"Flying Squad" di Taman Nasional Tesso Nilo



Posted on 26 February 2007  | 
Mendengar istilah Flying Squad banyak orang akan bertanya-tanya apakah ini adalah squadron gajah terbang? Jawaban sesungguhnya akan berbeda sekali dengan dugaan tersebut. Flying Squad adalah tim patroli yang terdiri dari gajah-gajah terlatih bersama dengan pawangnya. Tim ini dilatih untuk selalu siaga menggiring gajah liar yang masuk ke perkebunan masyarakat atau perusahaan untuk kembali ke hutan.

Pendekatan Flying Squad adalah salah satu metode mitigasi konflik gajah dengan manusia. Di Indonesia teknik menggunakan jasa gajah jinak untuk diberdayakan telah ada di beberapa tempat namun metode Flying Squad untuk pertama kali diimplementasikan di sekitar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo di provinsi Riau.

Tim ini secara rutin, 2 kali dalam seminggu, berpatroli dengan mengendarai gajah ke daerah yang berbatasan dengan taman nasional Tesso Nilo. Dengan kesiagaan tim patroli mengidentifikasi tanda-tanda awal masuknya gajah liar, strategi penggiringan gajah liar kembali ke hutan dapat segera diantisipasi dan kerusakan yang ditimbulkan terhadap tanaman perkebunan masyarakat pun dapat dikurangi.

 
Tim patroli gajah flying squad di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. (c) WWF-Indonesia/Tesso Nilo Program

Dalam berpatroli menggunakan gajah, tim membawa perlengkapan lain yang dapat membantu pelaksanaan kegiatan pengusiran bila bertemu dengan gajah liar seperti meriam yang terbuat dari pipa paralon. Pipa yang bahan pemicu bunyinya ini berasal dari karbit dapat mengeluarkan bunyi yang cukup keras sehingga dapat membuat gajah liar menjauh. Selain patroli dengan gajah, tim melakukan patroli harian dengan kendaraan bermotor, atau pun mobil.

 
Tim Patroli flying squad dengan perlengkapannya. (c) WWF-Indonesia/Tesso Nilo Program

Diluar tugas rutinnya berpatroli, tim harus siap sedia bergerak cepat ke lokasi dimana dilaporkan ada kedatangan gajah liar. Tidak jarang tim harus menunaikan tugasnya di malam hari. Namun bila kedatangan gajah liar berlangsung pada malam hari, pengusiran dengan memakai gajah Flying Squad tidak dapat dilaksanakan karena dapat membahayakan ke dua belah pihak baik gajah atau pun pawangnya. Untuk itu pengusiran akan dilakukan dengan kendaraan bermotor sambil mengeluarkan bunyi seperti suara klakson atau meriam paralon. Sebagai pelengkap, tim ini juga menggunakan bermacam teknik lain untuk mengusir gajah liar seperti pembuatan parit, pagar listrik, dan pemasangan kotoran gajah yang telah dicampur dengan cabe.

Berkurangnya Kerugian
Initiaf pengoperasian patroli gajah Flying Squad merupakan kerjasama antara WWF Indonesia-Tesso Nilo Conservation Program dengan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Riau untuk memberikan solusi terhadap konflik gajah dan manusia. Dengan pengoperasian tim ini diharapkan kerugian, baik material maupun non material, akibat konflik gajah dan manusia dapat ditekan seminimal mungkin.

Survei WWF-Indonesia terhadap kerugian yang diakibatkan konflik gajah di 3 desa yang berdekatan dengan Taman Nasional Tesso Nilo sepanjang tahun 2000 sampai Juli 2003, menunjukkan angka Rp 1,99 milyar. Suatu jumlah yang sangat besar!
 

 
Gambar kebun dan bangunan yang dirusak gajah liar. (c) WWF-Indonesia/Tesso Nilo Program

Tim Flying Squad mulai beroperasi dan diujicobakan sejak tanggal 26 April 2004 di desa Lubuk Kembang Bunga Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan-Riau, suatu desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Tesso Nilo. Dalam tahap ujicoba tersebut dioperasikan satu tim yang terdiri dari 4 gajah dan 8 orang pawang.

Menurut perhitungan WWF, setelah lebih dari satu setengah tahun pengoperasian Flying Squad, kerugian yang diderita oleh masyarakat akibat konflik gajah berkurang 94.48 %, dibanding kerugian pada periode yang sama sebelum pengoperasian. Selain itu, masyarakat sekitar juga merasa lebih aman untuk berkebun.

Foto-Foto Tim Elephant Flying Squad
where the wild ones are (pdf)