Cendrawasih
Taman Nasional Teluk Cendrawasih
Species penting yang terdapat dalam kawasan diantaranya Dugong (Dugong dugon), Whale shark (Rhincodon typus), Sperm Whale (Physeter catodon), Sun Fish (Mola mola), Burung Junai mas (Chaleonas nicobarica) dan empat dari tujuh jenis penyu laut yang terdapat di perairan Indonesia.
Di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, WWF-Indonesia bekerja untuk menstabilkan perencanaan dan pemanfaatan wilayah dengan mendukung sepenuhnya implementasi monitoring terhadap keseluruhan aspek-aspek biologi dan pemanfaatan sumberdaya alam. WWF juga bekerja memastikan munculnya kesadaran bersama untuk menekan tindakan ilegal dan destruktif fishing.
Sebuah rapid ecological assesment yang dilakukan oleh Conservation International sebagai bagian dari program pengelolaan berbasis ekosistem (Ecosystem Based Management) dari bentang Laut Kepala Burung (Bird Head Seascape) menunjukkan beberapa pola keanekaragaman hayati laut yang kaya. Hasil penelitian ini juga akan digunakan sebagai bahan dalam menetapkan zonasi dimasa mendatang.
Setelah dicapainya kesepahaman kerjasama (MOU) pengelolaan kawasan Teluk Cenderawasih bersama Kabupaten Teluk Wondama, maka pada akhir Tahun 2008 ditandatangani nota kesepahaman (MOU) antara WWF-Indonesia dan Universitas Negeri Papua untuk penelitian dan pengembangan di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan kawasan yang lebih luas dalam konteks EBM.
WWF mengindentifikasi wilayah SPAG di Pulau Nusambier, Pulau Auri dan mengusulkannya sebagai zona bahari yang memerlukan proteksi dan kerjasama dari berbagai pihak untuk ikut serta menjaga wilayah ini. Sepanjang periode Oktober hingga November 2008, tim patroli Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih menemukan jejak penyu di Pulau Wairundi. Jejak itu membantu pelacakan jejak migrasi penyu yang menjadi perhatian dari konservasi penyu di dunia. WWF-Indonesia juga mendorongkan penegakan hukum terhadap pelaku illegal perdagangan satwa laut dilindungi sebagai bentuk dari komitmen konservasi yang telah dilaksanakan.
Dukungan komunitas lokal merupakan apresiasi warga terhadap gerakan konservasi di kawasan perlindungan laut.
