Kesepakatan Rencana Pengembangan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Kawasan Ekosistem Muller (KEM)



Posted on 25 July 2013  |   |  en  |  id
Oleh: Anastasia Joanita

Kawasan Ekosistem Pegunungan Muller merupakan koridor inti Kawasan Strategis Nasional Heart of Borneo (KSN HoB) yang memiliki fungsi sebagai kawasan ekologis. Inisiatif Pegunungan Muller yang dimulai sejak tahun 2008 ini oleh WWF-Indonesia bekerjasama dengan Pokja HoB (Tingkat Nasional, Provinsi dan Kabupaten), Universitas, lokal NGO, Aliansi Masyarakat Adat, serta didukung masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar kawasan pegunungan telah melakukan berbagai kegiatan dalam mengupayakan pengelolaan kawasan pegunungan Muller secara lestari.

Sejak tahun 2011, telah dibentuk sebuah tim penyusun naskah akademik rencana pengelolaan Kawasan Ekosistem Muller (KEM) yang terdiri dari para Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tim ahli, tim teknis Universitas Daerah (UNPAR & UNKAP), tim teknis Kabupaten serta WWF-Indonesia yang telah secara aktif melakukan diskusi dengan para pihak baik tingkat daerah maupun tingkat kota/kabupaten di masing-masing 4 kabupaten di Kalimantan yaitu; Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Sintang (Kalimantan Barat) serta Kabupaten Gunung Mas dan Kabupaten Murung Raya (Kalimantan Tengah) dalam mensosialisasikan dan menyusun berbagai opsi dalam rencana pengelolaan KEM ini.

Pada 25-27 Juni 2013 bertempat di Jogjakarta diadakan “Semi-loka Rancangan Kelola Kawasan Ekosistem Muller, Kawasan Strategis Nasional Heart of Borneo (KSN HoB)” yang menindaklanjuti pertemuan pada masing-masing Kabupaten untuk kembali melihat dokumen naskah akademik dan sebagai komitmen bersama dalam penyusunan program tindak lanjut rencana pengelolaan Kawasan Ekosistem Muller yang mengacu pada status KSN HoB. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari tersebut difasilitasi oleh WWF-Indonesia bekerjasama dengan UGM disambut baik oleh Pokja (Nasional, Provinsi, Kabupaten), Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, tim teknis kabupaten, serta lokal NGO.

Pertemuan di hari pertama, dilaksanakan pemaparan dan diskusi mengenai KEM dalam KSN HoB serta rencana pengelolaan KEM dari 4 Kabupaten yang hadir. Dalam kesempatan tersebut, Asisten Deputi II Bidang Koordinasi Pangan dan Sumber Daya Hayati – Kementerian Koordinasi Perekonomian dalam perwakilannya sebagai Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) HoB mengungkapkan dukungannya bagi inisiatif KEM untuk ditetapkan sebagai kawasan ekosistem, KSN HoB. Selanjutnya beliau mengutarakan juga rencana untuk mendorong KEM ini menjadi kawasan koridor ekologis yang meghubungkan diantaranya 3 Taman Nasional di HoB yaitu Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) serta Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).

Dalam pemaparan yang dilakukan oleh 4 Kabupaten yang berada di Kawasan Pegunungan Muller menyatakan pilihannya pada opsi KPH sebagai bentuk pengelolaan KEM. “Kami memilih opsi pengelolaan KPH pada pengelolaan KEM di Kabupaten Gunung Mas,” ungkap Bapak Yansiterson, Pokja HoB Kabupaten Gunung Mas. Lebih lanjut lagi beliau menambahkan bahwa Kabupaten Gunung Mas sudah ditetapkan oleh Kementerian Kehutanan kelembagaan KPH XVI dimana didalamnya termasuk KEM seluas ± 69.000 ha dari luas keseluruhan kawasan KPH XVI yaitu ± 294.000 ha.

Sementara itu, Bapak Jumtani Albert dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kapuas Hulu juga mengungkapkan bahwa telah ditetapkan Wilayah KPHP Model Kapuas Hulu oleh Kemenhut. Berdasarkan penetapan pengelolaan hutan pada Surat Keputusan Kemenhut No.67/Menhut-II/2010 maka KEM masuk dalam rencana pengelolaan melalui KPH unit XX.

Bagaimanapun, masing-masing kabupaten menyepakati untuk tetap fokus pada rencana program kerja inisiatif KEM di kabupaten masing-masing demi mendorong efektifitas pengelolaan KEM dan mengusulkan untuk dibentuk sebuah forum para pihak pengelolaan KEM sebagai bentuk media komunikasi dan koordinasi lintas Provinsi/Kabupaten Kota.

Selanjutnya pada hari kedua dilaksanakan kegiatan field trip ke KPH di Jogja dan dari kegiatan field trip ini, peserta melihat berbagai kegiatan serta bagaiman kelola yang telah selama ini dilakukan di KPH Jogjakarta. Beberapa peserta merasa terkagum melihat salah satu bentuk pengelolaan yang telah dilaksanakan di Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran – Gunung Kidul.

Pada hari ketiga pertemuan dilaksanakan pembahasan usulan rencana selama 6 bulan kedepan yang antara lain adalah; a). melakukan pertemuan dalam 3 bulan kedepan di masing-masing kabupaten untuk menyampaikan RTL inisiatif KEM dan menghimpun dukungan para Bupati dalam hal ini, b). revitalisasi dan optimalisasi peran dan kerja Pokja HoB (Provinsi dan Kabupaten) dengan memasukkan inisiatif KEM dan program spesifiknya dalam rencana kerja di HoB masing-masing Provinsi/Kabupaten, c). melakukan audiensi dengan PokjaNas sehinggan PokjaNas dapat menyampaikan kepada Pokja Provinsi dan Pokja Kabupaten utnuk memperkuat inisiatif KEM ini, dan yang terpenting adalah d). adanya realisasi program kerja yang sudah dibentuk di masing-masing kabupaten terutama terkait dengan inisiatif KEM ini. Kemudian pertemuan serupa akan diadakan lagi pada 6 bulan kedepan.

Tim Ahli dari UGM Jogja merasa senang dengan hasil yang dicapai pada pertemuan ini. Mereka akan melengkapi dokumen final rencana pengelolaan KEM ini kemudian menyerahkannya kepada PokjaNas HoB sebagai salah satu bentuk rancangan program kegiatan HoB 5 tahun kedepan.

Semi-loka Rancangan Kelola Kawasan Ekosistem Muller (KEM) - HoB, Jogjakarta 25 Juni 2013
© Anastasia Joanita Enlarge
Semi-loka Rancangan Kelola Kawasan Ekosistem Muller (KEM) - HoB, Jogjakarta 26 Juni 2013
© Anastasia Joanita Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus