Kuriani Wartanoi, Menyalakan Pelita untuk Kelestarian Alam di Papua | WWF Indonesia

Kuriani Wartanoi, Menyalakan Pelita untuk Kelestarian Alam di Papua



Posted on 21 April 2017   |  
Kuriani Wartanoi
Kuriani Wartanoi
© WWF-Indonesia/ Irwanto
Oleh: Natalia Trita Agnika
Kartini merupakan sosok perempuan yang menginspirasi, terutama dalam kaitannya dengan edukasi. Setelah munculnya sosok Kartini, makin banyak perempuan yang berkiprah di berbagai profesi dan menjadi sosok yang mampu membawa perubahan positif. Bahkan berbagai rintangan dan kesulitan rela dijalani demi perubahan tersebut, seperti yang dilakukan oleh Kuriani Wartanoi, perempuan di bidang konservasi yang menjalani tugas sebagai Community Outreach Officer Site Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua Program. Melalui tugasnya, Kuri menyalakan pelita harapan untuk kelestarian alam di tanah Papua, khususnya di TN Teluk Cenderawasih.

Sebelumnya, tak terbayang di benak Kuri bahwa dia harus berhadapan langsung dengan masyarakat untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi dalam tugasnya sebagai Community Outreach Officer Site TNTC Papua Program. Maklum, dulu ia merupakan Turtle Monitoring Officer WWF-Indonesia yang bertugas selama tiga tahun di Abun, Papua. “Pertama kali saya bingung bagaimana cara menghadapi masyarakat, bagaimana cara menghadapi perbedaan pendapat. Namun setelah lebih banyak tinggal di lapangan, akhirnya saya tahu bagaimana cara masuk ke komunitas dan tahu bagaimana cara ngomong. Dulu waktu mengamati penyu kan banyak diam, hanya mengamati hehehe,” ujar pemilik nama lengkap Kuriani Wartanoi ini.

Kuri merupakan anak Kepala Suku Wartanoi dari Nabire Timur, di daerah Napan dan Kepulauan Mor Mambor. Kini sudah lebih dari dua tahun Kuri menjalankan aktivitasnya sebagai Community Outreach Officer Site TNTC Papua Program, khususnya di daerah Wondama dan Nabire. Dalam pekerjaannya, Kuri berlayar bersama Kapal Motor (K.M.) Gurano Bintang untuk melakukan perjalanan dengan target sekitar 9 desa, yaitu 5 desa di Teluk Wondama dan 2 desa di Teluk Nabire. Sekali perjalanan biasanya ditempuh sekitar 21 hari. Namun kenyataannya, ada lebih banyak desa yang dikunjungi karena besarnya keinginan masyarakat untuk dibantu dan didatangi oleh Kuri dan tim outreach dari K.M. Gurano Bintang.

[Baca juga: KM GURANO BINTANG: Sarana Pendidikan Konservasi untuk Anak-Anak di Sekitar TN Teluk Cendrawasih]

Perjalanan ke desa-desa tak selalu mulus. Tak jarang ia harus menggunakan perahu masyarakat yang berarti memakan waktu perjalanan lebih lama sekitar 4-5 jam di tengah gelombang dan terkena sinar matahari terik. “Pernah juga saya ikut jolor, semacam perahu tanpa semang yang biasa ada di bagan untuk memuat ikan. Berangkat dari Nabire pukul 09.00 dan baru sampai di Napan-yaur pukul 18.00. Muka hitaaam semua kepanasan hahaha,” kenangnya.

Semua kendala itu ditempuhnya demi bisa menjangkau dan bertemu langsung dengan masyarakat, terutama anak-anak. Selama tinggal di kampung, Kuri akan berkeliling dan menyampaikan pesan konservasi. Saat berinteraksi dengan masyarakat, Kuri biasanya membawa pinang dan sirih sebagai alat komunikasi untuk mempermudah ketika mengobrol. Informasi yang ingin digali maupun pesan yang ingin disampaikan akan lebih mudah terjadi dalam suasana santai yang hangat. Demikian halnya ketika menghadapi anak-anak dalam rangka memberikan pendidikan lingkungan hidup (PLH). Berbekal makanan kecil dan permen, Kuri melakukan obrolan hangat bersama anak-anak. Kuri selalu memastikan bahwa bungkus makanan dan permen dibawa kembali dan tidak dibuang di laut oleh anak-anak.

Kebersamaan dengan masyarakat dan anak-anak membawa kesan tersendiri bagi Kuri. Lulusan Universitas Cenderawasih Jurusan Biologi ini merasa prihatin ketika melihat kondisi sekolah dasar di salah satu kampung yang pernah ia kunjungi yang hanya memiliki seorang guru untuk enam kelas. “Karena kekurangan guru, ada anak kelas 6 SD yang belum lancar baca tulis. Mereka mau mengeja nama saja lama dan kaku sekali. Tapi mereka punya cita-cita tinggi. Ada yang ingin jadi kapten kapal, ada yang ingin jadi dokter. Saya terharu sekali melihat itu,” ungkapnya. Karena kondisi tersebut, tim harus menyesuaikan materi PLH yang ingin disampaikan. Terkadang mereka mengajar siswa kelas 6 SD dengan menggunakan modul yang seharusnya untuk kelas 1 SD.

Sebagai orang asli Papua dan anak kepala suku dari Nabire Timur, Kuri memiliki harapan besar untuk Papua dan masyarakatnya. “Semoga apa yang kami sampaikan ke masyarakat dapat mereka implementasikan langsung di lapangan,” harapnya. Contoh kecilnya adalah tidak lagi membuang sampah di laut. Selain itu, ia juga berharap agar masyarakat makin sadar dan paham ketika ada pihak luar yang berusaha melakukan intervensi dalam kegiatan konservasi.

Memberikan pemahaman ke orang dewasa memiliki kesulitan tersendiri. Karena itulah ia berharap banyak pada PLH yang disampaikan kepada anak-anak. “Dengan PLH ini diharapkan dorang bisa ingat dan dorang bisa sampaikan ke orangtua dorang,” harapnya sambil memandang jauh ke laut lepas, sebuah pemandangan yang sering menjadi teman perjalanannya.
 

Comments

blog comments powered by Disqus