Penangkapan ikan komunal jamin kelestarian ikan Danau Pengelang



Posted on 28 December 2011  |   |  en  |  id

Oleh Albertus Tjiu & Masayu Yulien


Pontianak (29/12)-Masyarakat sejahtera, sumber daya alam terjaga. Kondisi ideal inilah yang berusaha diwujudkan masyarakat Desa Teluk Aur, kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Selain konservasi arwana, masyarakat di Desa tersebut juga menerapkan praktik penangkapan ikan lestari bagi ikan jenis konsumsi melalui sistem penangkapan komunal yang diistilahkan “jermal.”


Semenjak Danau Pengelang ditetapkan sebagai Danau Lindung pada tahun 2007, masyarakat Desa Teluk Aur yang tergabung dalam 3 dusun yakni Dusun Puring, Dusun Jaung I dan II bermufakat untuk memutuskan sistem pemanenan yang tepat. Hingga pada tahun 2009, mereka sepakat untuk menerapkan pemanenan lestari dengan sistem jermal.


“Kita boleh mengikuti peraturan penetapan Danau Lindung ini, tapi yang paling penting adalah dengan status sebagai Danau Lindung kawasan ini tetap dapat kita manfaatkan secara lestari dan dapat memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari,” ungkap nelayan Desa Teluk Aur, Sulaiman.


Kata “jermal” sendiri memiliki dua makna. Pertama, ia berarti sistem penangkapan komunal, yakni penangkapan ikan yang dilakukan bersama-sama. Jermal juga mengacu pada alat tangkap yang digunakan, semacam jaring penangkap berukuran 25 x 40 m.


Dalam kondisi iklim normal, Danau Pengelang akan mengalami 6 bulan surut pada bulan-bulan kering dan 6 bulan pasang pada bulan-bulan basah di musim penghujan. Ketika bulan-bulan kering dimana permukaan air danau berkurang, maka Danau lindung tersebut akan ditutup dari aktivitas nelayan. Karena pada saat itulah ikan danau berpijah dan anakan ikan mulai tumbuh besar, Sedangkan pada saat bulan-bulan basah antara Oktober – Maret dimana permukaan air danau mencapai ketinggian 10 m, inilah kesempatan bagi masyarakat untuk memanen sebagian ikan yang sudah dewasa.


Proses pertama dilakukan dengan menentukan lokasi kelompok ikan berada. Tahap ini dilakukan oleh tetua yang memiliki keahlian khusus. Selanjutnya kelompok ikan itu digiring menuju mulut jermal dengan cara memukul-mukul permukaan air dan tepian perahu penggiring. Dalam proses ini tidak semua ikan tertangkap, diperkirakan, antara 500 – 1000 kg ikan lolos dari penangkapan. Setelah ikan masuk ke dalam jermal, keempat sudutnya pelan-pelan ditarik sehingga mengerucut dan mengumpulkan ikan di bagian tengah jermal. Sementara 2 buah sampan standby di tengah-tengah jermal untuk “menyerok” ikan-ikan yang telah terkumpul.


Para calon pembeli pun sudah menunggu di tepian danau untuk membeli langsung ikan segar hasil tangkapan. Pembeli lokal yang sudah melakukan kesepakatan sebelumnya baik dari segi jumlah maupun harga berasal dari desa sekitar seperti Bunut, Jongkong, Empangau, bahkan warga Desa Teluk Aur sendiri.


Sejak tahun 2009, penangkapan “jermal” sudah dilakukan paling tidak 6 kali, masing-masing 2 kali dalam waktu 6 bulan. Panen pertama di tahun 2011 berhasil mendapat 3.688 ton ikan dengan total hasil penjualan mencapai lebih dari 18 juta rupiah. Pendapatan meningkat pada panen kedua pertengahan Desember lalu. Nelayan teluk Aur berhasil mendapat penghasilan lebihd ari 20 juta rupiah.


Untuk sistem pembagiannya, 40 % dibagikan kepada warga desa yang ikut memanen, sementara sisanya, dibagikan ke kas 3 dusun yang umumnya diperuntukkan bagi bagi kebutuhan masyarakat di desa itu seperti pembangunan, pendidikan, santunan kematian warga, perayaan natal dan gawai (pesta panen padi), dan lain sebagainya.


Aturan penangkapan pun diberlakukan dengan ketat. Semua alat tangkap tidak diperbolehkan kecuali jermal. Nelayan pun hanya boleh memanen pada saat musim yang disepakati bersama untuk penangkapan dengan sistem “jermal” yang diperbolehkan. Jika ada yang melanggar aturan ini akan dikenakan sanksi, misalnya jika pelanggaran penangkapan dilakukan dengan alat pukat, maka pukat akan disita dan didenda sebesar Rp. 500.000,-. Hingga kini sudah ada 2 kasus dimana pukat disita dan didenda 500 rb diterapkan oleh warga desa ini.

© WWF-Indonesia/Kapuas Hulu Project Enlarge
© WWF-Indonesia/Kapuas Hulu Project Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus