Sungai dan Masyarakat di HoB



Posted on 09 July 2013  |   |  en  |  id
Oleh: Alicia Ng

Sungai terpanjang di Malaysia terletak di Sarawak. Sungai Rajang dengan panjang 560 km, yang berasal dari pegunungan Iran dan mengalir ke Laut Cina Selatan melalui delta Sibu dan Sarikei. Mata air dari Sungai Rajang berasal dari sumber yang sama dari sungai terpanjang kedua di negara bagian, yakni Sungai Baram, dan Sungai Kayan di Indonesia-Kalimantan.
 
Di Sarawak, hulu sungai yang besar tersebut terletak di kawasan Heart of Borneo (HoB). Ini merupakan sumber kehidupan di Borneo – sungai-sungai tersebut menyediakan berbagai macam keanekaragaman, misalnya sumber daya alam, kolam dan habitat bagi flora dan fauna, yang berguna bagi perikanan dan terutama pembangunan ekonomi bagi bendungan PLTA.
 
Sebagian besar masyarakat yang tinggal di kawasan HoB bergantung pada sungai untuk kegiatan sehari-hari mereka, termasuk makanan, sarana transportasi, irigasi untuk lahan pertanian dan air untuk keperluan minum dan mencuci. Untuk mencapai keseimbangan antara pembangunan dan konservasi, berbagai upaya sedang dilakukan oleh pemerintah, LSM dan pihak lain melalui program-program yang bertujuan untuk kelestarian lingkungan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal di HoB.
 
Pada bulan Mei, WWF-Malaysia mengunjungi dua daerah di HoB dimana sungai memainkan peran penting bagi masyarakat dalam konservasi ikan tagang dan ekowisata.
 
Sistem Tagang di Sungai Tengoa

Tagang (dalam bahasa Iban berarti 'terbatas') didasarkan pada sistem konservasi ikan yang diadopsi secara luas di Sabah, negara tetangga Sarawak. Ini adalah sebuah sistem di mana penduduk desa bekerja sama sebagai sebuah komite untuk membatasi dan mengendalikan jumlah kegiatan penangkapan ikan di sepanjang sungai yang telah ditentukan untuk tujuan Tagang. Sekarang ini ada 23 desa di Sarawak yang telah mengadopsi sistem Tagang sebagai bagian dari konservasi sungai serta keamanan ekonomi dan mata pencaharian.
 
Long Lidong adalah desa kecil  di Lun Bawang yang dihuni 110 orang, sekitar satu jam perjalanan dari kota Lawas di timur laut mencapai perbatasan HoB. Raut Kading tokoh masyarakat setempat memimpin inisiatif konservasi ikan. Setiap hari, ia berjalan ke Sungai Tengoa yang mengalir ke desanya untuk memberi makan ikan. Dia akan memanggil ikan dari tepi sungai dengan meniup sebuah kaleng kosong pada sebuah batu besar. Ikan-ikan akan berenang ke arahnya, menunggu untuk diberi makan. Dia menempatkan telapak penuh pakan ikan kering dan berjalan ke dalam air. Ikan mengerubunginya untuk mengambil makan. Ikan-ikan tersebut begitu jinak hingga ia dapat dengan mudah menangkap mereka. Sebuah surat kabar lokal menyebutnya Pemanggil Ikan dari Long Lidong. Baginya, konservasi merupakan investasi bagi desanya tanpa harus membahayakan alam desa yang dicintainya.
 
Pada tahun 2006, masyarakat desa, di bawah bimbingan dan dukungan dari Inland Divisi Perikanan Departemen Pertanian, Sarawak, mengatur sistem tagang. Jenis ikan yang ada di Sungai Tengoa adalah jenis ikan semah yang sangat dihormati (Tor tambra). Spesies ini khusus dipilih untuk kemitraan agar sesuai dengan lingkungan sungai.
 
Jaman dulu terdapat banyak ikan semah di sungai. Namun karena permintaan pasar yang tinggi, akhirnya menyebabkan populasi ikan semah menjadi sangat berkurang. Harga ikan air tawar ini melambung tinggi hingga RM60 per kilogram.
Di bawah sistem tagang Panjang Lidong, terdapat bentangan 2,4 km dari Sungai Tengoa yang dibagi menjadi empat zona. Pemanenan atau kegiatan memancing di sepanjang daerah ini harus diizinkan oleh panitia yang diketuai oleh Raut. Ini adalah cara untuk mempertahankan pasokan protein di sungai dan mempertahankan pendapatan ekonomi. Inisiatif desa dalam melaksanakan sistem tagang telah memberikan kontribusi terhadap perlindungan ekosistem alami sungai karena ikan semah sangat membutuhkan air bersih yang mengalir untuk bertahan hidup.
 
Long Lidong dikelilingi oleh hutan yang indah dan alami. Desa ini memiliki potensi untuk menjadi tempat ekowisata bagi para pecinta alam dan burung karena daerah tersebut dekat dengan Paya Maga, sebuah dataran tinggi pegunungan yang indah di hulu Sungai Trusan, di mana endemik Borneo Oriole (juga dikenal sebagai Black Oriole) dapat ditemukan.
 
Para penduduk desa di Long Lidong berharap sistem tagang dapat menjadi bagian dari daya tarik alam yang unik yang akan terus memperjuangkan kepentingan lokal dan internasional selama bertahun-tahun ke depan.
 
Ekowisata dan Bendungan PLTA
 
PLTA pertama yang ada di Sarawak dibangun di Sungai Batang Ai 30 tahun yang lalu. Proyek Hydro Listrik Batang Ai (BAHEP) terletak sebelah barat daya dari perbatasan HoB Sarawak, dan menjangkau 21 desa. Salah satunya adalah Nanga Sumpa, sekitar dua jam naik perahu dari bendungan. Ini adalah salah satu rumah panjang yang telah berhasil diterapkan ke dalam program ekowisata. Pengurus rumah panjang berkolaborasi dengan agen tur lokal pada tahun 1987.
 
Reservoir atau danau buatan yang dibuat oleh bendungan telah memudahkan  warga untuk bepergian ke dan dari daratan. Andah Lembang yang bekerja sebagai tukang perahu berkata, "Sebelum ada bendungan, setidaknya butuh dua hari dan satu malam, tergantung pada cuaca dan ketinggian air, untuk bepergian dengan perahu dari Nanga Sumpa ke kota terdekat, Lubok Antu. Sekarang, perjalanan memakan waktu hanya 1,5 jam dari lokasi bendungan untuk sampai di rumah panjang."
 
Penduduk desa bergiliran untuk memberikan layanan bagi wisatawan dan memastikan bahwa setiap orang memperoleh keuntungan. Sebagian besar wisatawan tinggal di pondok-pondok yang dibangun oleh jasa tur yang berdekatan dengan rumah panjang dan pada saat yang sama pengunjung dapat mengunjungi Nanga Sumpa untuk berbelanja berbagai macam kerajinan tangan serta berpartisipasi dalam kegiatan tradisional lainnya.
 
Penduduk desa menmproduksi kerajinan tangan yang terbuat dari rotan, kayu dan produk hutan lainnya seperti keranjang, tikar, kalung manik-manik dan benih, gelang, tembikar, dan ukiran kayu. Produk ini ditampilkan pada papan sederhana, paku dan string di sepanjang Ruai rumah panjang (area balkon umum). Masing-masing keluarga memiliki barang-barang yang dipamerkan.
 
Sebagian besar wisatawan mengunjungi Batang Ai untuk menikmati keindahan alam dari hutan dan mencari tahu tentang budaya lokal Iban serta untuk melihat orangutan liar. Orangutan sering terlihat di daerah sekitar rumah panjang karena desa di daerah rumah panjang tidak memburu atau menangkap mereka. Batang Ai juga berdekatan dengan suaka margasatwa Lanjak Entimau yang merupakan rumah bagi populasi orangutan di Sarawak.
 
“Kami menghargai keberadaan orangutan karena menurut kepercayaan kami, orangutan berhubungan dengan nenek moyang kami. Merupakan suatu hal yang tabu jika kami memburu atau membunuh orangutan-orangutan tersebut,” ujar Andah.
 
Secara tidak langsung, ekowisata telah memperkuat nilai konservasi satwa liar dari kawasan hutan Nanga Sumpa yang relatif tidak terganggu.
 
Bagi WWF-Malaysia, kegiatan ekonomi yang berkelanjutan berbasis masyarakat dapat dianggap sebagai kontribusi untuk perlindungan ekosistem dan konservasi keanekaragaman hayati di HoB.
 
WWF-Malaysia mempromosikan konservasi, pengelolaan terpadu dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya alam yang mencakup ekosistem air tawar. WWF-Malaysia mengadvokasi bagi kebijakan terpadu dan pendekatan, proyek lapangan, dan peningkatan sistem informasi untuk meningkatkan pengelolaan ekosistem air tawar dan sumber daya air untuk menjamin manfaat lanjutan penyediaan air yang adil bagi masyarakat, alam dan ekonomi.
Sungai Rajang, Long Lidong, Raut Kading, Heart of Borneo
Long Lidong merupakan sebuah desa kecil di Lun Bawang dengan jumlah penduduk 110 orang, dapat dijangkau sekitar satu jam perjalanan dari kota Lawas di timur laut hingga perbatasan HoB di Sarawak, Malaysia. Raut Kading memimpin inisiatif konservasi ikan. Baginya, konservasi ini merupakan investasi untuk desanya tanpa harus membahayakan lingkungan alam desa yang dicintainya.
© WWF-Malaysia/Alicia Ng Enlarge
Long Boat, Perahu Panjang, Batang Ai, Sarawak, Heart of Borneo, Malaysia
Perahu panjang adalah sarana transportasi utama di Batang Ai, Sarawak, Malaysia
© WWF-Malaysia/Alicia Ng Enlarge
Heart of Borneo, WWF Malaysia, Sarawak, Sungai Tengoa, ikan Semah
Ikan di Sungai Tengoa adalah jenis ikan semah yang sangat dihormati (Tor tambra). Spesies ini khusus dipilih sesuai dengan lingkungan sungai.
© WWF-Malaysia/Alicia Ng Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus