Taman Nasional Teluk Cenderawasih: harmoni alam dengan manusia



Posted on 21 October 2011  | 
Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) membentang di dua propinsi besar, yaitu Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat ke dalam dua wilayah administrasi kabupaten, Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Nabire. Dalam taman nasional tersebut terdapat 58 kampung pesisir yang tersebar merata di areal seluas 1.453.500 Ha. Membayangkan area seluas itu serta menjangkau masyarakat di seluruh lokasi tentu bukan perkara mudah, dibutuhkan kolaborasi luar biasa antara pemerintah kabupaten, manajemen Balai Taman Nasional, para pemangku kepentingan, dan tentunya masyarakat sendiri terkait pembangunan di area konservasi yang ditetapkan menjadi taman nasional pada tanggal 29 Agustus 2002 melalui SK Menteri Kehutanan 8009/Kpts-II/2002 tersebut.

Survei kependudukan menunjukkan keberadaan 4 suku besar di sekitar Teluk Wondama yakni Wandamen, Wamesa, Roswar, Roon, serta 2 Suku besar di wilayah Nabire yakni Yaur dan Umari. Keanekaragaman suku, adat istiadat, dan kebiasaan mereka sangat unik namun sekaligus rumit dan menantang untuk dipelajari. Oleh karena itu aktivitas penjangkauan masyarakat tersebut membutuhkan kreativitas dalam berkomunikasi. Salah satu tantangan yang pasti adalah penggunaan dialek dan bahasa yang berbeda di masing-masing suku.

Aneta Wonemseba, Kampung Syabes, seorang ibu berusia 45 tahun berujar “saya akan berusaha kasih sekolah tong pu anak-anak sampai tinggi selama anak-anak mau dan tong bisa mampu biaya, tapi kalau sudah tidak bisa mau buat apa lagi”. Ketakutan Aneta atas ketidakmampuan menyekolahkan anak-anak mereka kelak ketika alam sudah habis dan musnah terungkap pada suatu diskusi tentang pendidikan di kampung tersebut. Aneta dan kebanyakan masyarakat lainnya di wilayah TNTC sangat bergantung pada alam sebagai tabungan masa depan mereka yang menyuplai pemasukan dan penghidupan sehari-hari.

Alam TNTC menyediakan berbagai macam jenis vegetasi dan kehidupan dari laut yang yang sangat beragam. Tercatat  kurang lebih ada 46 jenis vegetasi mulai dari melinjo, nipah, kelapa, vegetasi hutan sekunder, bakau pantai, waru, anggrek langka, dan beberapa spesies kantung semar yang dilindungi terdapat di TNTC. Sementara laut Teluk Wondama diprediksi menyumbangkan 1.122 jenis ikan, 7 diantaranya merupakan spesies temuan baru. Selain itu, Dugong (Dugong dugon), mamalia laut yang dilindungi seringkali berada di area tersebut, beberapa spesies laut lainnya yang sering terlihat adalah penyu, hiu paus, lumba-lumba, dan berbagai jenis ikan konsumsi seperti kerapu, kakap, napoleon, cakalang, tongkol, serta lobster.

Seringkali masalah yang muncul dan terjadi adalah masalah pemanfaatan berlebihan dan tidak bertanggung jawab oleh oknum yang merusak alam TNTC untuk kepentingan pribadi. Kita bisa melihat bencana banjir bandang di Wasior, ibukota Kabupaten Teluk Wondama, yang menyebabkan ratusan tewas dan hilang pada 4 Oktober 2010 dan dianggap sebagai bencana yang diakibatkan oleh kerusakan hutan yang dipicu curah hujan tinggi. Pakar lingkungan melihat bencana banjir bandang tersebut sebagai akibat dari penggundulan hutan sehingga tanah dan lahan tidak mampu menyerap curah hujan yang tinggi.

Seluruh elemen masyarakat yang terlibat dalam diskusi bersama pemangku kepentingan terkait dan pemerintah sepakat bahwa dengan masalah lingkungan harus masuk ke dalam elemen pendidikan yang cukup, sarana kesehatan yang memadai, dan penghidupan yang layak, selanjutnya maka alam akan ikut terjaga secara otomatis dalam harmoni kehidupan mereka. Seperti yang dituturkan Ir. J Auri, Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Teluk Wondama, “Merupakan tanggung jawab kita semua untuk menjaga lingkungan ini, namun sering masalah lingkungan menjadi urutan terakhir dalam hal pembangunan daerah ini! ”.

“Kami perlu pihak yang mendukung kami untuk mendorong instansi terkait menjaga Lingkungan ini, karena tidak mudah mengarahkan pembangunan kearah ramah lingkungan!” ujar Drs.G. Ramandey MP, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Nabire, menegaskan kerjasama semua pihak untuk ikut terlibat dalam pembangunan kawasan TNTC, karena pembangunan bangsa ini merupakan kewajiban aktif bersama antara pemerintah dan masyarakat.

(Catatan mendasar oleh Feronika Manohas, Staff WWF untuk Penjangkauan Masyarakat di area TNTC, kontak fmanohas@wwf.or.id)
Pelabuhan sebagai sarana pendukung kelancaran distribusi bahan penting dan pembangunan
© Aulia Rahman Enlarge
Alam Teluk Cenderawasih menyokong kehidupan masyarakat lokal maupun nasional
© Aulia Rahman Enlarge
Alam menyediakan semua untuk manusia, pengelolaan yang bertanggung jawab adalah PR bersama.
© Aulia Rahman Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus