Menghidupkan semangat masyarakat dataran tinggi HoB



Posted on 10 December 2013  |   |  en  |  id
Oleh: Cristina Eghenter
 
Perwakilan FORMADAT dari Indonesia dan Malaysia sedang mendengarkan pembicara yang duduk di tikar sier dan krubet  yang lembut (sejenis alang-alang) dalam Cultural Field School (CFS), di dataran tinggi Krayan. Waktu nampak bergerak lambat karena rasa kantuk yang menyerang setelah makan siang nampaknya telah mengambil konsentrasi para peserta yang hadir disana. Tiba-tiba saja dari pojok ruangan, Ellyas menabuh drum besar yang terbuat dari batang pohon palem. Dan dalam lima menit, para tokoh adat dan perwakilan dari FORMADAT telah menari mengikuti irama drum dan alat musik tradisional lainnya. Itu merupakan salah satu dari beberapa hiburan musik yang ada selama pertemuan yang dapat membangkitkan semangat serta menyegarkan kembali ingatan mengenai tradisi sekitar dan budaya masyarakat dataran tinggi HoB
 
Pada tanggal 23-24 November, FORMADAT Malaysia dan Indonesia mengadakan pertemuan tahunan mereka yang ke 8 di Krayan. Awalnya, Long Layu di Krayan Selatan menjadi tuan rumah pertemuan tersebut namun karena buruknya cuaca dan sulitnya akses melalui udara dan darat akhirnya diputuskan untuk memindah lokasi pertemuan. Dengan hanya beberapa hari tersisa sebelum perwakilan dari Malaysia tiba, pertemuan tersebut dipindahkan ke sub -distrik Krayan dan mengambil tempat di Lembudud (23 November), sementara itu makan malam dan malam budaya diadakan di Kuala Belawit, dan hari berikutnya (24 November) di Terang Baru, di CFS. Berkat kerjasama tim yang hebat dari anggota FORMADAT Krayan, pertemuan dan kegiatan tersebut dapat berjalan lancar.
 
Hadirnya perwakilan dari WWF Indonesia dan WWF Malaysia menjadikan tema pertemuan, "Kemitraan strategis bagi pembangunan berkelanjutan di dataran tinggi HoB" terasa dekat dan nyata, terutama karena nota kesepakatan antara tiga organisasi telah dibahas dan akan segera ditandatangani. Kaum perempuan FORMADAT, masih belum terlalu bersuara aktif dalam pertemuan, namun mereka turut memasak  dan melayani para peserta yang hadir, membuat suara mereka terdengar jelas kali ini dengan mengatakan bahwa mereka ingin terlibat dalam semua lokakarya dan pelatihan,serta meminta kegiatan khusus bagi kaum perempuan disana.
 
24 Oktober 2014 merupakan 10 tahun berdirinya FORMADAT. Masyarakat telah memutuskan untuk merayakan acara tersebut di Long Bawan (Krayan) dengan acara besar yang terdiri dari acara budaya, tradisi kuliner dataran tinggi, dan juga ekowisata yang ada di perbatasan. Dengan melihat kembali perjalanan selama ini, FORMADAT akan terus membentuk masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi masyarakat, sahabat serta mitra Heart of Borneo. Dengan moto barunya, perurum - selawai - meruked (menjadi satu/bersama - satu jalur/searah - selamanya), dan diiringi oleh tabuhan drum, perwakilan dari Bario, Long Semadoh, Ba' Kelalan, Long Pasia, Krayan dan Krayan Selatan menegaskan kembali semangat yang membawa mereka secara bersama-sama melintasi perbatasan internasional sebagai organisasi masyarakat yang SATU untuk mempertahankan tradisi budaya dari tanah leluhur, menjaga lingkungan yang ada di dataran tinggi, serta mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
JonCharles, FORMADAT, WWF Indonesia, Heart of Borneo, HoB 2013
Rapat tahunan FORMADAT, 23-24 November 2013 di Krayan
© JonCharles/FORMADAT/WWF-Indonesia Enlarge
Cristina eghenter, FORMADAT, Heart of Borneo, HoB, 2013
Pertemuan tahunan FORMADAT di Krayan
© WWF-Indonesia/Cristina Eghenter Enlarge
FORMADAT, Edwin Meru, Heart of Borneo, HoB, 2013
Para peserta di pertemuan tahunan FORMADAT ke 8, 23-24 November 2013
© Edwin Meru/FORMADAT/WWF-Indonesia Enlarge

Comments

blog comments powered by Disqus