Kisah dari “Dua Jantung Borneo”



Posted on 21 October 2013  |   |  en  |  id
Oleh: Cristina Eghenter

Pada bulan Oktober 2004, para tetua dan perwakilan masyarakat dari dataran tinggi di kawasan Heart of Borneo di Malaysia (Bario, Ba 'Kelalan, Long Semadoh, Ulu Padas) dan Indonesia (Krayan dan Krayan Selatan) bertemu di Long Bawan (Krayan) untuk membentuk Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (FORMADAT). Logo yang dipilih menyatakan: Masyarakat yang ada di Heart of Borneo. Ini merupakan pesan penting yang ingin disampaikan oleh masyarakat disana: ada masyarakat yang menyatakan bahwa dataran tinggi tersebut merupakan tanah leluhur mereka, serta ada pula masyarakat di Heart of Borneo yang berada di perbatasan di antara Indonesia dan Malaysia yang pada saat itu juga telah melestarikan dan mengelola hutan dan sawah dengan cara tradisional dan berkelanjutan. Ini adalah awal dari kisah FORMADAT untuk "... meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang masyarakat dataran tinggi, membangun kapasitas lokal, serta mendorong pembangunan berkelanjutan di kawasan Heart of Borneo." (Deklarasi FORMADAT, 2006).
 
Pada bulan Februari 2007, ketiga pemerintah dari Brunei, Indonesia dan Malaysia menandatangani deklarasi Inisiatif Heart of Borneo untuk melindungi dan mengelola secara berkelanjutan hutan-hutan yang berada di Jantung Borneo. Hal ini merupakan langkah awal dari komitmen ketiga pemerintah untuk ".... memajukan kesejahteraan masyarakat dan bekerja sama dalam manajemen yang efektif dari sumber daya hutan serta melestarikan kawasan lindung, hutan produktif dan juga penggunaan lahan secara berkelanjutan... "
 
Namun baru pada Pertemuan Trilateral ke-7 di Brunei, 4-5 September 2013 belum lama ini, bahwa kisah dari "Dua Jantung Borneo" menjadi semakin kuat. Untuk pertama kalinya, perwakilan dari FORMADAT Indonesia dan Malaysia (Lewi Gala P, George Sigar Sultan, John Tarawe, dan Gat Khaleb) diundang sebagai pengamat pada Pertemuan Trilateral dan Pertemuan setingkat Menteri pada 7 September 2013. Ini adalah tonggak utama bagi masyarakat adat yang tergabung dalam FORMADAT, yang selama dua tahun terakhir telah berusaha untuk mendapat pengakuan inisiatif masyarakat lintas batas yang berada di dataran tinggi dan sebagai tanda kemitraan formal dengan Inisiatif Trilateral HoB dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di dataran tinggi.
 
"Kami adalah masyarakat yang tinggal di kawasan Heart of Borneo di mana kami telah tinggal selama berabad-abad dan menjaga lingkungan di dataran tinggi. Kami senang berada di sini bersama Anda hari ini, dan kami ingin memperluas kerja sama dan dukungan bagi inisiatif HoB," ujar John Tarawe menyampaikan pidato kepada delegasi dari ketiga negara atas nama FORMADAT, pada hari pertama pertemuan tersebut. Untuk pertama kalinya, terdapat sebuah agenda yang dikhususkan bagi masyarakat. Delegasi Indonesia menyampaikan usulan, Jaringan Masyarakat Setempat untuk Mempromosikan Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi di kawasan Heart of Borneo untuk didiskusikan lebih jauh dan mengundang FORMADAT untuk hadir di dalam rapat. Usulan tersebut akan disempurnakan dan diserahkan kepada negara-negara anggota sebelum pertemuan trilateral berikutnya untuk dipertimbangkan.
 
Proses dan formalitas pada rapat pemerintah, serta adanya pembahasan yang tertutup mungkin memunculkan sedikit kemisteriusan bagi perwakilan FORMADAT dan tentu saja memunculkan perasaan yang jauh dari keterbukaan dan tampaknya tidak teratur. Tapi fakta bahwa mereka turut diundang pada Pertemuan Trilateral untuk pertama kalinya, dan diakui sebagai FORMADAT, telah membuka harapan baru. Para perwakilan FORMADAT mampu berbaur dan berdiskusi dengan anggota delegasi, serta berbagi cerita dari Heart of Borneo. Hal tersebut membuat pertemuan trilateral menjadi lebih inklusif dan bermakna. Ini menegaskan langkah awal dari apa yang telah menjadi sebuah perjalanan umum, dan cerita bersama dari sesama Jantung Borneo.
FORMADAT, George Sigar Sultan, Heart of Borneo, John Tarawe, Trilateral Meeting ke 7
John Tarawe menyampaikan pidato kepada delegasi dari ketiga negara atas nama FORMADAT, pada hari pertama pertemuan tersebut.
© George Sigar Sultan Enlarge
Logo FORMADAT, Heart of Borneo, HoB, Malaysia, Indonesia
Logo FORMADAT
© FORMADAT Enlarge
FORMADAT, Indonesia, Malaysia, Heart of Borneo, HoB
Dari kiri ke kanan: Gat Khaleb, Lewi P Gala (FORMADAT Indonesia), Geroge Sigar Sultan dan John Tarawe (FORMADAT Malaysia)
© George Sigar Sultan Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus