Langkah penting bagi pembangunan desa penyangga kawasan ekosistem Muller



Posted on 29 May 2012  | 

Perencanaan program pendampingan peningkatan ekonomi masyarakat di Desa Tanjung


Pontianak – Kawasan Pegunungan Muller merupakan daerah tangkapan air (water catchment area) yang sangat penting dalam sistem tata air Pulau Kalimantan, sebagai hulu dari sungai-sungai besar, yakni Sungai Kahayan dan Sungai Barito di Kalimantan Tengah dan Selatan, Sungai Mahakam di Kalimantan Timur, dan Sungai Kapuas di Kalimantan Barat.


Kerusakan ekosistem di kawasan ini dipastikan akan berakibat fatal terhadap kualitas lingkungan, baik lokal ataupun regional. Dampak ini sudah pernah terjadi di salah satu kabupaten di hulu sungai Kahayan, dimana banjir bandang mengakibatkan kerusakan sarana kesehatan (puskesmas), rumah, dan infrastruktur (jalan dan jembatan).


Kawasan Pegunungan Muller juga merupakan habitat yang penting bagi beragam flora-fauna, termasuk di antaranya adalah jenis-jenis yang tergolong ke dalam kategori flora-fauna langka dan endemik Kalimantan, antara lain beruang madu, orangutan, macan dahan, dan lain sebagainya.


“Dengan pertimbangan ini juga, Pegunungan Muller saat ini dimasukkan sebagai salah satu koridor ekologis dalam Rancangan Peraturan Presiden (Raperpres) Kawasan Strategis Nasional Heart of Borneo (HoB),” jelas Koordinator Nasional HoB, Wisnu Rumantoro.


Dalam perjalanan sejarahnya, Pegunungan Muller sempat diusulkan sebagai situs warisan dunia (world heritage site) oleh Pemerintah Kabupaten Barito Utara (2001). Merujuk pada kriteria yang disyaratkan di dalam Panduan Operasional Pelaksanaan Konvensi warisan Dunia (Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention), Pegunungan Muller sedikitnya memenuhi 3 di antara 8 kriteria yang ada, yakni: (i) keberadaannya menjadi contoh bentang alam yang luar biasa, menunjukan proses biologis dan ekologis yang tengah berlangsung baik; (ii) memiliki fenomena alam superlatif atau bentang alam dengan keindahan alam yang luar biasa dan bernilai estetika tinggi; (iii) memiliki habitat alam yang sangat penting dan signifikan bagi upaya konservasi keanekaragaman hayati in-situ, termasuk jenis-jenis yang terancam punah dan mengandung nilai universal yang luar biasa dari sudut pandang ilmu pengetahuan atau konservasi, termasuk kekayaan potensi tumbuhan obat yang belum tergali.


Koordinator Muller Schwaner, WWF-Indonesia, Ambang Wijaya mengungkapkan, selama tahun 2008-2010, program ini melalui kerjasama dengan Pokja HoB Kalimantan Tengah, Pokja HoB Kabupaten, LSM, Aliansi Masyarakat Adat, universitas, dan masyarakat sekitar kawasan Pegunungan Muller dan Schwaner, telah melakukan berbagai kegiatan pra-kondisi di lapangan.


“Tujuannya adalah menggali data dan informasi dasar, penguatan masyarakat serta memfasilitasi pertemuan-pertemuan para pihak yang bertujuan untuk mengupayakan pengelolaan lestari kawasan,” ujarnya.


Pada bulan Juli 2010, program serupa di Kalimantan Barat mulai dilaksanakan yang merupakan kerjasama antara WWF-Indonesia dan Pokja HoB Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu.


Dalam beberapa diskusi dengan para pihak di tingkat daerah/lokal (Kecamatan, Dinas Perkebunan dan Kehutanan, NGO Mitra), diperoleh konsep untuk memulai tahap membangun kesepahaman pengelolaan Desa Penyangga KEM dengan memperkuat dan meningkatkan ekonomi masyarakat baik dilakukan oleh WWF-Indonesia, PRCF (People Resources and Conservation Foundation) Indonesia, NGO lainnya, maupun dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Hulu.


PRCF Indonesia yang memiliki fokus program pada upaya konservasi keanekaragaman hayati dan pemberdayaan masyarakat, berharap upaya ini sebagai titik awal dalam membangun kerja-kerja kolaboratif dalam mendukung terbangunnya tata kelola hutan yang lebih baik dengan memperkuat kapasitas masyarakat dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan yang memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat dan konservasi keanekaragaman hayati.


“Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Kehutanan dalam mendorong pengelolaan hutan berbasis masyarakat melalui berbagai pola, baik Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat dan Hutan Rakyat merupakan peluang bagi masyarakat sekitar hutan untuk dapat berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sumber daya hutan setempat sehingga akan mendapatkan manfaat langsung dari keberadaan hutan baik dari hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan maupun hasil hutan kayu untuk kebutuhan local secara berkelanjutan,” ungkap Direktur PRCF Indonesia, Imanul Huda.


Muller Schwaner Officer, WWF-Indonesia, Uray M. Hasbi menyampaikan bahwa secara umum, workshop yang akan dihelat selama dua hari pada tanggal 29 – 30 Mei di Desa Tanjung, Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas ini bertujuan untuk menggali kebutuhan masyarakat Desa Tanjung dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat.


“Secara khusus, tujuan pelaksanaan lokakarya ini sendiri untuk mensosialisasikan peran Pemerintah Daerah dalam pembangunan, menggali potensi yang ada di masyarakat sebagai modal dalam pembangunan desa dan masyarakatnya, menggali kebutuhan masyarakat Desa Tanjung, mengidentifikasi kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat, serta tersepakatinya kegiatan pendampingan dan pembagian kegiatan dari para pihak yang mendampingi masyarakat,” papar Hasbi.


“Diperlukan adanya kesepakatan yang lebih baik antara para pihak khususnya WWF-Indonesia, PRCF Indonesia, masyarakat dan pemerintah daerah, baik Pemerintah Kecamatan Mentebah maupun dinas teknis terkait, utamanya dalam pelaksanaan program Pendampingan Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Desa Tanjung sebagai salah satu desa Penyangga Kawasan Ekosistem Muller,” pungkas Ambang.

© WWF-Indonesia/Sugeng Hendratno Enlarge
© WWF-Indonesia/Sugeng Hendratno Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus