Upaya Rehabilitasi Terumbu Karang di Dusun Samboru, Kataloka, Telah Tunjukkan Hasilnya | WWF Indonesia

Upaya Rehabilitasi Terumbu Karang di Dusun Samboru, Kataloka, Telah Tunjukkan Hasilnya



Posted on 13 September 2017   |  
Rock pile batu liang setelah 1 tahun 8 bulan tampak karang branching dan encrusting tumbuh
© Hery Siahaan / WWF-Indonesia
Oleh: Aliana Nafsal, Fisheries Officer, WWF-Indonesia

“Sudah ada karang encrusting yang tumbuh menutupi permukaan batu liang, dan karang Acropora yang tumbuh sebesar 1 cm,” cerita Tufail Tuhuteru (27/09) lalu. Ia adalah ketua Kelompok Batnata di Dusun Samboru, Petuanan Kataloka, Pulau Gorom, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.

Tufail menyelami pesisir Dusun Samboru dalam rangka pemantauan lokasi rehabilitasi terumbu karang oleh kelompok nelayan dampingan WWF-Indonesia ini. Sejak Desember 2015, kelompok Batnata menerapkan metode rockpile untuk memperbaiki ekosistem terumbu karang.

Dengan metode ini, mereka membenamkan batako dan batu liang 3-5 meter di bawah laut, untuk menguatkan struktur habitat karang yang rapuh, dan menbangun rumah baru bagi karang. Batu-batu liang – batu kapur berpori, ditumpuk menjadi 1 blok, dengan panjang, lebar, dan tingginya masing-masing 1 meter. Kelompok Batnata juga menyusun 16 buah batako berukuran 20x35 cm yang mereka buat sendiri.

“Setelah 1 tahun 8 bulan, hasilnya, sangat sesuai dengan harapan kami!” ungkapnya antusias. “Meskipun, di rockpile batako, pertumbuhannya tertinggal dibanding batu liang – perkebangan penempelan juvenile karang lambat katena batako berbentuk padat,” tambahnya.

Untuk memastikan bahwa rockpile telah memberikan dampak positif baik secara ekologi maupun sosial ekonomi, perkembangan rockpile harus dipantau secara berkala. Pemantauan awal dilakukan sebulan setelah bangunan rockpile selesai disusun.

Hasil monitoring menunjukkan kondisi kehadiran ikan karang yang cukup signifikan di lokasi rockpile batu liang dibandingkan dengan sebelum adanya rockpile. “Memancing di lokasi rockpile, hasil tangkapan ikan hingga puluhan ekor setiap menjaring,” tutur masyarakat. Ikan yang diperoleh ketika menggunakan jaring insang di sekitar rockpile adalah ikan lalosi (Caesio crysozoma), dan jika menggunakan pancing ikan, biasanya masyarakat menangkap ikan biji nangka (Upeneus sp), tefar (Lethrinus sp).

Apa sebenarnya yang menggerakan Kelompok Batnata memperbaiki lautnya? Pada tahun 1999-2003, banyak nelayan masih menggunakan  bom dan bius - merusak terumbu karang Pulau Gorom, hingga pesisir Dusun Samboru.

Mereka yang kemudian menyadari pentingnya menjaga alam Pulau Gorom – berinisiatif membentuk Kelompok Batnata. Komitmen pun lahir untuk memperbaiki substrat karang yang telah menjadi reruntuhan (rubble) agar terjadi pemulihan ekosistem karang sebagai tempat ikan berkembang biak. Tak hanya upaya rehabilitasi karang, tetapi juga penyadartahuan masyarakat dalam memperbaiki alam.Keduanya berjalan paralel, agar sumber daya ikan tetap berkelanjutan hingga masa depan.

Kelompok Batnata berencana melakukan rehabilitasi terus dengan metode rockpile ini. “Kami akan kembali mengumpulkan kembali batu liang, untuk kemudian ditanam lagi di pesisir Dusun Samboru,” ungkap Tufail bersemangat, membuat saya yang mendengarnya ikut antusias. Semoga, semakin cepat perbaikan ekosistem pesisir Pulau Gorom dan sekitarnya, demi masyarakatnya juga.

Rock pile batu liang setelah 1 tahun 8 bulan tampak karang branching dan encrusting tumbuh
© Hery Siahaan / WWF-Indonesia Enlarge
Pengambilan batu liang dilakukan bahu membahu oleh nelayan anggota Kelompok Batnata
© Aliana Nafsal / WWF-Indonesia Enlarge
Pengambilan dan penurunan batako. Selain menggunakan batu liang, masyarakat juga menggunakan batako dalam metode rockpile ini.
© Aliana Nafsal / WWF-Indonesia Enlarge
Tampak coraline alga di rockpile batu liang
© Hery Siahaan / WWF-Indonesia Enlarge
Rock pile batako setelah 1 tahun 8 bulan
© Hery Siahaan / WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus