Bupati Kapuas Hulu Luncurkan Radio Komunitas Sura Suta



Posted on 07 February 2014  | 
Peluncuran Radio Komunitas Bunut Hilir oleh Bupati Kapuas Hulu, H Abang Muhamad Nasir
© WWF-Indonesia/Program KalbarEnlarge
BUNUT HILIR - Bupati Kapuas Hulu, H Abang Muhammad Nasir meluncurkan Radio Komunitas Sura Suta di Desa Bunut Hilir, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kamis (6/2/2014). Kehadiran radio komunitas di ruang dengar warga ini diinisiasi WWF-Indonesia Program Kalbar dan LPS-AIR.

AM Nasir dalam siaran perdananya yang dipancarkan melalui gelombang FM 107 Mhz mengajak warga Bunut Hilir menyampaikan informasi di kampung masing-masing melalui radio milik warga itu. "Saya mengajak pendengar Radio Sura Suta untuk menyampaikan informasi dari kampung masing-masing melalui radio ini. Jadikan fasilitas ini sebagai ajang silaturrahim antar-warga," katanya.

Dia juga minta pengelola Radio Sura Suta agar merawat baik-baik fasilitas yang sudah ada, agar alat tersebut dapat tetap beroperasi untuk kepentingan masyarakat. Selain itu, daya pancar yang dimiliki saat ini masih perlu diperluas. Radio Sura Suta memiliki kemampuan pancar hingga radius 20 kilometer. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa sejumlah desa yang masuk kategori remote area dapat mendengar siaran yang dipancarkan dari Studi Sura Suta di Bunut Hilir.

Kepala Desa Bunut Hilir, Rizal Matubu memastikan semua desa di Kecamatan Bunut Hilir dapat menerima siaran Radio Sura Suta. "Kita ada 11 desa dan semua sudah dikonfirmasi menerima siaran dengan baik. Desa-desa itu di antaranya Teluk Aur, Empangau, Nanga Tuan, Tembang, Bunut Hulu, bahkan desa terjauh seperti Entibab juga menerima siaran Sura Suta," katanya.

Selain Kecamatan Bunut Hilir, tiga kecamatan lainnya di Kapuas Hulu, yakni Jongkong, Embaloh Hilir, dan Boyan Tanjung, dapat menerima siaran radio komunitas itu. "Tinggal Selimbau yang belum ada konfirmasi. Mudah-mudahan kualitasnya dapat kita tingkatkan," kata Rizal.

Sementara Koordinator Komunikasi WWF-Indonesia Program Kalbar, Jimmy Syahirsyah mengatakan radio kumunitas ini adalah rangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sudah dilakukan sebelumnya lewat program Panda Click. "Spirit Panda Click itu mendorong masyarakat berperan aktif dalam pembangunan. Dan sejauh ini, masyarakat kita masih terkendala alat komunikasi," ucapnya.

Jimmy menjelaskan, masyarakat bukan tak diajak pemerintah atau diberi kesempatan berperan aktif dalam pembangunan. Tapi, kemampuan warga dalam menyampaikan ide-idenya kadang masih sangat lemah.

Lewat fotografi, jelas Jimmy, masyarakat sudah punya kemampuan dengan baik. WWF melihat kondisi seperti ini harus dilanjutkan dengan mencarikan media lain. "Sebut saja radio komunitas. Bentuknya bisa interaktif. Isu dari masyarakat dapat didiskusikan langsung dan mendorong perubahan secara lebih cepat. Menggali budaya di desa, dan potensi yang dimiliki, bisa jadi bahan obrolan di radio komunitas ini," urainya.

Senada dengan Jimmy, Direktur LPS-AIR, Deman Huri Gustira mengatakan berdirinya radio komunitas ini sebagai sesuatu yang sangat menarik. "Alat informasi di Bunut Hilir ini sangat bermanfaat. Apalagi di sini blank spot. Cuma RRI yang ada. Ini sayang sekali. Dan radio ini sangat bermanfaat karena ia bersumber dari masyarakat dan untuk masyarakat.

Deman menjelaskan, masyarakat Bunut Hilir masih sangat lemah dalam akses informasi. "Padahal kaya akan sumber daya alam. Saya kira kehadiran Radio Sura Suta dengan tagline Menyelamatkan Sungai Kapuas, akan memberi dampak besar bagi masa depan Bunut Hilir," ucapnya.

Peluncuran Radio Komunitas Bunut Hilir oleh Bupati Kapuas Hulu, H Abang Muhamad Nasir
© WWF-Indonesia/Program Kalbar Enlarge