Berikan Orangutan “Kemerdekaan” dari Kebun Sawit Tak Lestari | WWF Indonesia

Berikan Orangutan “Kemerdekaan” dari Kebun Sawit Tak Lestari



Posted on 19 August 2015   |  
World Orangutan Day, 19 Agustus
© naturepl.com / Anup Shah / WWF
oleh Diah R. Sulistiowati, Forest and Species Campaign Coordinator
Salah satu  makhluk yang belum “merdeka” hidupnya di alam liar adalah orangutan. Ada dua jenis orangutan di Indonesia, yaitu yang hidup di Sumatera (Pongo abelii) dan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Belum merdeka dalam artian hak hidup mereka di alam bebas telah terenggut dari perubahan fungsi lahan, dari hutan menjadi kebun sawit. Hal ini dibuktikan dari banyak kasus pembantaian orangutan, yang dapat disimak di pelbagai media massa beberapa waktu lalu. Jelas saja konflik ini terjadi, sebab tingginya angka perubahan fungsi lahan. Berdasarkan data dari Indonesia Palm Oil Advocacy Team tahun 2010, ada 10 juta hektare lahan di Kalimantan yang merupakan “rumah” bagi orangutan telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Pembantaian orangutan dapat dikategorikan sebagai tindakan pelanggaran hukum. Pelaku tindakan ini melanggar UU No. 7 Tahun 1999 tentang "Pengawetan Jenis Tanaman dan Satwa," dan UU No. 5 Tahun 1990 tentang "Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya" dengan sanksi hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp lOO juta.

Tak hanya perubahan lahan, perburuan juga menjadi salah satu ancaman. Sebagai gambaran, menurut beberapa ahli dan aktivis ada sekitar 1.000 orangutan diburu dari hutan-hutan di Kalimantan pada 2002, sementara 9.000 orangutan diperjualbelikan hanya dalam waktu empat bulan pada 2001 (Jatna Supriatna, dalam Sinar Harapan). Fakta lain menunjukkan bahwa setiap tahun ada sekitar 1.000 Orangutan Kalimantan dibantai untuk diambil bayinya dan diperdagangkan di Indonesia maupun diselundupkan ke luar negeri. Padahal untuk menangkap bayi orangutan pemburu akan membunuh induknya terlebih dahulu untuk mendapatkan bayinya.


Populasi Orangutan di Alam Liar

Orangutan, baik spesies Sumatera maupun Kalimantan, berada dalam status konservasi yang sangat terancam. Berdasarkan status yang diberikan oleh Lembaga Konservasi Satwa Internasional IUCN, Orangutan Kalimantan dikategorikan spesies genting (endangered), sedangkan Orangutan Sumatera lebih terancam lagi karena masuk kategori kritis (critically endangered). Kedua spesies tersebut juga terdaftar dalam Apendiks l dari CITES (Convention on International Trade in Endangerd of Wild Species of Fauna and Flora) atau Konvensi Perdagangan Internasional  Satwa dan Tumbuhan Liar Terancam Punah. Artinya, orangutan--termasuk bagian tubuhnya--tidak boleh diperdagangkan di mana pun di dunia. 

Pada 1993 diperkirakan jumlah orangutan di Indonesia dan Malaysia turun 30-50 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, sementara habitatnya menyusut 80 persen dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Menurut para pakar orangutan, saat ini diperkirakan populasi mereka di Indonesia hanya tersisa 60.000 individu yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera. Untuk Orangutan Sumatera, diperkirakan populasi yang ada tinggal sekitar 7.000- 11.000 individu.


Bantu Kami, Berikan Kemerdekaan Buat Orangutan

Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit dan turunannya. Pada 2008 saja laba dari penjualan 17,4 juta ton minyak sawit mencapai 6,8 juta dollar US. Sektor perkebunan sawit juga sukses menyumbang 8 milyar dolar US dari total nilai ekspor Indonesia dan mempekerjakan 3 juta orang pada 2007.

Tak usah khawatir, Anda masih dapat membantu memerdekakan orangutan meski masih memakai produk-produk berbahan minyak sawit. Caranya, dengan membeli produk sawit berlogo RSPO, atau sawit yang sudah mendapat sertifikasi “halal” dari pembantaian orangutan. Minyak sawit yang sudah mendapat sertifikasi RSPO ini mengatur segala hal, termasuk jika di dalam kebun industrinya ada populasi orangutan maka harus diadakan penelitian terlebih dahulu terhadap “kantong-kantong” orangutan dan membentuk HCV (High Conservation Value Forest), atau hutan dengan nilai konservasi tinggi. HCV akan menghindari hutan dikonversi menjadi perkebunan. Sejak 19 Agustus dicanangkan sebagai Hari Orangutan Se-Dunia, mari kita berikan orangutan kehidupan yang bebas dan merdeka di alam liar.
World Orangutan Day, 19 Agustus
© naturepl.com / Anup Shah / WWF Enlarge
Heart of Borneo, Sugeng Hendratno, Orang utan, HoB
Orangutan mother and her baby
© WWF-Indonesia/Sugeng Hendratno Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus