Kelas Bina Cinta Alam untuk Pelajar Pulau Komodo dan Rinca Rutin Digelar BTN Komodo | WWF Indonesia

Kelas Bina Cinta Alam untuk Pelajar Pulau Komodo dan Rinca Rutin Digelar BTN Komodo



Posted on 10 August 2017   |  
Peserta Kelas Bina Cinta Alam di SMP 4 Satap Komodo
© WWF-Indonesia
Oleh:
  • Kusnanto (Marine Biodiversity Monitoring Assistant, WWF-Indonesia)
  •  Euis Zulfiaty  (Bycatch & Sharks Conservation Program Assistant, WWF-Indonesia)

“Perkenalkan, nama saya Yeni. Jika aku menjadi hewan laut, aku ingin menjadi ikan hiu,” kata Yeni, salah satu dari 30 pelajar yang mengikuti Kelas Bina Cinta Alam (24-25/07/17) di SMP 4 Satap, Pulau Komodo. Bergantian, anak-anak ini memperkenalkan diri sambil menyebutkan berbagai macam satwa yang mereka sukai.

Selain komodo sebagai ikon utama, TN Komodo adalah rumah bagi 260 jenis karang, 1000 jenis ikan terumbu, 2 jenis penyu, termasuk 4 jenis hiu dan 2 jenis pari manta. Maka, mencintai kekayaan alam tersebut perlu dipupuk dan diarahkan sejak kanak-kanak.

“Kegiatan edukasi untuk generasi muda seperti ini sangat penting dalam upaya jangka panjang mendukung pelestarian alam di Taman Nasional (TN) Komodo,” tegas Kepala SMP 4 Satap Komodo, tuan rumah Kelas Bina Cinta Alam.Kelas Bina Cinta Alam ini memang merupakan program rutin Balai Taman Nasional Komodo, dan kali ini berkolaborasi  dengan Rumah KSU Sampah Komodo dan WWF-Indonesia.

“Dugong, hiu, penyu, dan manta harus dilindungi ya,“ itulah yang saya ucapkan pada mereka saat kegiatan simulasi inventarisasi biota laut. Ada 30 biota laut yang berbeda-beda, lengkap dengan nama lokal, ciri-ciri, fungsi, makanannya, keunikannya, dan status konservasinya. Mereka kemudian mempresentasikannya di depan kelas, antusias sekali.

“Adik-adik, ada yang tahu bagaimana cara kita menjaga flora dan fauna yang ada di TN Komodo?” tanya oma Bekti, sapaan Margetha Subekti dari Rumah Koperasi Serba Usaha (KSU) Sampah Komodo. Oma Bekti lalu berbagi lewat cerita, yel-yel, dan lagu tentang tidak membuang sampah sembarangan.

“Aku anak Indonesia, cinta flora, cinta fauna, buang sampah, ditempatnya. Yes yes yes!” teriak anak anak penuh semangat.

Memang, Labuan Bajo dan TN Komodo setiap harinya diestimasi memproduksi sebesar 112,4 m3/hari atau setara dengan 12,8 Ton/hari. Berdasarkan komposisi, 40,41% merupakan sampah organik, 33,17% sampah anorganik daur ulang/ekonomis, 5,52% sampah B3, dan 20,9% adalah residu. Jumlah sampah yang sangat besar dan mengancam bagi kelestarian TN Komodo. Melalui Rumah KSU Sampah Komodo, warga dapat menabung sampah untuk kemudian diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih.

Reduce kurangi, Reuse pakai lagi, Recyle daur ulang, hore!” teriak siswa-siswi untuk mengingat tentang konsep 3R pengelolaan sampah. Siswa-siswi SMP ini kemudian terlibat dalam praktek daur ulang sampah yang umum dijumpai di sekitar Pulau Komodo. Mereka membuat produk kerajinan hiasan dengan bahan baku kertas kalender atau kemasan kertas bekas, menjadi wadah dalam bentuk burung.

Kegiatan Bina Cinta Alam juga diadakan oleh BTN Komodo di SD Inpres Kampung Kerora, Seksi I Pulau Rinca, bersama 45 siswa-siswi dengan kelompok Perempuan Peduli Lingkungan, dan WWF-Indonesia.

“Dengan mengenal lebih baik lagi jenis dan manfaat dari flora dan fauna ini, anak-anak  ini bisa lebih cinta dan peduli terhadap TN Komodo,” kata Djulius Boeky, Kepala Seksi I Pengelolaan Taman Nasional Komodo. “Karena merekalah generasi penerus kita, yang akan menjaga kawasan ini di masa depan nanti,” imbuh ia.

Peserta Kelas Bina Cinta Alam di SMP 4 Satap Komodo
© WWF-Indonesia Enlarge
Bermain dan bernyanyi bersama sambil mengenal lebih jauh tentang konservasi
© WWF-Indonesia Enlarge
Tos Ampur KSU Sampah Komodo memberi materi tentang sampah
© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus