Tertangkapnya Ikan yang Penuh Misteri Di Laut Paloh | WWF Indonesia

Tertangkapnya Ikan yang Penuh Misteri Di Laut Paloh



Posted on 10 October 2017   |  
Mengamati lumba-lumba yang terjerat jaring
© Zulfian/WWF-Indonesia
Oleh : Zulfian Observer (Observer Bycatch)

Sore itu, saya bersama dengan Pak Pendi, nelayan Paloh, mengarungi perairan Kemuning hingga Tanjung Bender yang saat itu sedikit bergelombang disertai angin yang tidak begitu kencang. Aktivitas yang kami lakukan kali ini berkaitan dengan pendataan di kapal milik Pak Pendi.  Selama di atas kapal, saya mengamati bagaimana Pak Pendi melakukan tugasnya sebagai seorang nelayan, seperti menurunkan jaring atau setting tanpa menggunakan lampu hijau LED. Di sepanjang sungai Balacan, jaring dibiarkan hanyut menyisiri daerah perairan.

Setelah menunggu selama kurang lebih 8 jam, Pak Pendi melakukan proses houling atau penarikan jaring ke atas kapal. Saat houling dilakukan, terlihat seekor ikan berukuran cukup besar yang masih bergelantung di atas permukaan air. Tidak beberapa lama, ikan tersebut ditarik naik ke atas kapal hingga akhirnya saya dapat melihat sosok lumba-lumba atau porpoise berukuran 114cm yang sudah mati akibat terbelit jaring.

Lumba-lumba yang telah mati tersebt diduga sedang mengambil ikan yang terjerat jaring, sehingga secara tidak sengaja lumba-lumba tersebut ikut terjaring dengan ikan bawal sebagai tangkapan target. Kemudian saya segera mengambil pisau untuk memotong jaring yang membelit lumba-lumba tersebut sebelum dilakukannya proses pencatatan yang meliputi waktu tertangkap, lokasi tertangkap/koordinat, ukuran, penyebab kematian, kondisi pada saat tertangkap.

Setelah melakukan pencatatan, lumba-lumba yang sudah mati tersebut kami buang ke laut. Usut punya usut, ternyata masyarakat di Paloh tidak menjual atau mengonsumsi lumba-lumba yang tertangkap secara tidak sengaja karena memiliki memiliki kepercayaan adat yang masih kental. Mereka percaya jika lumba-lumba yang tertangkap kemudian dikonsumsi atau dijual, malapetaka atau musibah akan mendatangi mereka setelahnya. Seperti, datangnya badai besar atau cuaca buruk di perairan Paloh.

Selain itu, tubuh masyarakat yang mengonsumsi lumba-lumba akan bereaksi panas dan berkeringat yang cukup banyak. ”Ape bile kite makan dagingnye dan sampai dibawa pulang kite akan mengalamek nasib yang ndak bagus”, tutur Pak Jai, Anak Buah Kapal (ABK), sambil memperbaiki jaring yang bergulung. 

Pernyataaan senada juga keluar dari Pak Pendi, “Mun dah ade ikan lumba-lumba, berarti petande akan datang angin ribut”. Mendengar hal tersebut saya mengurungkan niat  untuk mengambil sampel daging lumba-lumba tersebut untuk dibawa pulang dikarenakan takut akan mengalami nasib buruk yang akan menimpa dikemudian hari.

Kemudian, hal ini menjadi pertanyaan besar bagi di benak saya, apakah hal tersebut benar atau hanya mitos belaka? Tetapi dengan melihat kejadian malam setelahnya dimana angin berputar begitu kencang mengakibatkan jaring kami bergulung saat melaut, sehingga hasil tangkapan sedikit dan kami pun berniat untuk pulang keesokan harinya.

Semoga dengan adanya kepercayaan adat yang berkembang di masyarakat nelayan Paloh, kita dapat bersama-sama untuk bantu lestarikan lumba-lumba dengan tidak menangkapnya secara sengaja untuk dijual atau dikonsumsi. Dan dengan dilakukannya penelitian di Paloh diharapkan masyarakat dan nelayah sekitar menjadi tahu bahwa dengan penggunaan lampu LED dapat mengurangi tertangkapnya penyu dan meningkatkan hasil tangkapan serta mengurangi kerusakan jaring akibat tertangkapnya penyu dan jenis biota laut yang dilindungi dan terancam punah lainnya.

Mengamati lumba-lumba yang terjerat jaring
© Zulfian/WWF-Indonesia Enlarge
Menarik lumba-lumba yang terjerat jaring
© Zulfian/WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus