| WWF Indonesia


 
	© WWF-Malaysia/ Mazini Abd Ghani

Sawit Berkelanjutan

TUMBUH kembang industri sawit kerap dikaitkan sebagai sebab terus terjadinya deforestasi dan perubahan tata guna lahan dan kehutanan. Tapi, benarkah demikian?

Menyalahkan sawit tentu merancukan komoditas ini dengan cara pengembangannya. Masalahnya tidak terletak di komoditas kelapa sawit sendiri, tapi pada cara dan lokasi budidayanya.

 

INISIATIF SAWIT BERKELANJUTAN

Baru-baru ini di Ukui, Riau, konsep sawit lestari berhasil dikembangkan oleh petani sawit swadaya. Inisiatif serupa muncul pula di Kalimantan.

Asosiasi Petani Sawit Swadaya Amanah memulai inisiatif sawit lestari di Riau dengan dampingan WWF Indonesia. Asosiasi ini menjadi asosiasi sawit pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat dari RSPO (Roundtable of Sustainable Palm Oil) untuk pengelolaan kebun kelapa sawit yang berkelanjutan pada tahun 2013. Kebersamaan dan keinginan untuk memperbaiki praktik budidaya sawit menjadi fondasi dalam menerapkan prinsip dan kriteria RSPO. 

Hendak mengulang sukses yang sama, WWF Indonesia mengadopsi apa yang telah dilakukan di Riau pada petani sawit swadaya di Sintang, Kalimantan Barat. WWF Indonesia mengakselerasi praktik berkelanjutan yang diinisiasi petani-petani di Koperasi RImba Harapan.

WWF Indonesia berkomitmen menjawab tantangan selanjutnya: bagaimana praktik sawit swadaya terlibat dalam upaya penghentian deforestasi, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan—pada saat yang sama—mengelola ketahanan ekonomi. 
 

H. Narno, Ketua Kelompok Tani Sawit Swadaya Amanah, yang menerima sertifikat RSPO pertama di ... 
	© WWF-Indonesia
H. Narno, Ketua Kelompok Tani Sawit Swadaya Amanah, yang mesertifikat RSPO pertama di Indonesia.
© WWF-Indonesia
 
	© Maharddhika
Petani swadaya sawit berkelanjutan Koperasi Rimba Harapan di lahannya.
© Maharddhika

WWF percaya bahwa budidaya berkelanjutan dan ramah lingkungan bisa diterapkan pada sawit. Upaya ini setidaknya mampu mengurangi efek buruk dari ekspansi industri sawit.

WWF melakukan pendampingan pada petani-petani sawit swadaya untuk membenahi tata kelola kelembagaan dengan merancang standar operation procedure untuk berbagai aktivitas dari mulai perekrutan anggota hingga pemanenan.

Tak hanya itu, petani juga diajak untuk membangun kesadaran pentingnya sawit lestari dengan membenahi tata kelola kebun. Semua proses aktivitas pengelolaan sawit dicatat, dinilai, dan dianalisis bersama untuk menarik kesimpulan keuntungan mempraktikkan sawit lestari.
 

► KONSUMEN: Cermati produk dengan label RSPO dan teliti kebijakan perusahaan mengenai praktik sawit berkelanjutan.

► PELAKU BISNIS: Bergabung bersama RSPO untuk menunjukkan kepada publik komitmen perusahaan dalam mendukung praktik sawit berkelanjutan.

RECEIVE OUR QUARTERLY BRIEFING ON SUSTAINABLE COMMODITIES FINANCE


 
  rel=
© WWF-International/James Morgan

SEDERET KEBERHASILAN, SETUMPUK PEKERJAAN

Koperasi Rimba Harapan baru saja menolak petani yang hendak bergabung. Meski masih memendam belas kasihan, penolakan ini mesti tegas dilakukan.

Petani itu tak bisa mengelak ketika ditanya soal cara membuka lahan. Ia membakar lahannya sebelum memulai menanam sawit.
Koperasi Rimba Harapan di Sintang, Kalimantan harus menolak petani yang tidak menerapkan praktik perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, salah satunya membakar lahan ini. Koperasi Rimba Harapan berkomitmen mewujudkan visi memproduksi sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Tak hanya tertuang dalam aturan, visi ini mulai terinternalisasi dalam praktik sehari-hari perkebunan sawit. Suratno, ketua Koperasi Rimba Harapan sengaja menyisihkan tiga hektar lahannya untuk dijadikan rumah bagi satwa-satwa liar yang masih ada di sekitar Tebelian.

Usaha Suratno ini muncul ketika ia melihat segerombolan monyet yang tampak kebingungan ketika warga desa membuka lahan untuk dijadikan kelapa sawit. Merasa prihatin, ia membiarkan lahannya itu untuk jadi rimbun dan membentuk kanopi yang cukup rapat sebagai rumah satwa.

Inovasinya makin liar. Ia menerapkan tumpang sari di sekitar sawitnya yang sudah masuk usia empat tahun tanam. Sayur-sayuran dan buah-buahan lebih dulu menghasilkan uang dibanding sawit yang belum terlihat hasil panennya. Inisiatifnya ini mulai ditiru kawan-kawannya yang juga tergabung dalam Koperasi Rimba Harapan.

Praktik ini adalah sukses terbesar yang tak kasat mata. Pendampingan WWF-Indonesia telah menciptakan sensitifitas ramah lingkungan pada industri sawit yang disebut-sebut sebagai faktor utama deforestasi. Petani sawit swadaya pelan-pelan mengubah wajah buruk industri sawit ini. Ini juga membuktikan kepercayaan bahwa permasalahan utama deforestasi bukan terletak pada sawit, tetapi bagaimana praktik sawit ini diproduksi.

Tujuan WWF

> Suplai dan produksi sawit yang ramah lingkungan dan dapat diterima secara sosial 


> Meningkatkan permintaan dan penggunaan barang yang diproduksi dari sawit berkelanjutan

 
	© James Morgan / WWF-International

WWF-Indonesia berkomitmen untuk terus melanjutkan inisiatif-inisiatif yang telah dimulai ini. Setumpuk pekerjaan perlu terus dilakukan untuk menuju sawit berkelanjutan. Apalagi, tren peningkatan budidaya sawit terus melonjak.


Turut terlibat menguatkan ikhtiar petani swadaya mempraktikkan sawit lestari adalah sebuah keharusan. Praktik sawit berkelanjutan oleh petani sawit swadaya setidaknya akan mengerem perluasan perkebunan sawit tak bertanggung jawab yang tentu mengancam hutan—jantung dunia tempat dimana orang utan, gajah asia, dan badak sumatera hidup bersama dan berdampingan dengan manusia.

TIM KAMI

Irwan Gunawan
Deputy Director MTI Indonesia
igunawan@wwf.or.id
 

Annisa Ruzuar
Communication Coordinator MTI Indonesia
asruzuar@wwf.or.id
 

Rizkiasari Yudawinata
Market Transformation Officer for Private Sector Policy
rjoedawinata@wwf.or.id