| WWF Indonesia


 
	© shuttestock / Leung Cho Pan / WWF

Keuangan Berkelanjutan

KESUKSESAN ekonomi Indonesia dan terbukanya akses pada teknologi modern telah mendorong pemerintah menetapkan target PDB sebesar 4.0--4.5 triliun dan pertumbuhan ekonomi setidaknya 8--9 persen di periode 2015--2025.
 

Namun sayangnya, mencapai target ambisius ini akan diikuti oleh semakin rusaknya lingkungan dan kehidupan sosial seperti deforestasi, degradasi, ancaman habitat dan kehidupan penduduk adat. 
 

Untuk menghadapi itu, sebagai salah satu negara dalam kelompok negara G20, Indonesia juga berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% (atau 41% dengan bantuan antarbangsa) di tahun 2020.

Bagaimana Indonesia dapat mencapai dua target yang berlawanan ini?

ARE YOU A FINANCIAL INSTITUTION?

RECEIVE OUR QUARTERLY BRIEFING ON SUSTAINABLE COMMODITIES FINANCE


 

Mengapa Keuangan Berkelanjutan?

Keuangan berkelanjutan menyeimbangkan target pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Sebagai sumber keuangan, lembaga jasa keuangan (LJK) memiliki pengaruh atas perilaku operasional para pelaku bisnis. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menyadari peran signifikan LJK ini, telah merancang Roadmap Keuangan Berkelanjutan.

Keuangan berkelanjutan bertujuan untuk mendorong LJK mengimplementasikan praktik-praktik keuangan yang lebih ramah lingkungan dengan ‘menghijaukan’ basis pelanggannya dan mengutamakan transaksi keuangan untuk proyek bisnis yang ramah lingkungan. Prinsip baru ini akan membantu Indonesia untuk mencapai dan menyeimbangkan target pertumbuhan ekonomi dan kelestarian. 

Lalu, mengapa LJK seharusnya mematuhi prinsip ini? 

Keuangan berkelanjutan tidak hanya baik bagi lingkungan, tetapi juga baik bagi LJK yang sukses mempraktikkannya. Dengan menerapkan etika bisnis, LJK dapat meningkatkan nilai mereknya sekaligus mengecilkan potensi risiko reputasi. Risiko reputasi dan juga risiko kredit biasanya timbul dari investasi proyek yang mengancam kelestarian lingkungan. 

Mengutamakan investasi untuk aktivitas bisnis yang ramah lingkungan dapat membantu LJK mengatasi risiko perusahaan dan memastikan keberlanjutan perusahaan. Kerja ini diyakini dapat terus berkontribusi pada perkembangan Indonesia di jangka panjang dan keberlanjutan pasar komoditas seperti makanan dan bahan bakar. 

 

 
	© shuttestock / Leung Cho Pan / WWF


Keuangan berkelanjutan akan menjadi tantangan baru yang dapat memicu persaingan LJK dalam membuktikan kapasitas mereka.

Keuangan berkelanjutan telah dimulai di negara-negara maju dan akan menjadi norma sistem jasa keuangan yang baru.

Mempraktikkannya di Indonesia akan memicu adaptasi LJK pada standar internasional yang kemudian dapat merangsang pembiayaan dari negara luar.

 rel=
CEOs from first movers on Sustainable Banking
© WWF-Indonesia / Novita Eka Syaputri

Delapan Bank Terbesar Berkomitmen Terapkan Keuangan Berkelanjutan

Delapan bank dengan aset terbesar berkomitmen menjadi perintis untuk perbankan yang berkelanjutan.

Komitmen tersebut dituangkan melalui Proyek Percontohan (Pilot Project) kerjasama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan WWF-Indonesia yang bertajuk “Langkah Pertama untuk Menjadi Bank yang Berkelanjutan”. Kedelapan bank tersebut adalah Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, Bank Muamalat, BRI Syariah, Bank BJB dan Bank Artha Graha Internasional.
 
Komitmen ini merupakan langkah besar yang diambil para bank tersebut dalam waktu kurang dari setahun setelah diluncurkannya Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan oleh OJK pada 5 Desember 2014.
 
Proyek percontohan ini bertujuan  mendukung penyiapan kompetensi bank menyangkut sasaran dalam Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan di Indonesia periode 2014-2019. Kompetensi yang disasar secara khusus adalah kemampuan organisasi dalam mengelola aspek lingkungan, sosial dan tata kelola (LST) dalam keputusan bisnisnya. Juga untuk meningkatkan porsi pembiayaan ke kegiatan bisnis yang dilakukan secara berkelanjutan. Continue Reading 

 
	© WWF-Indonesia
Booklet ENGLISH VERSION
© WWF-Indonesia

Proyek Percontohan Bank Berkelanjutan

Langkah pertama menjadi perbankan berkelanjutan.

Selama 18 bulan terhitung dari Januari 2016, bank didampingi OJK dan WWF Indonesia mulai menerapkan keuangan berkelanjutan yang terdiri dari pengembangan kerangka kerja integrasi aspek lingkungan, sosial dan tata kelola (LST), antara lain sebagai berikut: 

  • Identifikasi tingkat penerapan keuangan berkelanjutan bank saat ini,
  • Menentukan target bank dalam meningkatkan integrasi keuangan berkelanjutan,
  • Pengembangan dan penetapan kerangka kebijakan keuangan berkelanjutan di level korporasi,
  • Penyempurnaan dan penetapan kebijakan sektoral pembiayaan untuk industri kelapa sawit, dimana industri ini akan menjadi contoh penerapan di dalam pilot project ini.

TIM KAMI

Irwan Gunawan
Deputy Director MTI Indonesia
igunawan@wwf.or.id
 

Rizkiasari Yudawinata
Market Transformation Officer for Private Sector Policy
rjoedawinata@wwf.or.id

  •  
	© WWF
    Panduan Integrasi LST bagi Perbankan
  •  
	© WWF-Indonesia
    Sustainable Finance Report 2015
  •  
	© WWF-Indonesia
    Kriteria pada 2050 : Panduan untuk Investasi yang Bertanggung Jawab pada Komoditi Pertanian, Hutan dan Seafood
  •  
	© Panda.org
    Profitability and Sustainability in Palm Oil Production
  •  
	© WWF
    Profitability and Sustainability in Responsible Forestry
  •  
	© WWF
    Palm Oil Investor Review: Investor Guidance on Palm Oil
  •  
	© WWF
    Making Better Production Everybody's Business