Agribisnis, Besar kerugian akibat penebangan liar



Posted on 07 July 2004  | 
Bisnis Indonesia, Jumat, 18-JUN-2004


Kawasan hutan produksi Tesso Nilo dengan luas areal lebih dari 120.000 hektar merupakan salah satu kawasan hutan yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia.

Kawasan hutan tersebut memberikan manfaat ekologis yang berperan sangat signifikan terhadap perekonomian kabupaten di sekitarnya, di samping juga memberikan manfaat berupa hasil hutan bukan kayu bagi masyarakat sekitar kawasan.

Tesso Nilo, yang terletak di Kabupaten Pelalawan, Kuantan Singingi, dan Kampar (Provinsi Riau), tidak hanya memiliki kekayaan hayati dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, namun juga merupakan habitat kunci danwilayah jelajah (home range) bagi gajah.

Habitat kunci tersebut saat ini terancam oleh praktik-praktik penebangan liar dan ekspansi berbagai kegiatan investasi berbasis lahan hutan yang eksploitatif, seperti menjamurnya konsesi perkebunan dan HPH/HTI di kawasan hutan Tesso Nilo.

Konsekuensi logis dari keadaan ini adalah meningkatnya konflik antara gajah dengan masyarakat dan perusahaan di sekitar Tesso Nilo, yang tentu saja mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat signifikan.

Transaksi illegal logging di hutan Tesso Nilo (Tabel 1)
  Skenario Rendah Skenario Tinggi
Kayu ilegal/hari (m3) 1.368 1.368
Jumlah hari efektif/tahun 264 264
Transaksi pada lokasi penebangan
Kayu (logpond site)?(Rp/m3) 120.000 275.000
Nilai kotor kayu/hari (Rp juta) 164,2 376,2
Nilai kayu ilegal per tahun (Rp juta) 43.338 99.317
Transaksi pada lokasi Sawmill?(Rp/m3) 400.00 700.000
Nilai kotor kayu/hari (Rp juta) 547,2 957,6
Nilai kayu ilegal per tahun (Rp juta) 144.461 252.806
Sumber: Greenomics Indonesia

Rata-rata kerugian kerusakan hutan (Tabel 2)
Rata-rata kerugian minimum Nilai Estimasi (Rp juta)
Konsesi Perkebunan
 
Biaya kerusakan perkebunan kelapa sawit per tahun 10.638,75
Biaya pencegahan dan pemeliharaan per tahun 158,00
Total kerugian per tahun 10.796,75
Sumber: Greenomics Indonesia

 

Intensitas penebangan-baik penebangan legal oleh pemegang konsesi maupun praktik ilegal-di kawasan hutan Tesso Nilo saat ini semakin meningkat, sehingga diestimasikan kawasan hutan tersebut akan punah dalam kurun waktu tidak lebih dari empat tahun lagi.

Praktik penebangan liar di Tesso Nilo melibatkan masyarakat sekitar kawasan, yang memperoleh manfaat ekonomi melalui sistem bagi hasil keuntungan. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa alokasi bagi hasil keuntungan dari praktik tersebut sangat tidak adil bagi masyarakat.

Cukong bisa mengantongi hingga 70% keuntungan, baru kemudian 30% sisanya dibagikan kepada masyarakat lokal. Ini indikasi bahwa keuntungan berlimpah ruah dari praktik penebangan liar hanya dinikmati oleh cukong, bukan masyarakat sekitar.

Modus operandi

Penjualan kayu bulat hasil penebangan liar tersebut dilakukan melalui tiga modus operandi. Pertama, cukong mendatangi lokasi penebangan dan melakukan negosiasi langsung dengan penebang kayu. Jadi, harga jual kayu bulat tersebut tidak termasuk ongkos transportasi.

Kedua, penebang kayu mengangkut kayu bulat hingga sampai ke tempat cukong atau pemilik sawmill (penggergajian kayu). Harga jual kayu bulat tersebut menjadi lebih tinggi karena termasuk ongkos transportasi.

Ketiga, adanya makelar yang menghubungkan penebang kayu dengan pemilik sawmill. Makelar tersebut tidak ikut dalam praktik penebangan dan juga tidak memiliki sawmill, namun hanya mengambil kayu dari penebang lalu menjualnya kepada pemilik sawmill.

Seluruh nilai transaksi penjualan kayu bulat hasil penebangan liar itu menimbulkan kerugian signifikan bagi negara.

Tabel 1 memperlihatkan nilai transaksi penjualan kayu bulat yang dilakukan di lokasi penebangan (pond site) dan lokasi sawmill. Nilai transaksi penjualan kayu pada lokasi penebangan diestimasi berkisar antara Rp43,3 miliar hingga Rp99,3 miliar per tahun.

Sementara jika penjualan kayu dilakukan di lokasi sawmill, nilai transaksi penjualan kayu tersebut menjadi lebih tinggi lagi dan diestimasikan berkisar antara Rp144,4 miliar hingga Rp252,8 miliar per tahun.

Konflik gajah

Konversi hutan Tesso Nilo menjadi kawasan pemanfaatan komersial telah mengakibatkan habitat gajah terfragmentasi. Tekanan terhadap hutan Tesso Nilo melalui kegiatan eksplotasi sumber daya hutan dan lahan tersebut telah mendorong migrasi gajah ke daerah permukiman dan perkebunan masyarakat, areal konsesi HTI dan perkebunan.

Nilai kerugian yang ditimbulkan sangat signifikan. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan Tesso Nilo mau tidak mau harus menanggung kerugian akibat rusaknya kebun dan aset mereka.

Tabel 2 memperlihatkan bahwa nilai rata-rata kerugian minimum yang harus ditanggung oleh konsesi perkebunan, konsesi HTI, dan masyarakat sekitar kawasan rata-rata tidak kurang dari Rp12,08 miliar per tahun. Angka kerugian ini baru merepresentasikan data tercatat saja. Kerugian aktualnya tentu jauh lebih besar.

Konflik antara gajah dengan masyarakat dan pemegang konsesi HTI serta perkebunan di kawasan hutan Tesso Nilo merupakan satu bukti konkret bahwa habitat dan wilayah jelajah gajah tersebut sedang dalam tingkat ancaman yang sangat serius.

Hal ini diakibatkan oleh semakin maraknya aktivitas konversi kawasan hutan menjadi kegiatan eksploitasi komersial dan parahnya intensitas praktik penebangan liar di hutan Tesso Nilo.

Padahal praktik penebangan liar maupun konflik gajah tersebut telah terbukti menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat signifikan bagi pemerintah maupun masyarakat sekitar kawasan.

Oleh Vanda Mutia Dewi
Staf ahli Greenomics Indonesia

Comments

blog comments powered by Disqus