Sophia Kwano: Bertani Kakao Belanda, Membantu Konservasi dan Ekonomi Keluarga | WWF Indonesia

Sophia Kwano: Bertani Kakao Belanda, Membantu Konservasi dan Ekonomi Keluarga



Posted on 21 April 2017   |  
Sophia Kwano sedang memetik kakao Belanda.
Sophia Kwano sedang memetik kakao Belanda.
© WWF-Indonesia/ Benediktus Ohoiwirin
Oleh: Natalia Trita Agnika
Suatu hari, Sophia Kwano nampak sedang membersihkan kebun kakao Belanda di Kampung Klaisu, Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, Papua. Perempuan dari Papua ini juga terlibat dalam pemanenan kakao, mengupas buah kakao, melakukan fermentasi, dan menjemurnya. Selain Sophia, di kampungnya, ada dua perempuan lain yang juga bekerja di kebun kakao Belanda.

[Baca juga: Cokelat Kerafat, Asal Tanah Papua yang Go Internasional]

Sophia melakukan pekerjaan di kebun kakao Belanda membantu sang suami, Arkilaus Lensru. “Sebelumnya mama tidak paham kalau apa yang mama lakukan sebenarnya telah membantu perekonomian keluarga sekaligus membantu kegiatan konservasi,” ujarnya. Hal tersebut baru diketahuinya setelah mendapat pelatihan dari WWF-Indonesia tentang “Peran Perempuan dalam Konservasi”. Dalam pelatihan itu, para perempuan yang telah aktif menjalankan aktivitas peningkatan ekonomi keluarga mendapat pengetahuan baru tentang pentingnya konservasi dan pengelolaan keuangan keluarga. Mereka juga diajak memetakan potensi usaha lainnya yang mendukung perekonomian keluarga, terutama untuk usaha yang ramah lingkungan.

[Baca juga: Peran Perempuan dalam Konservasi di Papua]

Bekerja di kebun kakao Belanda memang berkontribusi bagi konservasi. Pohon kakao yang dibudidayakan dengan prinsip agroforestry menjadikan hutan tetap lestari. Pohon-pohon yang tumbuh di antara pohon-pohon kakao berfungsi sebagai teduhan pohon kakao agar tidak terlalu banyak mendapat sinar matahari yang justru kurang baik untuk pertumbuhan pohon kakao. Teknik budidaya organik juga ramah terhadap lingkungan. Sophia pun tahu apa yang dilakukannya bermanfaat bagi hutan. “Karena kebun kakao ada di dalam hutan, jadi petani tidak boleh tebang pohon-pohon lain yang ada di dalam hutan. Karena dapat penghasilan dari kakao, ambil kayu dari hutan untuk dijual juga dapat berkurang. Selain itu kalau ada lahan kritis, langsung dibersihkan untuk  jadi kebun kakao,” terangnya.

Bertani kakao Belanda sangat membantu perekonomian keluarga Sophia karena merupakan sumber pendapatan utama. Hasilnya dipasarkan ke WWF dan kadang ada pembeli lokal juga yang datang ke kampung. Meski masih terkendala dengan perlengkapan yang masih minim, hasil dari bertani kakao mampu membuat Sophia menyekolahkan anak angkatnya, Kerlen Kwano hingga bangku kuliah di Universitas Cenderawasih, Papua, di tingkat akhir.

Keterlibatan perempuan dalam bertani kakao disambut positif oleh kaum pria di kampungnya. Apa yang dilakukan oleh Sophia merupakan bukti bahwa perempuan memiliki peranan dalam peningkatan ekonomi keluarga berbasis sumber daya alam dan konservasi.
 
Sophia Kwano sedang memetik kakao Belanda.
Sophia Kwano sedang memetik kakao Belanda.
© WWF-Indonesia/ Benediktus Ohoiwirin Enlarge
Proses mengupas kakao sebelum dikeringkan
© WWF-Indonesia / Agus Wianimo Enlarge
Kakao Belanda (Kakao Kerafat)
Kakao Belanda (Kakao Kerafat)
© WWF-Indonesia/ Andhiani M. KUMALASARI Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus