Lokakarya Pembuatan REL dan Skenario Pembangunan Berkelanjutan di Kutai Barat



Posted on 19 February 2013  | 
Oleh: Sri Jimmy Kustini dan Muis Fajar

Kutai Barat, 19 Februari 2013
. WWF-Indonesia bekerja sama dengan ICRAF dan Pemerintah Kutai Barat menyelenggarakan lokakarya tentang pembuatan REL (Reference Emission Level/Tingkat Laju Emisi) dan Skenario Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Kutai Barat, dengan menggunakan pendekatan dan analisis spasial (Maxent dan Luwes). Hal ini sejalan dengan Rencana Aksi Daerah dalam Penurunan Gas Rumah Kaca (RAD- GRK), baik di tingkat nasional maupun di tingkat Provinsi Kalimantan Timur dalam skenario pembangunan rendah karbon yang mendukung komitmen Pemerintah Republik Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca. Setiap Kabupaten di Kalimantan Timur—termasuk Kabupaten Kutai Barat—harus mempersiapkan strategi dalam mengimplementasikan komitmen tersebut tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi 7% dalam pembangunannya. Dengan adanya RAD-GRK, maka setiap kabupaten akan memiliki rencana upaya bersama untuk menciptakan kegiatan pembangunan yang ramah lingkungan, menggunakan sumber daya dengan efisien, dan sekaligus menurunkan emisi.
 
Lokakarya ini merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan pelatihan MRV sebelumnya yang dilakukan di Balikpapan pada awal Desember 2012 lalu. Kegiatan ini melibatkan sekitar 15 tenaga teknis dari Bappeda, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan Pertanian Tanaman Pangan dan Perternakan , Dinas Pekerjaan Umum, Bagian Pemerintahan Setkab Kutai Barat, dan Dinas Pertambangan dan Energi. Narasumber dalam pelaksanaan lokakarya ini berasal dari WWF-Indonesia dan ICRAF Bogor.
 
Dalam sambutannya, Kepala Bappeda yang diwakili oleh Sekretaris Bappeda, Dr. Stephanus Madang, S.Sos, MM, menyampaikan bahwa guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Kutai Barat diperlukan suatu rencana atau skenario pembangunan berkelanjutan yang melibatkan kerja sama dan komitmen semua pihak dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan program pembangunan berkelanjutan yang sejalan dengan visi dan misi kabupaten. Terlebih lagi Kutai Barat masih memiliki kawasan hutan yang cukup luas dan sumber daya alam lainnya yang masih belum dikelola serta ditata dengan baik guna peningkatan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat dengan memperhatikan unsur lingkungan hidup dan sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Stephanus Madang berharap agar para peserta bisa berpartisipasi aktif dan memanfaatkan kegiatan tersebut untuk meningkatkan kapasitas dan wawasan mereka sehingga kelak pengetahuan dan ketrampilan yang didapatkan bisa diterapkan dalam menjalankan tugas mereka di tim teknis dan instansi masing-masing untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Kutai Barat. 
 
Project Leader WWF-Indonesia Program Kutai Barat, Arif Data Kusuma, menyatakan bahwa kegiatan pembuatan REL dan Skenario Pembangunan Berkelanjutan yang akan dilaksanakan secara menyeluruh di Kabupaten Kutai Barat tersebut akan memberikan dampak besar bagi pelestarian lingkungan hidup dan perlindungan keanekaragaman hayati serta mitigasi perubahan iklim di Indonesia. WWF-Indonesia meminta kerja sama semua pihak untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Kutai Barat. Lebih lanjut, Arif Data menyatakan bahwa kegiatan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat dan ICRAF itu dilakukan secara bertahap dan akan berlangsung selama 9 hari yang dibagi dalam 3 tahap kegiatan, yakni pada 19-20 Februari, 24-28 Februari, dan 5-7 Maret. Kegiatan dilaksanakan terpisah di Kutai Barat dan di Bogor.
Suasana lokakarya REL dan Skenario Pembangunan Berkelanjutan di Sendawar, Kutai Barat
© WWF-Indonesia/sri Jimmy KUSTINI Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus