Forest Conversion Program

  / ©: WWF-Indonesia/Tira Maya
© WWF-Indonesia/Tira Maya
Lebih dari 28 juta ton minyak sawit diproduksi setiap tahunnya dan merupakan salah satu sumber makanan utama di seluruh dunia. Minyak sawit digunakan untuk beragam jenis makanan seperti kue, biskuit, dan lain-lain. Produksi minyak sayuran di seluruh dunia mencapai 95 juta ton setiap tahunnya dan minyak sawit menempati peringkat kedua di dunia setelah kedelai. Penjualan minyak sawit mengalami peningkatan drastik di Eropa, Cina dan India.

Berkembangnya minyak sawit telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen dan LSM karena dampak lingkungan dan sosial yang dihasilkannya. Hal yang paling nyata adalah tekanan lingkungan karena kelapa sawit hanya dapat tumbuh di negara tropis seperti Malaysia, Indonesia dan Kolumbia. Meskipun beberapa perkebunan sawit dikelola secara baik, WWF sebagai organisasi konservasi khawatir bahwa yang lainnya telah merugikan dari segi sosial dan lingkungan karena pembukaan lahan, kebakaran hutan dan asap yang ditimbulkannya, serta diabaikannya hak dan kepentingan masyarakat lokal. Berbagai pemberitaan terbaru di media melaporkan bahwa beberapa perkebunan kelapa sawit masih dikaitkan dengan pembakaran lahan pada saat pembukaan lahannya, perusakan hutan bernilai konservasi tinggi dan mencemari sungai dengan limbah dari pabriknya.

Berdasarkan data WWF, lebih dari empat juta hektar lahan telah digunakan untuk perkebunan dan jumlah ini semakin meningkat seiring dengan waktu. WWF percaya bahwa konservasi dan kebutuhan sosial-ekonomi dapat diseimbangkan jika ada rencana tata ruang yang baik serta praktek pengelolaan terbaik bagi perkebunan yang berkelanjutan, yang di dalamnya termasuk melarang penggunaan hutan dengan nilai konservasi tinggi sebagai perkebunan.

FCP menghadapi tantangan yang besar di Indonesia, antara lain dengan adanya pertemuan 2nd meeting of the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Jakarta pada bulan Oktober 2004 yang bertujuan untuk melestarikan hutan dengan nilai konservasi tinggi (High Conservation Value Forests-HCVF) dan pengembangan praktek pengelolaan terbaik (Better Management Practices-BMPs).

Beberapa aktifitas yang harus mendapat fokus utama termasuk menjalin kerjasama lembaga keuangan untuk melaksanakan green investment screening serta memperluas pengetahuan tentang pelaku utama industri minyak sawit yang berkelanjutan melalui serangkaian pelatihan, workshop dan menggunakan alat-alat komunikasi.

WWF-Indonesia merupakan anggota Steering dan Organizing Committee 2nd RSPO meeting. Pertemuan ini berhasil meningkatkan kerjasama dengan pihak swasta dengan perusahaan, asosiasi dan pemerintah. Untuk melestarikan HCVF, kegiatan difokuskan pada kegiatan mendasar perkebunan sawit dan perlunya pengembangan hasil pembelajaran dan dokumen pelaporan. Sementara untuk praktek pengeloaan terbaik (Best Management Practices-BMP), FCP-Indonesia membantu WWF-Malaysia dalam usahanya untuk memfinalisasikan pengembangan draf BMP mengenai konflik gajah-manusia.