ANAK-ANAK GAJAH YANG MALANG



Posted on 25 July 2005  | 

Copyright:

Oleh Samsuardi
Manusia dengan gajah menyukai tempat-tempat yang berkatagori sama seperti daerah yang tidak terlalu berawa, tidak terlalu berbukit, daerah aliran sungai. Karena pemanfaatan ruang yang sama inilah konflik terjadi, semakin intensif pemanfaatan ruang oleh satu pihak mengakibatkan semakin besar pula konflik terjadi.

Berbagai cara dilakukan untuk menghalangi gajah memanfaatkan ruang yang digunakan manusia, seperti mengusir gajah dengan berbagai cara, memasang lampu, membuat kanal, membuat pagar listrik, bahkan sampai pada tindakan-tindakan yang mencelakai gajah seperti menembak dengan senjata api rakitan atau dengan meracun mereka. Pada kondisi ini, resiko yang paling besar diterima oleh anak gajah karena ketidakmengertian dengan ancaman ini, kelemahan fisik, dan sebagainya. Tidak jarang anak gajah terpisah dari induknya atau terpaksa ditinggalkan karena cedera, mati karena memakan makanan beracun yang tidak mereka ketahui dan lain sebagainya.

Sepanjang periode Juni 2004 hingga Juli 2005, 6 ekor anak gajah mempunyai nasib seperti ini. Empat ekor gajah (Dini, Fajar, Rohit, dan Seno) terpisah atau ditinggalkan kelompok kemudian ditangkap masyarakat yang kemudian dievakuasi ke PLG ( Pusat Lathan Gajah) Minas provinsi Riau. Selain itu satu ekor anak gajah (Nn1) ikut tertangkap karena induknya ditangkap, dan satu ekor anak gajah lagi (Nn2) mati di alam, yang belum diketahui penyebabnya.

Rohit, ditemukan dan ditangkap masyarakat Desa Tanjung Beludu, Kecamatan Kelayang Kabupaten Indragiri Hulu, Bulan Juni 2004 ; Dini, ditemukan dan ditangkap masyarakat Daerah Kota Tengah, Kecamatan Kepenuhan, Kab. Rokan Hulu bulan Januari 2005 ; Fajar, ditemukan dan ditangkap masyarakat Tasik Serai Kecamatan Mandau, Kab. Bengkalis, Bulan Maret 2005 ; Seno, ditemukan dan ditangkap masyarakat daerah Kota Tengah, Kecamatan Kepenuhan, Rokan Hulu pada bulan April 2005. Nn1, ikut ditangkap bersama induknya oleh BKSDA Riau di Desa Melibur, Kecamatan Mandau, Kab. Bengkalis, bulan Januari 2005 ; Serta Nn2 ditemukan mati di kebun akasia PT. Riaupulp sektor Ukui, Kecamatan Ukui, Kab, Pelalawan pada akhir bulan Juni 2005. Ini adalah Insiden-insiden yang ditemukan, bagai mana dengan yang tidak sempat ditemukan? mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi.

Bagaimana setelah di PLG ( Pusat Latihan Gajah ) ?
Pada saat ditemukan secara fisik kondisi anak-anak gajah ini masih sehat, kecuali Dini yang mengalami cedera pada kaki kiri depan karena terkilir. Kondisi anak-anak gajah ini mulai menurun saat mereka berada dalam pemeliharaan masyarakat karena kekurang pahaman dalam merawat; mengikat yang tidak benar mengakibatkan terjadinya luka dan infeksi terutama pada kaki. Semakin lama berada ditangan masyarakat, maka fisik gajah juga semakin menurun.

Namun sayang setelah beberapa bulan berada di PLG, kondisi anak-anak gajah ini semakin memburuk. Empat dari 5 ekor anak-anak gajah yang berada di PLG Minas mati. Penyebab utamanya adalah anak-anak gajah ini pada saat terpisah dari induknya masih menyusui. Penyebab lain adalah buruknya perawatan dan perhatian yang diberikan. Dari 4 ekor anak gajah ini hanya Seno yang cukup bagus kondisinya, karena tidak tergantung dengan susu. Sedangkan yang lain belum begitu mampu memakan makanan dari alam.

Seno merupakan anak gajah yang masih hidup dan paling besar dari 5 ekor anak gajah yang dievakusi ke PLG. Ditemukan dan ditangkap oleh masyarakat daerah Kota Tengah, Kecamatan Kepenuhan, Kabupaten Rokan Hulu karena terpisah dari induknya, pada bulan April 2005. Umurnya diperkirakan ± 3 tahun. Luka di kedua kaki belakangnya masih terlihat walau sudah mulai mengering dan luka ditelinga kanan akibat tusukan kayu juga sudah kelihatan mulai kering. Secara fisik Seno kelihatan sehat, namun jika diperhatikan dengan seksama sebenarnya anak gajah ini memiliki beberapa kelainan seperti: belalai kurang berfungsi normal, ujung belalai kurang berfungsi untuk memegang, kemudian belalai hanya bisa mengambil makanan dari arah kiri saja. Selama 3 bulan di PLG kondisi fisik Seno mulai kelihatan menurun terutama satu bulan terakhir ini disebabkan karena makanan yang kurang bervariasi. Satu hal yang menggembirakan adalah selera makannya hingga saat ini cukup bagus.

Sejak Bulan Juni 2005 ini, WWF merekrut satu orang dokter hewan senior untuk membantu kesehatan gajah-gajah di PLG Minas. Termasuk juga membantu memberikan susu dan makanan tambahan yang diperlukan untuk anak gajah yang masih tersisa.

Nama-Nama dan Kondisi Anak Gajah Malang


Foto: Samsuardi/WWF-Indonesia, Tesso Nilo program
Nama: Rohid/Galag
Umur: 20 Bulan
Ditemukan di: Tanjung Beludu, Kab. Inhu
Tanggal: 11 Juni 2004 (usia 8 bulan)
Dibawa ke PLG: 28 Juni 2005
Kondisi Terakhir: Mati, 28 Juni 2005
Riwayat Penyakit: badan Kurus, Anemic, Mal Nutrisi, Susah Buang air Besar dan berbau

Foto: Samsuardi/WWF-Indonesia, Tesso Nilo program
Nama: Dini
Umur: 8 Bulan
Ditemukan di: Kota Tengah, Kab. Rokan Hulu
Tanggal: Akhir Januari 2005
Dibawa ke PLG: 1 Februari 2005
Kondisi Terakhir: Mati, 6 April 2005
Riwayat Penyakit: Diare, Dehidrasi, Kaki Kiri Depan Terkilir, dan todak Mau makan

Foto: Samsuardi/WWF-Indonesia, Tesso Nilo program
Nama: Fajar
Umur: 1,5 Tahun
Ditemukan di: Tasik Serai Duri
Tanggal: Maret 2005
Dibawa ke PLG: Maret 2005
Kondisi Terakhir: Mati, 10 Juni 2005
Riwayat Penyakit: Mencret, Dehidrasi, Infeksi, Tidak Mau Makan, Kotoran Berbau Busuk

Foto: Samsuardi/WWF-Indonesia, Tesso Nilo program
Nama: NN-1
Umur: 8 Bulan
Ditemukan di: Melibur, Duri
Tanggal: Januari 2005
Dibawa ke PLG: Januari 2005
Kondisi Terakhir: Tidak Terlacak, Mungkin Mati
Riwayat Penyakit: -----

Foto: Samsuardi/WWF-Indonesia, Tesso Nilo program
Nama: NN-2
Umur: 14 Bulan
Ditemukan di: Kebun Akasia PT. Riau Pulp Sektor Ukui, Kab. Palalawan
Tanggal: 22 Juni 2005
Dibawa ke PLG:  
Kondisi Terakhir: Ditemukan Mati di pinggir Jalan HTI
Riwayat Penyakit: Vagina dan Usus Berdarah, Linfa Bengkak, Sample isi perut sedang diperiksa Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner Bukittinggi