulator (pemerintah) dalam memfasilitasi dunia usaha dan sektor industri yang berkomitmen menerapkan konsep ini ke depan. Disampaikan perlunya investasi pada infrastruktur dan regulasi yang kompak disertai insentif, dan sumber daya manusia yang akan terus menciptakan inovasi baru bagi pengelolaan sumber daya alam yang lebih efisensi dan efektif. 

“Industri siap mendukung penerapan konsep Ekonomi Biru. Akan tetapi, pemerintah juga harus kompak dengan membangun infrastruktur yang menunjang dan regulasi yang mendukung, seperti insentif bagi pengusaha,” papar Rosdinal.

Namun, pemahaman konsep Ekonomi Biru sendiri masih mengundang perdebatan di antara para peserta seminar. DR. Lida Pet Soede, Koordinator WWF-Coral Triangle Global Initiative (WWF-CTGI) membuka presentasinya dengan pertanyaan, “Warna dominan apa yang dapat Anda simpulkan bila melihat Planet Bumi?” Sebagian besar peserta dalam seminar itu menjawab ‘biru’. Ia lalu menperlihatkan sebuah ilustrasi bahwa bila semua mineral air yang memberi warna biru pada planet ini dikumpulkan maka jumlahnya hanya sebagian kecil dari bagian planet bumi. 

“Diperlukan 1,5 planet untuk menyediakan pangan bagi manusia di Bumi. Kita hanya punya satu planet, setengah planetnya lagi harus dicari di mana untuk memenuhi kebutuhan pangan ini?” lanjut Lida. Inti dari pemaparannya mengungkapkan bahwa planet ini hanya satu, sementara kebutuhan manusia akan pangan, air, dan energi terus meningkat. Inovasi sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan  dalam menyelamatkan ekologi sambil memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sesuai  gagasan yang ada dalam konsep Ekonomi Biru.

Seminar ini juga melibatkan para pemikir muda yang dikumpulkan dari kompetisi menulis essay tentang Ekonomi Biru dari berbagai universitas di Indonesia, di antaranya dari Universitas Budi Luhur Jakarta, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada Jogjakarta, Institut Teknologi Surabaya, dan Universitas Udayana Denpasar. Para pemenang kompetisi kemudian dilibatkan dalam seminar sebagai youth think-tank (para pemikir muda) dan diberi kesempatan untuk memaparkan gagasannya mengenai Ekonomi Biru. 

Dari gagasan menarik mereka, sejumlah ide diketengahkan untuk menantang dunia usaha dan pemerintah. Di antaranya skema bisnis untuk pengelolaan kawasan laut yang mempertimbangkan ekologi, ekonomi dan sosisal wilayah, pengelolaan limbah perut ikan dari industri masyarakat di pantai selatan Gunung Kidul menjadi Silae, pengelolaan limbah buah kelapa dari industri hotel dan restoran di Denpasar menjadi cocofiber, dll. Gagasan inovatif dari pemikir muda ini selanjutnya akan disampaikan sebagai sebuah resolusi pada pertemuan 3rd CT RBF.

Menerjemahkan ide-ide Ekonomi Biru ke masyarakat luas juga menjadi tantangan tersendiri yang mengemuka dari seminar. Dibutuhkan keterlibatan media massa dalam menggerakkan berbagai sektor menuju konsep pembangun ini. Meski masih ditanggapi beragam oleh sejumlah peserta seminar, sejauh ini Ekonomi Biru dipahami sebagai sebuah cara pengelolaan sumber daya alam yang mengutamakan efisiensi dan efektivitas. Ekonomi Biru menggunakan beberapa prinsip, yakni kreativitas, inovasi, memanfaatkan sumber daya lokal, dan pemanfaatan material hingga tidak menyisakan limbah dalam upaya pengelolaan sumber daya alam yang lebih baik di masa depan. 
 
 
Untuk informasi lebih lanjut mengenai konsep Ekonomi Biru, silakan menghubungi:
 
Dewi Satriani 
Marine Communication Manager WWF-Indonesia
Graha Simatupang Tower 2 Unit C
Jalan Letjen TB. Simatupang, Jakarta 12540
Telp/Faks.: 021-7829426-29/021-7829462
HP: 0811910970
Email: dsatriani@wwf.or.id
 
 
Referensi tentang Ekonomi Biru: 
 
Link menuju prinsip-prinsip:
 
Link menuju 100 inovasi:
 
Link beberapa contoh inovasinya:
 
DR. Lida memberi materi dalam seminar Blue Economy di Bandung, 4 Desember 2012
© WWF-Indonesia/Hasrul KOKOH Enlarge
Salah satu peserta seminar mempresentasikan gagasannya
© WWF-Indonesia/Hasrul KOKOH Enlarge
Di akhir sesi, seluruh peserta berfoto bersama
© WWF-Indonesia/Hasrul KOKOH Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus