Workshop Biodiversity Kalimantan, 10-12 Februari 2009



Posted on 17 February 2009  | 
Syamsuni Arman: Dalami kearifan lokal sebagai media konservasi

Palangkaraya (11/2): Antropolog senior Universitas Tanjungpura Pontianak Prof (Emeritus) Syamsuni Arman, Ph.D menyerukan pentingnya pemangku kepentingan dan pekerja konservasi mendalami kearifan lokal untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati.

Berbicara pada hari kedua pelaksanaan Workshop Biodiversity Kalimantan (Workshop on Biodiversity of Borneo), Selasa, 11 Februari 2008, Syamsuni menegaskan, kearifan lokal sangatlah penting karena ia merupakan pencapaian kolektif terbaik yang dicapai oleh sebuah komunitas.

“Kearifan lokal, yang ditemukan pada pikiran tokoh-tokoh lokal, sikap anggota masyarakat, seni tradisional, serta hubungan masyarakat dengan lingkungannya, bisa berdampak positif terhadap konservasi,” ujarnya.

Dikatakannya, berbagai tabu—sebagai kearifan lokal—telah terbukti melindungi beberapa jenis satwa dan tumbuhan dari kepunahan, “Di beberapa masyarakat, larangan memakan ikan jenis tertentu seperti Arwana, atau juga larangan memakan daging rusa, telah menjaga kelangsungan jenis tersebut.Demikian pula pengkeramatan burung Rangkong.”

“Sementara, pengetahuan akan sifat dan perilaku beberapa satwa tertentu, telah terbukti menjadi panduan sebagian masyarakat memahami alam,” ujarnya seraya mencontohkan adanya suara sejenis katak sebagai pertanda ikan Tapah masuk ke sungai untuk bertelur.

Syamsuni memaparkan, hasil kajian praekspedisi oleh tim etnobotani Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya juga berhasil mengumpulkan informasi di empat desa mengenai kearifan mereka menggunakan sumber daya alam di sekitarnya. “Di sana ditemukan pemakaian 436 jenis pohon untuk berbagai keperluan antara lain bahan makanan, upacara adat, dan juga kerajinan,” ujarnya.

“Kearifan lokal yang hidup dan berkembang di masyarakat itu perlu kita gali terus karena konservasi perlu dikemas dengan pola pikir yang sudah dimiliki masyarakat. Mengumpulkan kearifan lokal juga membuat tokoh masyarakat merasa dihargai sehingga mendorong partisipasi masyarakat lebih luas dalam konservasi dan pembangunan berkelanjutan,” tegas Syamsuni.

(oleh Israr Ardiansyah)

© WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus