Pertemuan Perdana Tiga Negara Membahas Tata Ruang Heart of Borneo



Posted on 01 November 2013  |   |  en  |  id
Didahului oleh pertemuan tiga negara Heart of Borneo (HoB) yang ketujuh di Brunei pada September 2013, pertemuan Sistem Informasi Geografis (Geographical Information System - GIS) HoB diselenggarakan pada Oktober, untuk yang pertama kalinya sejak mulai dibahas di tahun 2008.
 
Diskusi membahas isu seputar pengorganisasian dan modalitas kerja dari Tim Teknis GIS HoB, presentasi mengenai kebijakan tata ruang nasional, dan identifikasi kegiatan bersama. 
Pertemuan ini berguna untuk membangun pemahaman yang lebih baik mengenai pengelolaan pemanfaatan lahan dan prinsip-prinsip yang melatarbelakanginya. Setiap negara menyadari bahwa adanya perbedaan rencana pemanfaatan lahan, yang berarti perbedaan pengelolaan pemanfaatan lahan, adalah sebuah realitas. Meski demikian, ketiga negara menunjukkan keinginan untuk mengatasi tantangan ini. Dengan perbedaan klasifikasi lahan atau nomenklatur atau klasifikasi lahan, fungsi esensial dari rencana pemanfaatan lahan dapat dipahami dan telah menjadi referensi dan pengetahuan bagi setiap negara utnuk mengembangkan kebijakan dan praktik pengelolaan pemanfaatan lahan yang lebih baik, yang mempertimbangkan keseimbangan antara konservasi dan pembangunan.
 
Ketiga negara dapat menerima perbedaan yang ada, menyepakati untuk mengatasi perbedaan tersebut dan menjadikannya sebagai pengayaan dalam membuat perencanaan. Sikap ini penting untuk memungkinkan ketiga negara, melalui Inisiatif HoB, dapat membuat dan meningkatkan standar keberlanjutan yang tepat – yang dapat diadopsi di semua negara HoB dan menjadikannya sebagai intervensi regulasi bersama. 
 
Pertemuan ini menyepakati peran Kelompok Kerja GIS HoB untuk memfasilitasi diskusi-diskusi, termasuk pengembangan kriteria keberlanjutan yang spesifik berdasarkan aspek biofisik dan sosio ekonomi. Tim Teknis GIS akan melakukan analisis spasial, mendefinisikan ukuran biofisik dan sosek tersebut ke spasial dan kemudian mengembangkan kriteria keberlanjutan. Kriteria ini akan menjadi perangkat yang disepakati oleh tiga negara dan menjadi standar untuk kebijakan pemanfaatan lahan. 
 
Selain membangun kriteria keberlanjutan HoB, dalam visi membangun manajemen pemanfaatan lahan HoB yang berkelanjutan, Indonesia telah mengusulkan pengembangan Peta Visi Hijau HoB bagi tiga negara. Perangkat ini dimaksudkan untuk menjadi referensi dan panduan yang dikembangkan berdasarkan karakteristika masing-masing negara. Dengan pengaturan spasial ini diharapkan dapat membantu Inisiatif HoB menuju pengelolaan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan. Indonesia telah melangkah lebih maju dengan menyusun peta Visi Hijau HoB Indonesia.
 
Kawasan HoB yang dihuni oleh sekitar 15 juta orang berbagi Pulau Borneo yang sama kini tengah menghadapi tantangan karena tekanan terhadap lahan semakin besar karena meningkatnya permintaan untuk pemukiman, pertanian, perkebunan, kehutanan sebagaimana untuk fasilitas dan infrastruktur. Pada saat ini tiga negara memiliki perencanaan pemanfaatan lahan yang berbeda-beda, bisa saja sebuah kawasan lindung di satu negara berbatasan langsung dengan perkebunan kelapa sawit di negara tetangganya. 
 
Menyadari tantangan ini, pada pertemuan tiga negara kedua di 2008, Indonesia mengusulkan untuk mempertimbangkan kebutuhan perencanaan tataruang bagi kawasan HoB. Diskusi lebih lanjut di pertemuan tahunan HoB tahun 2009 menyepakati dibentuknya kelompok kerja yang berfokus pada perencanaan tataruang. Tim Teknis GIS HoB dibentuk pada pertemuan tahunan HoB tahun 2010. 
 
Di beberapa pertemuan tiga negara sebelumnya telah mulai didiskusikan beberapa kawasan yang potensial untuk pilot project GIS bersama yaitu Suaka Margasatwa Lanjak Entimau/ Taman Nasional Batang Ai di Malaysia dan Taman Nasional Betung Kerihun/Taman Nasional Danau Sentarum di Indonesia, Taman Nasional Gunung Mulu di Malaysia dan Hutan Konservasi Sungai Ingei di Brunei Darussalam.
GIS Technical Meeting, Jogjakarta, Anastasia Joanita
GIS Technical Meeting, Jogjakarta
© WWF-Indonesia/Anastasia Joanita Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus