Stop Konversi Semenanjung Kampar karena Memicu Perubahan Iklim



Posted on 22 May 2007  | 

Siaran Pers Bersama Jikalahari & WWF_Indonesia  Untuk disiarkan segera -  22 Mei 2007
 

Jikalahari, Universitas Riau dan Masyarakat Semenanjung Kampar: Stop Konversi Semenanjung Kampar karena Memicu Perubahan Iklim

Pekanbaru, 22 Mei 2007 --- Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), Universitas Riau serta perwakilan komunitas 3 kecamatan di Semenanjung Kampar hari ini mengimbau penghentian konversi di Semenanjung Kampar guna menghindari terjadinya peningkatan pelepasan karbon (CO2) yang mengakibatkan perubahan iklim global serta kerusakan lingkungan yang dahsyat.

 

Pernyataan bersama dikeluarkan menyusul diadakannya bengkel kerja (workshop) oleh Jikalahari pekan lalu di sini bertajuk Strategi menyelamatkan ekosistem Semenanjung Kampar. Akademisi Universitas Riau, masyarakat Semenanjung Kampar, serta Kabut Riau, Mitra Insani, Yayasan Elang dan Program Konservasi Riau WWF-Indonesia, sebagai anggota jaringan LSM itu, juga hadir. Sedangkan Wetlands International, Global Environment Center bertindak sebagai pembicara selain aktivis WWF-Indonesia dan Jikalahari.

 

"Kami mengimbau perusahaan-perusahaan kehutanan dan perkebunan yang sedang dan akan beroperasi di Semenanjung Kampar untuk segera menghentikan konversi mengingat betapa dahsyatnya kerusakan akibat deforestasi di lanskap itu," ujar Susanto Kurniawan, koordinator Jikalahari. "Pemerintah diharapkan juga melakukan peninjauan ulang perizinan konversi yang telah dikeluarkan di Semenanjung Kampar."

 

Ia mengatakan perubahan iklim global serta kerusakan lingkungan yang tak terperikan akan terjadi apabila lanskap Semenanjung Kampar yang kaya dengan hutan rawa gambut itu terus dikonversi. Belum lagi konflik sosial akibat makin terpinggirnya masyarakat tempatan yang kehilangan hutan alam dan sumber budidaya perikanan tempat mereka mencari nafkah.

 

Secara umum masyarakat di Semenanjung Kampar masih mempertahankan sumber daya alam seperti hasil hutan bukan kayu, ikan, sumber air dan sebagainya. Sumber daya yang ada di hutan gambut dimanfaatkan dengan cara-cara tradisional yang lebih arif dan kurang eksploitatif dibandingkan dengan usaha perkebunan skala besar dan HTI.

 

Mempertahankan ekosistem rawa gambut Semenanjung Kampar berarti satu upaya memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mengelola lahan dan sumber daya alamnya secara berkelanjutan dimana mereka tidak dimarginalkan dari tempat mereka bertahan hidup.

 

Lanskap Semenanjung Kampar seluas 700,000 ha, yang didasari dari luasan areal gambut hasil studi Wetlands International, memiliki kekayaan hutan rawa gambut serta keanekaragaman hayati dengan adanya empat danau yang dilindungi sebagai Suaka Margasatwa serta sejumlah sungai yang dimanfaatkan oleh masyarakat tempatan. Sayangnya, saat ini separuh dari total luasnya atau 350.000 ha telah dikonversi untuk perkebunan akasia dan sawit.

 

Sementara ancaman subsidensi diakibatkan drainase berupa kanal buatan perusahaan pemegang izin perkebunan akasia yang menjadi bahaya bagi ekosistem secara keseluruhan. Begitupun, pembuatan jalan penebangan (koridor) akan memicu maraknya illegal logging, perambahan dan kebakaran hutan/lahan.

 

Menurut penelitian, lahan gambut (peatlands) memiliki fungsi yang lebih besar sebagai pengendali perubahan iklim global karena kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan cadangan karbon dunia (1). Selain itu, lahan gambut dikenal luas dalam menjaga kestabilan tata air serta menyerap dan melepas air secara horizontal.

 

Setiap konversi dan eksploitasi lahan gambut akan menyebabkan terlepasnya emisi karbon (CO2) yang mencemari lingkungan global karena terganggunya sistem water table (sistem hidrologis secara keseluruhan). Apabila emisi dari lahan gambut diperhitungkan, maka Indonesia tercatat sebagai negara urutan tiga penghasil emisi karbon (CO2) terbesar di dunia.

 

Riau merupakan provinsi yang memiliki lahan gambut terluas dengan 4,044 juta ha atau 56,1 % dari luas total lahan gambut di Sumatera (7,2 juta ha). Semenanjung Kampar memiliki dua kubah gambut dengan kedalaman lebih dari 20 meter yang kini terancam rusak akibat konversi hutan rawa gambut tak terkendalikan.

 

Irwansyah Reza Lubis, staf Wetlands International - Indonesia Program, mengatakan konversi hutan rawa gambut di Semenanjung Kampar seharusnya dihentikan, sedangkan lahan gambut yang sudah rusak harus direhabilitasi fungsi ekosistemnya secepatnya.

 

"Adanya pola pemanfaatan hutan seperti HPH dan HTI di lahan gambut disebabkan dari sejak awal keberadaan gambut tidak pernah dipertimbangkan pemerintah dalam penentuan kawasan hutan dan pengelolaannya," katanya.

 

Hutan alam Semenanjung Kampar memiliki potensi kayu yang cukup tinggi, sekitar 280 m3 per ha, dengan kekayaan flora seperti pohon Ramin (gonystylus bancanus Kurz) yang dilindungi CITES dan meranti lilin (shorea teysmaniana Dyer) dan 32 spesies lainnya (2). Rata-rata persentase tutupan tajuk 76%, tergolong sangat baik dan berguna melindungi habitat binatang arboreal maupun regenerasi permudaan alami (semi tolerant)(3).

 

Satwa harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), ikan arwana, buaya muara dan beruang madu merupakan spesies yang potensial di Kampar selain 21 jenis lainnya yang dalam bahaya pemusnahan lokal karena maraknya konversi di lanskap Kampar ini.

 

Laporan penilaian teknis "Setting Priorities for the Conservation and Recovery of Wild Tigers: 2005-2015" yang baru saja diterbitkan oleh WCS, WWF, Smithsonian dan NFWF-STF mengidentifikasikan Kuala Kampar sebagai satu Lanskap Konservasi Harimau Kelas II: lanskap yang memiliki habitat memadai untuk 50 harimau, tingkat ancaman yang sedang, dan basis untuk konservasi yang perlu perbaikan.

 

Menurut Zulfahmi, pegiat lingkungan Riau, perusahaan yang beroperasi di Kampar merusak lahan gambut dengan membuat kanal-kanal guna mengalirkan kayu tebangan ke sungai. "Mereka sama sekali meremehkan dampak kerusakan ekosistem yang berpengaruh global akibat perusakan lahan gambut. Padahal kerugiannya jauh lebih tinggi secara finansial maupun ekologis dibanding keuntungan yang mereka raup," ujarnya.

 

"Kepentingan ekonomi segelintir pihak janganlah merugikan kemaslahatan orang banyak di muka bumi ini, karena perusakan hutan dan ekosistem Kampar jelas memicu eskalasi perubahan iklim," ujar Susanto Kurniawan. "Terlebih lagi bencana ekologis lainnya seperti turunnya permukaan gambut dan banjir besar terlebih dulu akan menghantam penduduk Riau."

 

Suhandri, aktivis WWF-Indonesia, mengimbau, "Sudah saatnya semua pihak terkait memberikan perhatian serius kepada ancaman global yang tengah dihadapi Semenanjung Kampar saat ini." Ia mengingatkan, "Jika tidak ada kebijakan pro-konservasi yang diambil, maka bukan Indonesia saja yang akan menanggung akibatnya, namun masyarakat regional maupun global akibat perubahan iklim yang dipicu kerusakan Kampar."

 

Ancaman deforestasi dan perusakan ekosistem berasal dari praktek konversi yang dilakukan perusahaan pemegang HPH, HTI maupun perkebunan sawit. Penghentian konversi merupakan keniscayaan. Upaya restorasi dan konservasi Semenanjung Kampar hanya bisa dilakukan dengan pendekatan ekosistem dan tidak parsial, mencakup luasan sekitar 700,000 hektar karena ancaman turunnya air permukaan dan hilangnya fungsi gambut akibat maraknya penghancuran hutan.

 

Data-data tepercaya menyebutkan ada beberapa perusahaan kehutanan yang sudah menebangi hutan alam di sini maupun yang sedang dan berencana melakukan konversi. Umumnya mereka bermitra dan tergabung dalam dua raksasa industri pulp dan kertas, Asia Pulp & Paper (APP), serta Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL).

 

Kelompok ini mengimbau lembaga keuangan internasional, pembeli pulp dan kertas dunia dan pihak kepentingan lainnya untuk tidak mendanai proyek maupun membeli produk yang jelas-jelas merusak lingkungan dan memicu perubahan iklim dan pemanasan global.

 

Sudah sepantasnya pihak kreditor/pembeli mempertimbangkan kebijakannya terhadap perusahaan-perusahaan yang beroperasi yang berkontribusi pada terjadinya deforestasi, perusakan cadangan karbon, penghancuran lahan gambut dan eksploitasi sumber air, membahayakan keanekaragaman hayati, ataupun meminggirkan penduduk tempatan.

***

Untuk keterangan lebih lanjut, sila hubungi:

 

Santo Kurniawan, no telp: 0812 7631 775 e-mail : santo@jikalahari.org
 

Suhandri, no telp: 0812 7522 745 e-mail: suhandri@wwf.or.id suhandri@wwf.or.id

1. peatlands. do you care?; Coordinating Committee for Global Action on Peatlands (CC-GAP), 2005
2.Penelitian Jonotoro, Jikalahari, 2005
3. Penelitian Jonotoro di Semenanjung Kampar, Jikalahari, April 2007

Catatan untuk Editor:
 

  • CC-GAP mendefinisikan lahan gambut sebagai ekosistem tanah basah yang dicirikan dengan akumulasi zat organik dinamai "gambut" yang berasal dari unsur tanaman mati dan membusuk di bawah kondisi dahaga air yang tinggi.
  • 2. Fungsi gambut untuk pelestarian sumber daya air, peredam banjir, pencegah intrusi air laut, pendukung keanekaragaman hayati dan pengendali iklim global.
  • 3. Gambut Sumatera bercirikan mampu menyerap karbon 7 x 102 ton/ha/tahun; sifat gambut menyimpan air 15-20 kali berat kering gambut, rawan kebakaran dan susah dipadamkan.
  • SK Menhut nomor 101/Menhut-II/2004 tentang percepatan pembangunan hutan tanaman untuk pemenuhan bahan baku industri pulp dan kertas serta Keputusan Presiden nomor 32 tahun 1992, tentang pengelolaan kawasan lindung menegaskan larangan pengolahan hutan tanaman industri (HTI) di atas lahan gambut berkedalaman 3 m lebih.

    Link artikel:

    Forest Fires Rage Again -- Stop Conversion on Peatlands
    Sumatra's Peat Swamp Forest
    APRIL's New Road Threatens Natural Forest in Kampar

  • Comments

    blog comments powered by Disqus