Suka Makan Gorengan vs Pelestarian Gajah | WWF Indonesia

Suka Makan Gorengan vs Pelestarian Gajah



Posted on 12 August 2015   |  
Happy World Elephant Day
© WWF-Indonesia
Oleh Diah R. Sulistiowati, Koordinator Kampanye Hutan dan Spesies

Suka makan gorengan? Apalagi jika dimakan saat masih panas, ditambah cabai rawit atau dibubuhi sambel kacang? Sudah pasti rasanya maknyuss? Dan pastinya Anda tak berhenti pada satu gorengan.

Tapi tahukah Anda? jika Anda suka gorengan artinya secara tak sadar, Anda berkontribusi pada kematian gajah? Pasti kaget setengah mati bukan? dituduh ikut andil dalam pembunuhan binatang yang dilindungi ini? Mengapa tidak? Sebab 70% kematian gajah disebabkan diracun oleh pemilik kebun sawit, gajah-gajah ini dianggap hama karena memakan umbut (ujung) dari pohon sawit. Terlebih jika sawit ini sudah memasuki tahap panen? Terbayang kerugian yang dialami oleh petani sawit. Pastinya mereka mengambil jalan mudah dengan cara meracun gajah, bukan mengusir. Dan Anda mendukung petani ini dengan memakan gorengan, yang digoreng dari hasil dari produksi kebun sawit yang membunuh gajah!

Bagaimana caranya agar Anda tetap bisa makan gorengan tapi tidak dituduh sebagai pembunuh satwa langka ini? Yak, gampang saja, Anda tinggal cari minyak goreng atau marganin yang berlogo RSPO. RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), yaitu merupakan asosiasi nirlaba yang menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit - produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank dan investor, LSM baik LSM pelestarian lingkungan atau konservasi alam, maupun sosial.

RSPO bersama para pemangku kepentingan bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk minyak sawit berkelanjutan. Perwakilan beragam pemangku kepentingan dicerminkan pada struktur kepemimpinan RSPO di mana kursi Dewan Eksekutif dan Kelompok Kerja dialokasikan secara adil bagi setiap sektor. Dengan ini, RSPO mengikuti filosofi "roundtable" dengan memberikan hak yang sama bagi setiap kelompok pemangku kepentingan untuk membawa agenda yang spesifik bagi kelompok ke Roundtable, memfasilitasi kerjasama dan kepentingan berbagai pihak menuju tujuan yang sama dan membuat keputusan berdasarkan konsensus.

Dengan adanya logo ini, dijamin produk-produk minyak sawit yang keluar dari produsen yang sudah memegang sertifikasi RSPO ini aman dari pembunuhan gajah. Tak hanya pelestarian gajah yang diatur tapi juga mereka menerapkan dan menegakan standar konsistensi dengan hukum hak asasi manusia internasional dan menghormati hak masyarakat.

Roundtable mempromosikan praktik produksi minyak sawit bekelanjutan yang membantu mengurangi deforestasi, melestarikan keanekaragaman hayati, dan menghargai kehidupan masyarakat pedesaan di negara penghasil minyak sawit.

RSPO juga menjamin bahwa tidak ada hutan primer baru atau kawasan bernilai konservasi tinggi lainnya yang dikorbankan untuk perkebunan kelapa sawit, menerapkan praktik terbaik yang berterima, dan bahwa hak-hak dasar dan kondisi hidup jutaan pekerja perkebunan, petani kecil, dan masyarakat asli dihargai sepenuhnya. Dengan pandangan inilah, RSPO secara proaktif terlibat dengan petani kelapa sawit, pengolah sawit, perusahaan, pengecer, LSM dan investor untuk bekerja sama menuju suplai global minyak sawit yang diproduksi dengan bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

Gajah Sumatera
Habitat dan populasi Gajah Sumatera (Elephas maximus) mengalami penurunan drastis. Sekitar 70% habitatnya hilang atau rusak hanya dalam satu generasi (25 tahun) sejak 1985. Sebanyak 23 kantong populasi gajah pun mengalami kepunahan lokal pada periode tersebut, yang sebagian besar berada di Lampung dan Riau.

Pada periode itu juga, penurunan populasi paling drastis terjadi di Riau, terdokumentasi lebih dari 80%. Perhitungan terakhir untuk seluruh Sumatera dari perkiraan beberapa pegiat konservasi baik dari anggota Forum Konservasi Gajah Indonesia dan staf pemerintah dari instansi terkait dalam sebuah lokakarya awal 2014, diperoleh angka sekitar 1.700 ekor gajah yang tersisa di seantero Sumatera. Jumlah ini, bahkan dianggap over-estimate atau berlebih, sehingga perlu pengecekan lapangan. Padahal, perkiraan pada 2007, populasinya masih berkisar 2.400 – 2.800 individu.

Perusahaan kebun sawit yang sudah memegang RSPO ini akan diaudit secara berkala, demi menjaga kinerja dan jaminan terhadap pelestarian spesies, jika ada gajah didalam kebunnya, mereka sudah paham bagaiman cara penanganannya, mereka menerapkan BMP Gajah (Best Management Practices).

Makanya mulai sekarang, cek dulu produk minyak goreng yang Anda beli, pastikan ada logo RSPO nya sehingga Anda tidak lagi dituduh membunuh gajah! Selamat Hari Gajah Sedunia!
Happy World Elephant Day
© WWF-Indonesia Enlarge
Ilustrasi: Petani sawit mencatat jumlah hasil panen
© James Morgan/ WWF-International Enlarge
Meme for Elephant Day_1
© WWF-Indonesia Enlarge
Meme for Elephant Day
© WWF-Indonesia Enlarge
Meme for Elephant Day
© WWF-Indonesia Enlarge
Meme for Elephant Day
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus