Conservation Planning

Perencanaan Konservasi

Langkah-langkah kedepan yang telah dipikirkan beberapa NGO, termasuk WWF-Indonesia mengenai wilayah Tesso Nilo di Riau dititik beratkan pada usaha-usaha untuk menjaga supaya dapat seluas mungkin mempertahankan daerah tersebut tetap berupa hutan dan membuatnya menjadi kawasan lindung.

Langkah-langkah kedepan yang telah dipikirkan beberapa NGO, termasuk WWF-Indonesia mengenai wilayah Tesso Nilo di Riau dititikberatkan pada usaha-usaha untuk menjaga supaya dapat seluas mungkin mempertahankan daerah tersebut tetap berupa hutan dan membuatnya menjadi kawasan lindung.

Pandangan ini dituangkan dalam apa yang di Riau dikenal sebagai Tesso Nilo Bukit Tigapuluh Landscape (TNBTL), atau Lansekap (Kawasan) Bukit Tigapuluh Tesso Nilo. TNBTL mencakup daerah seluas kira-kira 2 juta hektar termasuk blok terbesar hutan dataran rendah yang masih tersisa, yang sekarang dikenal sebagai Usulan Taman Nasional Tesso Nilo.

Lansekap TNBT mencakup Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang sudah lebih dulu diresmikan; Lansekap TNBT terletak di dalam sebuah wilayah multi guna seluas 2 juta hektar yang dibatasi oleh empat kawasan lindung yang sudah ada yaitu Bukit Rimbang, Bukit Baling, Bukit Bungkuk dan Kerumutan, dan kawasan lindung yang saat ini sedang diusulkan menjadi taman nasional yaitu Tesso Nilo. Total area hutan dalam kawasan lindung ini adalah 600.000 hektar. Daerah usulan Taman Nasional Tesso Nilo merupakan salah satu kawasan yang memiliki keanekaragaman tanaman paling tinggi di dunia dan merupakan suaka bagi gajah Sumatera yang terancam keberadaannya dan kemungkinan juga bagi harimau Sumatera di Sumatera tengah.

Keprihatinan untuk melindungi kawasan ini muncul karena wilayah ini menghadapi ancaman berupa: (1) perhatian besar-besaran dari dunia industri terhadap hutan dataran rendah, seperti misalnya bahwa tingkat perubahan atau konversi hutan lindung menjadi wilayah budidaya terjadi dengan sangat cepat, terutama upaya-upaya berdasarkan hukum untuk merubah status dan fungsi hutan lindung menjadi perkebunan kelapa sawit dan area hutan produksi terbatas, dan (2) arus pembalak-pembalak liar yang mengikuti jalur industri ini

Upaya nyata yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan Proyek Pengelolaan Taman adalah membuat Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Riau lebih ramah terhadap lingkungan, memastikan bahwa wilayah tersebut mempunyai sistem penunjang kehidupan yang berkelanjutan, termasuk mempertahankan fungsi wilayah tersebut sebagai pengatur sumber daya air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, dan menjaga kesuburan tanah.

Draft Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau 2001-2015 saat ini sedang dibuat untuk merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau 1994-2009. Pada saat yang sama Pemerintah Provinsi Riau juga sedang mengembangkan sebuah rencana sektor bisnis yang disebut Riau Master Plan 2020 yang berisi arah peruntukan tanah bagi pengembangan bisnis sampai tahun 2020. Sebuah studi yang dilakukan WWF Indonesia menunjukkan bahwa kedua dokumen tersebut akan menghasilkan sebuah kebijakan yang tidak berpihak pada masalah lingkungan dalam konteks untuk kepentingan konservasi kawasan hutan dataran rendah di Riau, juga bahwa kedua dokumen tersebut bertentangan dengan arah program pembangunan nasional.

Pada saat ini WWF-Indonesia Proyek Tesso Nilo terlibat dalam proses revisi draft final Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau dengan jalan memberikan masukan-masukan teknis kepada Pemerintah Provinsi Riau. Hal-hal tersebut disampaikan dalam sebuah dokumen Usulan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau dengan perubahan-perubahan yang lebih ramah lingkungan. Hal ini akan menghasilkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau yang lebih ramah lingkungan, dan dengan demikian juga menghasilkan perlindungan yang lebih kuat dan lebih baik bagi kawasan Hutan Lindung Tesso Nilo dan juga mendukung Taman nasional Bukit Tigapuluh.