Orangutan Sumatera, Satwa Arsitek | WWF Indonesia

Orangutan Sumatera, Satwa Arsitek



Posted on 17 July 2017   |  
Setelah dilepaskan ke alam, Bobo, Orangutan Sumatra, langsung menikmati pakannya
© WWF-Indonesia/ Anwar Purwoto
Oleh: Azhar

Dalam pengertian yang luas, rumah adalah tempat perlindungan, untuk menikmati kehidupan, beristirahat.Rumah harus memberi ketenangan, kesenangan, kebahagiaan, dan kenyamanan pada segala peristiwa hidupnya. (Frick,2006:1). Hampir sama tapi beda nama dengan manusia rumah bagi satwaliar disebut dengan  sarang, definsi sarang adalah tempat kediaman atau tempat persembunyian / biasanya bagi segala sesuatu yg kurang baik dari gerombolan pengacau (kamus Besar Bahasa Indonesia).

Sarang merupakan sesuatu yang sengaja atau tidak sengaja dibangun untuk digunakan sebagai tempat berkembang biak dan atau sebagai tempat istirahat atau tidur. Pada setiap sarang memiliki letak yang berbeda untuk setiap jenis satwa, misalnya,  ke-satu sarang yang letaknya diatas pohon pada bagian batang, ranting, cabang pohon,  ke - dua sarang juga ada yang terletak dipohon yang dibuat lubang-luban, ketiga sarang yang terletak pada tanah, baik yang dipermukaan tanah, lubang dalam tanah ataupun didalam gua (Ali Kodra, 1990). Spesies pembuat sarnag sering terliaht jenis burung, beberapa diantaranya adalah mamalia, mamalia yang membuat sarang di pohon di hutan Aceh seperti, tupai (Callosciurus notatus), beruang madu (Helarctor malayanus) dan  orangutan Sumatera (Pongo abelii).

Orangutan Sumatera merupakan satwa arboreal yaitu satwa yang menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya di atas pohon, mulai dari makan, minum, sampai istirahat/tidur di sarang yang mereka bangun di dahan pepohonan, orangutan Sumatera butuh sarang, mereka tidur di sarang mereka, setiap malam mereka tidur di sarang baru. Batang pohon mereka rangkai menjadi secara sistimatis diarsiteki menjadi sarang. lebar sarang berbrntuk bundar bisa mencapai satu meter. Orangutan selalu membuat sarang dipagi hari untuk beristirahat dan bermain, jika sang betina memiliki beberapa anak, ia bisa membuat 2 atau 3 sarang per hari. betina Orangutan menggunakan sarang sebagai tempat melahirkan.

Kemampuan Merancang Bangun Sarang

Definsi arsitektur adalah  seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan, jembatan dan lain lain, metode dan gaya rancangan suatu konstruksi bangunan (Kamus Besar Bahasa Indonesia ). Orangutan dapat dikatakan sebagai satwa arsitek /satwa perancang bangun, ini ditandai dengan perilaku orangutan yang membangun sarang diindikasikan sebagai suatu perilaku yang menunjukkan kecerdasan kera besar (Grzimerk, 1972).

Orangutan merancang bangun sarangnya dimulai beberapa tahap, pertama, melingkarkan (rimming) yaitu melekukkan dan secara horizontal sampai membentuk lingkaran sarang kemudian ditahan dengan melekukkan dahan lainnya sehingga membentuk kuncian jalinan dahan. Kedua menggantung (hanging) yaitu melekukkan dahan kedalam linggkarang sarang sehingga membentuk kantung sarang. Ketiga Menopang (Pillaring) yaitu melekukkan dahan kebawah sarang sebagai penopang sarang, terakhir melepaskan (losse) yaitu memutus beberapa dahan dari pohon dan diletakkan kedalam sarang sebagai alas atau dibagian atas sebagai atap. Sarang orangutan ini cukup kuat dan elastis mampu menahan berat orangutan seberat untuk Jantan 50 – 90 kg di alam liar, ini sama beratnya dengan manusia dewasa.

Orangutan memposisikan tempat sarang sebagai berikut,  posisi satu yaitu posisi sarang terletak di dekat batang utama, posisi dua, sarang berada di pertengahan atau di pinggir percabangan tanpa menggunakan pohon atau percabangan pohon lainnya, posisi tiga, sarang terletak di puncak pohon,  posisi ke-empat, sarang terletak di antara dua cabang atau lebih, dari tepi pohon yang berlainan (Van Schaik dan Idrusman, 1996).

Letak sarang telah diposisikan dengan sangat cerdas yaitu dilokasi yang banyak tersedia sumber makanan, kawasan mengasin (salt lick) dan pada pertemuan punggungan bukit atau pada lereng bukit yang mungkin mendapat hangat sinar matahari pandangan yang luas namun terlindung dari terpaan angina dan kekuatan sarang lentur dan elastis.

Kepandaian membuat  sarang telah diajarkan oleh instruktur yaitu induknya, dimana orangutan dari bayi hingga masa penyapihan akan melihat langsung prosesi sarang menyarang, kemampuan dan kepintaran diasah oleh induk selama sembilan tahun, setelah itu orangutan akan disapih /dipisahkan, orangutan Sumatera merupakan satwa terlama didunia yang diasuh oleh induknya selama sembilan tahun, mendesain sarang, memilih lokasi sarang, memilih cabang pohon sarang dan membuat sarang berdekatan dengan pohon buah adalah salah satu kepandaian alami, semua kemampuan merancang bangun sarang telah diajarkan induknya selama sembilan  tahun lamanya. kemampuan arsitek orangutan belajar dialam liar merupakan sisi positif bagian dari kepintaran orangutan merancang bangun sarang, disamping induk mengajarkan sarang juga factor lamanya bersama induk selama sembilan tahun membuat induk tidak produktif, secara alami rentan punah karena induk orangutan terlalu lama bereproduksi dengan rentang waktu sembilan tahun.

Hutan Aceh Rumah Besar Orangutan Sumatera

Menurut perkiraan, jumlah orangutan liar yang terdapat di hutan Sumatera hanya sekitar 6.500  individu, dalam dekade 20 tahun kedepan, menurut IUCN pada tahun 1993 sekitar 80% habitat mereka telah hilang atau musnah. Dan IUCN memperhitungkan bila keadaan ini dibiarkan, maka dalam 10 – 20 tahun ke depan orangutan akan punah. Sehingga IUCN mengkategorikan orangutan sebagai critically endangered atau species atau sebagai satwa yang terancam punah.

Hutan sebagai tempat hidup makan berkembang biak sarang bagi orangutan Sumatera dan  tanpa daya dukung alam maka orangutan tinggal menunggu punah,  perlu keseriusan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat untuk  tidak menambah luasan  perkebunan sawit, ekpansi pertambangan,  perlu keseriusan untuk menyelamatkan sisa populasi orangutan, maka orangutan akan selamat dan bernasib baik dihabitatnya. Hutan Aceh adalah rumah besar bagi orangutan Sumatera, faktanya hutan Aceh adalah habitat terakhir orangutan Sumatera di dunia.

Azhar
Pengamat Satwaliar dan Praktisi Lingkungan Aceh.
Jalan Kuwera 1 No 21 Lamprit , Banda Aceh, Provinsi Aceh.
Hp 081269923974. email:azhar_ou@yahoo.com

 
Setelah dilepaskan ke alam, Bobo, Orangutan Sumatra, langsung menikmati pakannya
© WWF-Indonesia/ Anwar Purwoto Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus