IFC-PENSA dan WWF Hasilkan Hutan Tanaman Industri Akasia Pertama di Indonesia sebagai anggota Nusa Hijau



Posted on 11 May 2006  |   |  en  |  id

Siaran Pers, 11 May 2006
Jakarta, 11 Mei 2006 – Program Bantuan Teknis untuk Usaha Skala Kecil-Menengah dari International Finance Corporation (IFC-PENSA) telah berhasil mendampingi Inhutani II, badan usaha milik pemerintah yang berbasis di Kalimantan, memperoleh keanggotaan dari program WWF Global Forest and Trade Network (GFTN). Keberhasilan ini menunjukan dukungan terhadap hutan tanaman industri Acacia mangium yang berlokasi di Pulau Laut, Kalimantan Selatan, dan merupakan langkah maju untuk industri permebelan Indonesia.

Penerimaan Inhutani II sebagai anggota GFTN merupakan tonggak penting bagi hutan tanaman industri di Indonesia, mengingat semakin berkurangnya hutan alam karena penebangan liar dan pengelolaan hutan yang tidak lestari. Hal ini merupakan bentuk pengakuan bahwa hutan tanaman industri merupakan sumber kayu masa depan yang lestari.

“Ini merupakan kabar gembira bagi sektor kehutanan dan industri permebelan. Pasar internasional saat ini masih skeptis tentang kemampuan Indonesia untuk menjadi sumber produk-produk yang terbuat dari bahan kayu lestari. Pengakuan ini membuktikan bahwa hal itu bisa dilakukan,” kata Moray McLeish, Program Manager dari IFC-PENSA. “Indonesia membutuhkan lebih banyak dukungan seperti ini untuk mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar dan tetap menjaga industri permebelan agar tetap bertahan.”

Seluas 50 ribu hektar hutan tanaman industri (HTI) milik PT Inhutani II merupakan HTI Akasia pertama di Indonesia yang menjadi anggota GFTN. Jaringan tersebut mendukung perusahaan-perusahaan kehutanan yang bertanggungjawab dan menghubungkannya dengan pasar internasional yang mencari produk dari kayu lestari. Nusa Hijau merupakan nama lokal untuk program GFTN di Indonesia.

“WWF Indonesia menyambut dengan gembira bergabungnya PT Inhutani II sebagai hutan tanaman Akasia pertama ke dalam program Nusa Hijau. Kami berharap bahwa kerjasama ini akan menguntungkan semua pihak, dan mendorong pengelola hutan lainnya untuk bergabung dan mendapatkan keuntungan yang ditawarkan. Nusa Hijau menyediakan kesempatan bagi pengelola hutan dan industri kehutanan untuk menjalin bekerja sama dengan jaringan pasar yang luas di seluruh dunia,” demikian pernyataan Executive Director- WWF Indonesia, Mubariq Ahmad. “Kami juga menghargai sebesar-besarnya bantuan dan dukungan dari IFC-PENSA dalam proses keanggotaan yang baru ini. Sudah waktunya bagi kita dan semua pihak yang terkait untuk menyokong upaya positif yang dilakukan para pengelola hutan dengan komitmen yang tinggi untuk melakukan pengelolaan hutan secara lestari,” tambah Mubariq.

Meningkatnya ketersediaan kayu alternatif dari hutan tanaman lestari seperti Akasia juga membantu menciptakan lapangan kerja di industri permebelan Indonesia yang saat ini sedang mengalami kesulitan karena ketergantungannya pada kayu jati dan jenis kayu hutan alam lainnya. Jumlah dan kualitas kayu jati di Indonesia juga semakin berkurang dan spesies tersebut membutuhkan 25 tahun untuk mencapai pertumbuhan yang sesuai bagi bahan baku industri mebel. Akasia dapat tumbuh dengan mudah di Indonesia dan hanya memerlukan 8-10 tahun untuk tumbuh sesuai kebutuhan bahan baku produk mebel. Karena siklus pertumbuhannya yang cepat, maka akan lebih murah untuk memproduksi dan lebih kompetitif dari segi harga dibandingkan dengan kayu jati. Selain itu, secara kasat mata dan dari ciri khas fisik, Akasia tampak mirip dengan jati, sehingga merupakan bahan baku alternatif ideal bagi pembuatan mebel dalam ruangan.

“Dengan keanggotaan GFTN ini, kami berharap dapat meningkatkan pengelolaan, mengatasi hambatan pasar dan mampu mengembangkan pasar yang lebih luas untuk produk kami,” kata Direktur Utama PT Inhutani II, Ir. Arifin Trihastoyo. “Kami juga akan mendukung langkah pemerintah di dalam memberdayakan para usaha kecil dan menengah yang bergerak di bidang permebelan.”

HTI Inhutani II telah mempersiapkan untuk memperoleh keanggotaan Nusa Hijau selama dua tahun. Dengan dukungan dari IFC, telah dilakukan beberapa penilaian lapangan dan penyusunan rencana kegiatan telah disusun untuk membantu pihak pengelola memenuhi standar sertifikasi hutan internasional. WWF menetapkan beberapa kriteria minimum yang harus dipenuhi pihak pengelola hutan sebelum mendapatkan keanggotaan. Para anggota harus menunjukan komitmen untuk memenuhi kriteria sertifikasi hutan internasional dari Forest Stewardship Council (FSC) dalam jangka 5 tahun.

IFC membantu para pengusaha kecil dan menengah di bidang permebelan untuk memanfaatkan kesempatan ini, melalui pelatihan-pelatihan dalam bidang pengeringan kayu Akasia, finishing dan memproduksi mebel untuk pasar internasional. Sepuluh pengusaha mebel, dengan bantuan dan dukungan IFC, telah memamerkan produk mebel dari kayu Akasia dalam International Furniture Fair di Singapur pada bulan Maret 2006, salah satunya adalah KWaS Furniture, pengusaha mebel Akasia dari Yogyakarta.

“Kami berkeyakinan bahwa pasokan bahan baku kayu yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam jumlah yang memadai merupakan faktor kunci yang mendukung kelangsungan industri mebel. Menggunakan pasokan bahan baku kayu dari hutan tanaman industri yang lestari merupakan upaya kami untuk turut mendukung pelestarian lingkungan dan sebagai perwujudan dari tanggungjawab kami kepada para konsumen kami”, demikian komentar Robertus Agung, Managing Director dari KWaS Furniture.

Benoit Torrent, importir mebel Perancis Antipode sebagai pembeli produk-produk KWaS, menyatakan “Saat ini jika kita membicarakan mengenai Indonesia, kita akan langsung teringat mengenai topik penggundulan hutan. Saya memberikan alternatif kepada klien kami dengan menawarkan Akasia yang ramah lingkungan. Akasia memiliki karakteristik fisik yang baik dan kepadatan yang memadai sehingga dapat dipergunakan untuk menghasilkan mebel yang bermutu. Selain itu, dukungan yang diberikan oleh GFTN dan sistem Chain of Custody (lacak balak) memberikan argumen yang kuat terhadap penggunaan bahan baku kayu Akasia dari sudut pandang komersial.

WWF dan IFC menyokong perdagangan internasional bagi produk-produk kayu yang berasal dari hutan yang dikelola secara lestari. Kedua organisasi ini telah bekerjasama di beberapa negara, membantu para pengelola hutan untuk menyediakan bahan baku kayu secara lestari, membantu para pengusaha untuk menggunakan bahan baku kayu lestari dan mendorong pasar untuk meningkatkan permintaan produk-produk kayu lestari dengan harga yang sesuai.
--------------------------------------------------------

Tentang IFC-PENSA
Misi IFC adalah mempromosikan investasi sektor swasta yang berkesinambungan di negara berkembang, membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. IFC mendanai investasi sektor swasta di negara berkembang, memobilisasi modal di pasar uang internasional, membantu kliennya meningkatkan kebersinambungan sosial dan lingkungan, dan menyediakan bantuan teknis serta saran kepada pemerintah dan dunia usaha.
IFC-PENSA adalah fasilitas bantuan teknis dari IFC untuk mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah di Kawasan Timur Indonesia. Fasilitas IFC-PENSA memiliki mandat 5 tahun dan di dukung oleh pemerintah Australia, Kanada, Jepang, Swiss, Belanda, Asian Development Bank dan IFC, dengan jumlah komitmen dana sebesar 25 juta dolar Amerika.

Tentang WWF GFTN Nusa Hijau
Indonesia FTN adalah bagian dari Global Forest and Trade Network (GFTN), kerjasama tingkat dunia WWF antara LSM-LSM terkemuka, perusahaan, serta komunitas yang bertujuan untuk memberantas pembalakan liar (illegal logging) dan memperbaiki pengelolaan hutan yang bernilai tinggi dan terancam. Dengan memfasilitasi hubungan antara perusahaan yang mempunyai komitmen untuk menjalankan dan mendukung praktek pengelolaan hutan yang bertanggung jawab, GFTN menciptakan kondisi pasar yang mendukung konservasi hutan di dunia serta pada saat yang sama menyediakan manfaat ekonomi dan sosial bagi industri dan masyarakat yang bergantung pada hutan. Bekerja sama dengan Forest and Trade Networks di 30 negara yang mewakili sekitar 300 perusahaan dengan jumlah transaksi produk kayu mencapai $1.8 milyar, Indonesia FTN (Nusa Hijau) memberikan akses ke pasar internasional bagi para anggotanya. Selain itu, para anggota dapat memperoleh manfaat lain seperti informasi dan pelatihan sertifikasi di seluruh dunia, pengembangan kebijakan perusahaan untuk memperbaiki praktek pengelolaan hutannya, bantuan teknis dan pelatihan untuk menuju pengelolaan hutan lestari, akses ke global trade fairs, pembentukan regu kerja dan advokasi dalam upaya menuju sertifikasi, serta publisitas di tingkat lokal maupun internasional.


Untuk informasi lebih lanjut:
IFC-PENSA
R. Pratiwi (Titiek)
(0361) 265 350
rpratiwi@ifc.org

WWF-Indonesia
Ann Sjamsu
(021) 576 1070 ext. 109
asjamsu@wwf.or.id

Comments

blog comments powered by Disqus