Pelestarian Alam dan Budaya dari Sudut Pandang Masyarakat



Posted on 18 December 2008  | 

Siaran Pers 17 Desember 2008
Putussibau, Kapuas Hulu, 17 Desember 08 -- Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu bekerjasama dengan Photovoices International, National Geographic, Ford Foundation dan WWF-Indonesia pada 16-20 Desember 2008 ini menyelenggarakan sebuah pameran fotografi “Labian-Leboyan dalam Sudut Pandang Masyarakat Setempat” karya masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Labian-Leboyan yang menghubungkan dua taman nasional di Kabupaten Kapuas Hulu: Betung Kerihun (TNBK) dan Danau Sentarum (TNDS) yang sangat kaya keragaman hayati dan budaya.

Pembukaan pameran di Putussibau dihadiri oleh Asisten I Sekda Kapuas Hulu R.A. Sungkalang mewakili Bupati Drs. H. Abang Tambul Husin, pejabat, pemuka agama dan tokoh adat di Kapuas Hulu, Direktur Photovoices International Ann McBride-Norton, Koordinator Nasional Program Heart of Borneo (HoB) WWF-Indonesia Wisnu Rusmantoro, dan Koordinator Program Kalimantan Barat WWF-Indonesia Hermayani Putera. 

Pameran tersebut menampilkan lebih dari 200 foto hasil seleksi lebih dari 30.000 foto karya 70 fotografer selama 7 bulan (Juni-November 2008). Sebelumnya, dilakukan pelatihan dasar fotografi kepada para fotografer yang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak sekolah dari enam desa di sepanjang koridor TNBK dan TNDS, yakni Desa Mensiau, Labian, Sungai Ajung, dan Melembah (Kec. Batang Lupar) serta Semalah dan Leboyan (Kec. Selimbau).

“Seluruh fotografer yang berjumlah 70 orang dari 6 desa di koridor TNBK dan TNDS hadir di sini untuk menyampaikan cerita di balik foto-foto yang dihasilkan, termasuk keadaan lingkungan dan apa yang kami hargai mengenai budaya tradisional. Kami juga bercerita tentang kondisi sosial, kualitas pendidikan dan kesehatan, berikut modal sosial yang kami miliki, serta tantangan dan harapan ke depan,” papar Roni Mulyadi, kepala dusun Semangit, Desa Nanga Leboyan, Kec. Selimbau, salah satu fotografer desa yang terlibat dalam program ini.

“Memahami tradisi dan kepercayaan sebuah komunitas merupakan hal penting yang dapat membantu kita membuat strategi pembangunan berkesinambungan dan untuk melindungi sumber daya alam yang ada,” ujar Direktur Photovoices Ann McBride-Norton. 

Sementara, Bupati Kapuas Hulu Drs. H. Abang Tambul Husin dalam sambutan yang dibacakan Asisten I Sekda R. A. Sungkalang menyatakan, “Kegiatan pameran dan sarasehan Photovoices ini bisa menjadi salah satu strategi mencari titik temu dimana tradisi dan hak hidup masyarakat lokal serta kepentingan konservasi alam dan lingkungan bisa berjalan seiring dan sejalan dengan kaedah global yang berlaku.” 

Hermayani Putera, Koordinator Program Kalimantan Barat WWF-Indonesia menyatakan, “Hasil karya masyarakat yang luar biasa ini akan menjadi informasi penting bagi pemerintah, serta dapat memberikan edukasi bagi masyarakat luar tentang keragaman hayati dan budaya masyarakat di sepanjang koridor kedua taman nasional ini. Diharapkan hal ini dapat memupuk solidaritas antar masyarakat untuk saling memahami dan membangun pengertian serta menerima keragaman budaya sebagai bagian kekayaan kita semua.” 

Sementara, Koordinator Nasional Program Heart of Borneo WWF-Indonesia Wisnu Rusmantoro menyatakan bahwa aspirasi masyarakat setempat adalah aset penting dalam merumuskan strategi dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang lestari. “Photovoices merupakan salah satu cara yang cukup efektif melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan dan penyusunan pembangunan melalui informasi visual dan naratif yang dihasilkan. WWF sangat percaya bahwa program konservasi dan upaya pembangunan berkelanjutan yang menjadi salah satu semangat penting Program Heart of Borneo yang dideklarasikan oleh 3 negara: Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam dapat berjalan dengan baik jika semua pelaku pembangunan mau belajar dari pengetahuan dan kearifan sosial budaya masyarakat setempat,” ujarnya.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
• Hermayani Putera, Koordinator Program Kalimantan Barat WWF-Indonesia, Jl. Kom Yos Sudarso No. 97 Putussibau, Kapuas Hulu, Telp 0567 – 22258, Hp; 0811-57-8287, hputera@wwf.or.id.
• Saraswati, Koordinator Program Photovoices Indonesia 0361-285-298, sarces_2003@yahoo.com Kantor Photovoices Project: Jl. By Pass Ngurah Rai No 121X Denpasar-Bali.
• Nancy Ariaini, Heart of Borneo Communication Officer, WWF-Indonesia, HP: 0811529538, nariani@wwf.or.id.
• Israr Ardiansyah, Media Outreach Coordinator, WWF-Indonesia, HP: 0811266973, iardiansyah@wwf.or.id.

------------------------------------------------------------------------------------
Catatan untuk Redaksi:

Tentang Photovoices International
Photovoices merupakan sebuah program yang melibatkan partisipasi masyarakat dengan menyediakan kamera digital kepada masyarakat lokal untuk mendokumentasikan apa yang mereka hargai tentang alam dan budaya, sebagai sebuah cara untuk memberikan informasi sebagai salah satu bahan acuan bagi pemerintah dalam pembuatan kebijakan pelestarian diwilayah tersebut. Photovoices menghasilkan dokumentasi visual yang akan memberikan sudut pandang berbeda bagi organisasi-organisasi pelestarian serta para pembuat kebijakan. Selain itu juga, Photovoices membantu masyarakat untuk mengekspresikan ide-ide serta pemikiran mereka tentang alam dan budaya, sehingga suara mereka dapat didengar oleh pemerintah. Program Photovoces di Cina menyediakan 300 kamera digital di 60 desa yang masih alami dan tradisional. Foto-foto yang mereka hasilkan telah membantu pemerintah dalam membuat kebijakan konservasi di wilayahnya, diterbitkan oleh media-media terkenal dan dipamerkan di American Museum of Natural History di New York. Program Photovoices di Kapuas Hulu merupakan program ketiga di Indonesia. Dengan slogan “Memberdayakan Masyarakat melalui Fotografi”, aktivitas ini merupakan kerjasama antara Photovoices International, WWF-Indonesia, National Geographic, dan Ford Foundation.

Photovoices menyediakan:
• Sebuah cara nyata bagi masyarakat lokal untuk mendokumentasikan apa yang mereka hargai tentang alam, budaya dan kehidupan desa serta untuk merekam kelebihan-kelebihan dan keprihatinan mereka;
• Sebuah metode untuk memperdayakan masyarakat dengan informasi visual yang langsung didapat dari masyarakat yang dapat digunakan sebagai bahan acuan dan mempengaruhi pembuatan kebijakan;
• Sebuah bentuk seni visual yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran bagi masyarakat dunia pada umumnya tentang berharganya keanekaragaman alam dan budaya ditengah-tengah dunia yang sedang mengalami perubahan secara pesat seperti pada saat ini.

Photovoices memiliki sebuah fokus program khusus yang disebut “Voices from the Archipelago” yang ditujukan bagi masyarakat lokal untuk mendokumentasikan alam dan budaya Indonesia yang sangat kaya dan beraneka ragam. Untuk informasi lebih lanjut dan melihat foto-foto karya para fotografer program ini, silakan kunjungi situsnya di www.photovoicesinternational.org.

Tentang WWF Indonesia
WWF adalah organisasi konservasi global yang mandiri dan didirikan pada tahun 1961 di Swiss, dengan hampir 5 juta suporter dan memiliki jaringan yang aktif di lebih dari 100 negara dan di Indonesia bergiat di lebih dari 25 wilayah kerja lapangan dan 17 provinsi. Misi WWF-Indonesia adalah menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak ekologis aktivitas manusia melalui: mempromosikan etika konservasi yang kuat, kesadartahuan dan upaya-upaya konservasi di kalangan masyarakat Indonesia; memfasilitasi upaya multipihak untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan proses-proses ekologis pada skala ekoregion; melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakan hukum yang mendukung konservasi; dan menggalakkan konservasi untuk kesejahteraan manusia melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Selebihnya tentang WWF-Indonesia, silakan kunjungi website utama organisasi ini di http://www/panda/org; situs lokal di http://www.wwf.or.id/, dan situs keanggotaan WWF-Indonesia di http://supporterwwf.org/.

Tentang Heart of Borneo
Heart of Borneo adalah sebuah inisiatif yang dirancang sebagai program pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi yang bertujuan mempertahankan keberlanjutan manfaat salah satu hutan terbaik yang masih tersisa di Borneo bagi kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang. Cakupan kerja Heart of Borneo membentang pada rangkaian dataran tinggi Borneo yang terhubung secara langsung dengan dataran rendah di bawahnya. Wilayah kerja ini melintasi Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia, kawasan Heart of Borneo mencakup 3 provinsi yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Kabupaten Kapuas Hulu termasuk di dalam kawasan Heart of Borneo. Silakan kunjungi situsnya di www.wwf.or.id/HeartofBorneo atau www.wwf.or.id/JantungBorneo.

WWF-Indonesia di Kalimantan Barat
Sejak tahun 1995 hingga saat ini WWF-Indonesia membantu Departemen Kehutanan dalam menyusun Rencana Pengelolaan 25 Tahun Taman Nasional Betung Kerihun. WWF-Indonesia juga mendukung program bersama tiga negara; Jantung Borneo atau the Heart of Borneo dimana peran Provinsi Kalimantan Barat sebagai salah satu pemilik hutan paru-paru dunia diakui keberadaannya secara luas. Dalam kerangka Jantung Borneo, WWF-Indonesia di Kalimantan Barat membantu program ini di Taman Nasional Betung Kerihun, Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, bersama pihak-pihak terkait lainnya, serta mendorong praktek-praktek yang lebih ramah lingkungan pada upaya-upaya ekonomi berbasis sumberdaya alam di Kalimantan Barat pada umumnya.

Comments

blog comments powered by Disqus