Penanaman 10.000 Mangrove PT Bumi Menara Internusa: Penunjang Eksistensi Budi Daya Udang | WWF Indonesia

Penanaman 10.000 Mangrove PT Bumi Menara Internusa: Penunjang Eksistensi Budi Daya Udang



Posted on 17 July 2017   |  
Berdialog dengan Pak Mukarim
© WWF-Indonesia/Rusdiansyah
Oleh: Rusdiyansyah (Fasilitaor Lokal Jawa Timur WWF-Indonesia)

PT. Bumi Menara Internusa atau lebih sering disebut sebagai PT. BMI adalah salah satu pemain besar yang berkantor pusat di Surabaya fokus dalam pengolahan produk dari udang yang diekspor ke mancanegara. Seiring waktu, perusahaan yang berdiri sejak tahun 1989 kini telah memiliki beberapa pabrik di daerah Dampit, Malang dan Lampung. Perusahaan membeli udang dari masyarakat umum juga dari beberapa tambak yang bekerja sama dengan mereka, salah satu di antaranya adalah PT. Tiwandi Sempana yang berlokasi di daerah Pesisir, Probolinggo. Tambak inilah yang sedang diusahakan oleh PT. BMI untuk bisa mendapatkan sertfikasi dari ASC-Shrimp yang bekerja sama dengan WWF-Indonesia sejak November 2016. Banyak hal yang telah dilakukan oleh perusahaan, di antaranya mengembangkan program kerja bersama atau yang disebut Aquaculture Improvement Program (AIP) untuk memenuhi gap yang ada terhadap standard ASC Shrimp.

Pada 31 Mei lalu, WWF-Indonesia bersama dengan perwakilan PT. BMI dan PT. Tiwandi Sempana melakukan penanaman 10.000 pohon mangrove di pesisir pantai dekat lokasi tambak, Desa Pesisir, Kecamatan Sumber Asih, Kabupaten Probolinggo. Penanaman bibit pohon mangrove ini sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab PT. Tiwandi Sempana terhadap eksistensi ekosistem mangrove untuk menjaga kelestarian lingkungan. Selain itu aktivitas penanaman mangrove juga merupakan salah satu syarat untuk sertifikasi ASC yang tercantum dalam prinsip ke 2 ASC Shrimp, yaitu Penempatan Tambak di Wilayah yang Sesuai secara Lingkungan, dan Melakukan Upaya Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistim Penting.

Penanaman 10.000 bibit mangrove ini adalah tahap pertama penanaman dari total 45.000 bibit yang harus ditanam dalam jangka waktu tiga tahun atau sampai tahun 2019 dengan total luas lahan PT. Tiwandi Sempana yang saat ini sudah beroperasi seluas 9 Ha. Namun, dalam pelaksanaannya PT. Tiwandi Sempana mengalamai kendala, seperti sulitnya untuk mendapatkan bibit dengan harga yang ekonomis dan berkualitas. Pencarian bibit berlangsung hampir dua bulan sejak Maret - April 2017. Setelah beberapa kali melakukan survey akhirnya bibit diperoleh dari Pasuruan, dimana pengelolaanya juga mengelola lokasi wisata mangrove tepatnya di Desa Penunggul, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Bapak Mukarim begitulah ia dikenal, merupakan orang yang sangat memahami teknik pembibitan dan penanaman hingga perawatan mangrove pada tataran praktis. Dari penuturan Bapak Mukarim, beliau sudah bergelut dengan mangrove sejak tahun 1986. Awal mulanya bapak Mukarim menanam mangrove di Desa Penunggul dengan tangan dan uang pribadi. Hal ini berlangsung selama 11 tahun dari tahun 1986 sampai tahun 1997. Selama periode 11 tahun itu ia berhasil menanam mangrove di lahan seluas 68 Ha. Bertahun-tahun menanam mangrove melawan stigma negatif dari masyarakat di sekitarnya, Bapak Mukarim menuai hasil saat hasil kerja kerasnya dilirik Pemerintah Kabupaten Pasuruan dan diikutkan berbagai ajang lomba lingkungan. Kemudian beliau mendapatkan penghargaan Kalpataru pada tahun 2014 dan 2015. Pak Mukarim bertekad untuk membantu proses penanaman ini sukses dengan cara mengajarkan para penjaga tambak PT. Tiwandi Sempana agar menanam dengan baik dan melakukan perawatan sehingga mangrove tumbuh dengan baik sesuai dengan target perbaikan dalam AIP.

Comments

blog comments powered by Disqus