Peluncuran kapal gurano bintang dan pengelolaan kolaboratif untuk Teluk Cenderawasih



Posted on 17 February 2012  |   |  en  |  id
Wasior (17/02)– Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat, bersama WWF dan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BB TNTC) menandatangani Nota Kesepakatan Bersama, Jumat (17/02), untuk optimalisasi pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Dokumen kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Bupati Teluk Wondama Drs. Alberth H. Torey, MM, Kepala BBTNTC Ir. Djati Witjaksono Hadi, M.Si, dan Direktur Region Sahul-Papua WWF-Indonesia Drs. Benja V. Mambai, M.Si.


Kawasan konservasi laut Teluk Cenderwasih yang memiliki luas 1.453.500 hektar itu ditetapkan sebagai taman nasional bedasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 8009/Menhut-II/ 2002 pada tanggal 2002. TN. Teluk Cenderawasih memiliki lebih dari 500 jenis terumbu karang, 836 jenis ikan, 15 jenis mamalia laut, 184 jenis burung, serta merupakan habitat bagi satwa-satwa karismatik seperti hiu paus, penyu belimbing dan duyung.


Dalam pidatonya, Alberth menyampaikan “Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan kekayaan sumber daya alamnya adalah aset Kabupaten Teluk Wondama yang berperan penting bagi pemulihan ekonomi setelah bencana banjir bandang Wasior. Kami sangat menghargai kerjasama BB TNTC dan WWF-Indonesia sebagai pihak yang sangat kompeten dalam menjamin pemanfaatan kawasan secara berkelanjutan untuk memastikan keuntungan ekonomi jangka panjang dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan di Kabupaten teluk Wondama Papua Barat”.


Kesepakatan tiga lembaga ini adalah mengoptimalisasikan upaya pengelolaan kawasan TNTC melalui beberapa kegiatan seperti pemantauan dan pengawasan sumber daya alam, peningkatan kesadartahuan dan pemberdayaan masyarakat lokal, pengembangan perikanan berkelanjutan, perlindungan dan pengamanan sumber daya alam dan kawasan TNTC, pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, serta pengembangan pendanaan berkelanjutan.


“Mengelola kawasan yang sangat luas seperti TNTC membutuhkan keterlibatan dan dukungan multipihak. Tantangan terbesar bagi Balai Besar TNTC Direktorat Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan adalah pengawasan dan pengamanan kawasan khususnya dari kegiatan perikanan yang tidak ramah lingkungan dan praktik perikanan tanpa ijin.  Dukungan Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama serta masyarakat Teluk Wondama akan sangat besar artinya bagi peningkatan upaya efektifitas pengelolaan TNTC saat ini dan ke depan. Kerjasama dengan WWF-Indonesia sudah dilakukan sejak TNTC berdiri, berbagai studi dan kegiatan pemberdayaan masyarakat sudah banyak yang dilakukan, dan dengan kolaborasi ini, maka sinergi yang telah terjalin akan semakin dikuatkan,“ ungkap Djati.


Dalam kesempatan yang sama WWF-Indonesia meluncurkan Kapal Motor (KM) Gurano Bintang, sebuah kapal kayu berbobot 34 GT, panjang 23 meter, dan lebar 5.25 meter. Kapal ini akan digunakan untuk mengunjungi distrik dan kampung pesisir di kawasan TNTC guna membantu pengembangan program edukasi dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus menyediakan fasilitas layanan kesehatan serta pemantauan dan pengawasan sumber daya alam kawasan TNTC.


Sementara itu Benja mengemukakan, “Kapal gurano bintang dilengkapi dengan modul pendidikan lingkungan hidup, sejauh ini kami sudah memiliki modul untuk habitat bakau, lamun, terumbu karang dan hutan. Kedepannya, kami akan tambahkan modul-modul lain yang dibutuhkan oleh masyarakat, misalnya tentang perikanan berkelanjutan dan ekowisata. WWF berterima kasih pada Pemkab Teluk Wondama yang akan melengkapi kapal ini dengan fasilitas kesehatan sekaligus tenaga medisnya, karena layanan kesehatan sangat penting dan masih sulit diakses oleh masyarakat di pelosok Taman Nasional Teluk Cenderawasih."  Hal penting lainnya dari pengadaan Kapal Gurano Bintang adalah menunjukkan komitmen jangka panjang WWF-Indonesia bagi konservasi di Tanah Papua lebih khusus lagi di Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih.


Gurano Bintang adalah nama lokal untuk sebutan Hiu Paus (Rhincodon typus) yang sering terlihat di kawasan TNTC. Spesies ikan terbesar di dunia ini dapat tumbuh mencapai panjang 20 meter. Saat ini WWF-Indonesia bekerjasama dengan para pihak untuk memantau migrasi sang raksasa lembut ini melalui pemasangan penanda satelit (satellite tagging) untuk mengetahui jalur migrasi, pola makan, pola reproduksi, serta informasi biologi lainnya. Hasil pemantauan ini sangat berguna untuk menentukan langkah antisipatif dalam melindungi spesies yang masuk daftar dilindungi oleh CITES (Konvensi Perlindungan Perdagangan Flora Fauna Terancam). Gurano Bintang adalah salah satu daya tarik TNTC yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan di sektor ekowisata.


***Selesai***


Untuk informasi lebih lanjut:
  • Beny A Noor, Pimpinan Program Teluk Cenderawasih, WWF-Indonesia, bnoor@wwf.or.id
  • Dewi Satriani, Koordinator Komunikasi Program Kelautan WWF-Indonesia, dsatriani@wwf.or.id

Catatan Untuk Editor:
Tentang WWF-Indonesia
WWF, sebuah organisasi konservasi, dengan misi menghentikan perusakan lingkungan alami di planet bumi dan untuk membangun masa depan dimana manusia hidup secara harmonis dengan alamnya, melalui perlindungan keanekaragaman hayati, memastikan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari, dan mempromosikan pengurangan polusi dan penggunaan sumber daya secara berlebihan. WWF bekerja di lebih dari 90 negara dan didukung oleh hampir 5 juta pendukung di dunia. WWF mulai bekerja di Indonesia tahun 1962. Untuk informasi lebih jauh tentang WWF, kunjungi www.wwf.or.id atau www.panda.org


Foto-foto peluncuran:
http://bit.ly/y68ilf
dari ki-ka: Marcell Chandrawinata - Direktur Sahul-Papua, Bupati Kabupaten Teluk Wondama, dan Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderwasih.
© WWF-Indonesia / Natalie J TANGKEPAYUNG Enlarge
Kapal Gurano Bintang siap beroperasi
© WWF-Indonesia / Bardin TANDIONO Enlarge
rombongan diarak oleh kesenian tradisional dari Teluk Wondama
© WWF-Indonesia / Natalie J TANGKEPAYUNG Enlarge
KM Gurano Bintang dalam proses pengecatan
© Celcea - Debby - Elang Enlarge
Sebagai kapal edukasi, pemantauan dan pengawasan, serta sebagai fasilitas kesehatan, Gurano Bintang akan beroperasi di kawasan Teluk Cenderawasih, Papua
© WWF-Indonesia / Bardin TANDIONO Enlarge
Bupati beserta jajaran terkait didampingi Kepala BB TNTC dan Direktur WWF memperhatikan penjelasan mengenai KM Gurano Bintang
© WWF-Indonesia / Natalie J TANGKEPAYUNG Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus