Karakter Alami Hutan: Memetakan Masyarakat Bagi Pengelolaan Yang Lebih Efektif dan Bijaksana di Taman Nasional Kayan Mentarang



Posted on 21 October 2013  |   |  en  |  id
Oleh: Cristina Eghenter
 
Di Taman Nasional Kayan Mentarang, pemetaan partisipatif masyarakat memainkan peran penting dalam perencanaan dan pengembangan taman nasional tersebut. Pemetaan berperan penting dalam membuktikan bahwa pengelolaan berbasis masyarakat dari kawasan konservasi adalah suatu kewajiban utama. Selain itu, hal tersebut menjadi bukti penting dalam merekomendasikan perubahan status dari cagar alam menjadi taman nasional, dan metodologi yang cocok untuk merencanakan pengelolaan kolaboratif. Tidak mengherankan, pemetaan partisipatif masyarakat memperoleh nilai tertinggi di antara kegiatan lapangan dengan responden masyarakat dalam survei kepuasan yang dilakukan oleh WWF pada tahun 2005.
 
WWF-Indonesia meluncurkan buku baru, Masyarakat dan Konservasi: 50 Cerita Inspiratif dari WWF untuk Indonesia, buku baru tersebut berisi tentang 50 tahun perjalanan WWF-Indonesia sebagai organisasi konservasi. 
 
Muncul kuat dari itu perjalanan panjang dan semua cerita dalam buku ini adalah pelajaran bahwa masyarakat berada di garis depan konservasi dan harus dapat menjadi mitra kunci dalam konservasi. Konservasi merupakan faktor kunci dalam pembangunan berkelanjutan, dan masyarakat adat dan lokal harus menjadi bagian dari proses sebagai kunci utama dan penerima manfaat.
 
Delapan belas dari lima puluh cerita yang ditampilkan dalam buku ini berasal dari Heart of Borneo dan semua cerita menunjukkan efektivitas konservasi ketika masyarakat adat, pengetahuan dan praktik di lapangan, terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini juga tercermin dalam kisah berikut yakni dalam cerita Pemetaan Partisipatif Masyarakat di Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Timur, Indonesia.

Peta adalah alat yang ampuh, dengan kekuatan visual, untuk mengekspos kekuatan hubungan sosial yang tertanam dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam. Oleh karena itu peta lebih sering digunakan bagi kepentingan advokasi. Dengan kekuatan visual, peta mampu menampilkan cara-cara langsung dan jelas ranah manajemen, penggunaan dan kepemilikan seperti yang dilakukan oleh masyarakat, dan ketergantungan terhadap sumber daya tersebut. Itu membuat jelas apa yang sering terpendam dan terjadi kesalahpahaman: pengetahuan mengenai tanah dan sumber daya, dan praktik manajemen tradisional masyarakat lokal dan masyarakat adat.
 
Pemetaan masyarakat di Taman Nasional Kayan Mentarang dimulai pada tahun 1992 dengan latihan percobaan dan eksperimen di Desa Long Uli, di Sungai Bahau. Perkembangan metodologi yang lengkap serta pendekatan sistematis berlangsung dari tahun 1994-1996. Kunci pelaksanaannya yakni mengacu pada cara adat untuk mengatur dan menggunakan ruang dan pola penggunaan lahan, transek lapangan dan peta sumber daya untuk menilai keberadaan dan kelimpahan sumber daya tersebut, serta peraturan adat tentang bagaimana mengatur tanah dan sumber daya yang digunakan dan dikelola. Selama pemetaan, kesejarahteraan sosial desa atau masyarakat, batas-batas tanah adat ataupun desa-desa lainnya juga direkonstruksi. Seluruh proses dilakukan melalui perspektif dari laki-laki, perempuan, dan kaum muda.
 
Secara geografis dan sosial, Taman Nasional Kayan Mentarang berada diatas sebelas tanah adat Dayak Kenyah, Kayan, Lundayeh, Sa'ban, Punan, Tahol, dan kelompok sub-etnis lainnya. Sebagian besar dari mereka adalah petani padi (baik pertanian kering ataupun pertanian basah), mereka mengumpulkan dan memperdagangkan hasil hutan non-kayu (NTFP) selama berabad-abad seperti resin, rotan, gaharu dan lain-lain, mereka juga mencari ikan dan berburu. Sementara pemetaan ini dilakukan di semua desa dan hasil dari setiap desa dalam satu tanah adat akan dikompilasi ke dalam peta tanah adat. Yang terakhir ini didefinisikan sebagai unit social yang paling signifikan untuk membingkai proses pemetaan dan pengakuan hak-hak masyarakat adat. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa pemetaan partisipatif di dalam dan di sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang sebenarnya merupakan pemetaan bagi 'tanah adat'.
 
Antara 1996 dan 1998, sebelas tanah adat dipetakan oleh masyarakat adat itu sendiri. WWF memfasilitasi, melatih dan membantu dalam proses, namun masyarakat (laki-laki, perempuan, dan kaum muda) adalah pelaku utama serta penerima manfaat utama proses pemetaan.
 
Dengan tujuan untuk mengirimkan informasi yang dapat dibaca dengan mudah oleh orang luar, peta menjadi alat penting dalam diskusi dan negosiasi dengan pemerintah dan sektor swasta. Di antara masyarakat itu sendiri, peta merupakan dasar untuk menyelesaikan batas lokal dan sengketa lainnya.
 
Pemetaan adalah alat yang sangat penting untuk membantu memastikan bahwa setiap proses perencanaan dan perubahan status konservasi atau keputusan manajemen lainnya dilakukan dengan cara yang lebih partisipatif dan sejalan dengan prinsip FPIC (bebas dan penuh informasi). Pemetaan di Kayan Mentarang telah mengakui dan menganjurkan hak-hak masyarakat adat dalam pengelolaan taman nasional, perjanjian ini termasuk juga di dalamnya batas eksternal kawasan konservasi, desa dan pertanian yang ada di dalam taman nasional tersebut, adopsi peraturan dan praktek untuk pengelolaan adat taman dan juga sistem zonasi.
 
Pemetaan bukan alat statis. Hal ini dimaksudkan untuk membantu memantau kecenderungan dan perubahan yang terjadi di lapangan serta mempersiapkan rencana pembangunan yang mempertimbangkan lingkungan untuk tetap menghormati kebijaksanaan dan aspirasi dari masyarakat lokal. Selain itu, fakta bahwa masyarakat lokal sendiri dapat menguasai teknik pemetaan ini meningkatkan kemampuan mereka untuk mengontrol, mengelola, dan memantau informasi yang terkandung dalam peta untuk mencegah penyalahgunaan sumber daya alam dan pengelolaan berkelanjutan di tanah mereka sendiri.
Peta penggunaan lahan dan perbatasan di Taman Nasional Kayan Mentarang, HoB, Heart of Borneo
Peta penggunaan lahan dan perbatasan di Taman Nasional Kayan Mentarang
© WWF-Indonesia Enlarge
Long Pujungan, Kayan Mentarang, Cristina Eghenter, Heart of Borneo, HoB
Long Pujungan, Kayan Mentarang
© WWF-Indonesia/Cristina Eghenter Enlarge
Cristina Eghenter, Kayan Mentarang, Heart of Borneo, HoB
Ibu-ibu disana juga terlibat dalam pemetaan masyarakat
© WWF-Indonesia/Cristina Eghenter Enlarge
Hamparan sawah di Long Rungan, Cristina Eghenter, Heart of Borneo, HoB, Kayan Mentarang
Hamparan sawah di Long Rungan
© WWF-Indonesia/Cristina Eghenter Enlarge
Pujungan - Bahau Hulu, Mubariq Ahmad, Heart of Borneo, HoB, Kayan Mentarang
Pujungan - Bahau Hulu
© WWF-Indonesia/Mubariq Ahmad Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus